Salah satu contoh pertanyaan konselor pada teknik ini seperti, “Andaikan saja nanti malam, ketika anda tertidur dan suatu keajaiban terjadi dan semua masalah yang anda bawa ke sini terselesaikan begitu saja. Tapi karena itu adalah keajaiban yang terjadi di malam hari, maka tak seorang pun bisa menjelaskan pada anda apa yang sebenarnya terjadi. Ketika anda bangun dipagi harinya, bagaimana anda akan mulai mengetahui apa yang telah terjadi? Apalagi perubahan yang anda kenali?” Yakni anak ingin berhenti merasa terus dipersalahkan dan orang tua menginginkan anaknya berhenti berperilaku buruk. Dalam teknik miracle question terutama membantu dalam menetapkan tujuan, meskipun teknik ini dapat digunakan kapan pun juga di sepanjang terapi.
Ketika digunakan untuk menetapkan tujuan, ia dapat membantu mengembangkan deskripsi-deskripsi yang jelas dan konkret tentang apa yang diharapkan klien untuk dicapai dari konseling. Miracle question lebih bernilai jika konselor membiarkannya berkembang secara alamiah dalam sesi (Stith et al.,2012). Ketika menggunakan teknik ini, penting bahwa konselor menghindari menyelesaikan masalah untuk klien, bersikap sabar dan membantu klien memahami bagaimana cara menjembatani kesenjangan antara miracle question dan keyakinan bahwa perubahan sebenarnya mungkin terjadi. Jadi dalam hal ini, guru BK atau konselor mengarahkan peserta didik atau konseli ke arah sasaran positif yang difokuskan pada dirinya. Selain itu konselor mengarahkan konseli ke tujuan perilaku dan tujuan berorientasi-tindakan. Sehingga mengupayakan mengubah ketiadaan sesuatu menjadi ada. Teknik miracle question bukan hanya sangat berguna dalam mengidentifikasi solusi dan membentuk tujuan-tujuan konkret, tetapi juga bermanfaat untuk digunakan dengan klien-klien yang tampaknya sudah kehilangan optimisme atau harapan untuk masa depan yang lebih baik. Klien sering kali menjadi keras secara emosional dan bertahan pada perasaan, pikiran dan perilakunya sekarang.
Teknik miracle question dapat dikombinasikan dengan teknik scaling sehingga klien dapat mendeskripsikan suatu rencana dan seperti apa perubahan yang dihasilkan, perubahan kecil, sedang atau sudah optimal sesuai harapan. Dengan kata lain skenario perubahan sikap dan perilaku yang diharapkan dapat dideskripsikan dengan skala 1 sampai 10.
Evaluasi menjadi umpan balik secara berkesinambungan bagi semua tahap pelaksanaan program konseling. Evaluasi bertujuan untuk memperoleh data yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan, baik untuk perbaikan maupun pengembangan program di masa yang akan datang. (pai1/lis)
Guru BK SMP Negeri 1 Siwalan Editor : Agus AP