RADARSEMARANG.ID, Ungaran - Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Bumi Serasi Kabupaten Semarang sudah 13 tahun tidak ada kenaikan harga tarif. Saat ini tarif air bersih masih di angka Rp 4.500 per kubik.
Namun harga beli air baku dari PT Sarana Tirta Ungaran saat ini sudah mencapai Rp 3.600 per kubik.
Direktur Utama Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Bumi Serasi Kabupaten Semarang Guswakhid Hidayat mengatakan sudah mengusulkan penyesuaian tarif air bersih.
Tarif ideal yang diajukan sebesar Rp 5.500 per meter kubik. Ya dengan perkiraan naik Rp 1.000 dari rata-rata tarif jual.
Baca Juga: Laku Tumbuh, 700 Siswa dari 12 Sekolah Belajar dan Berbagi Bersama
Pihaknya juga menyebutan kenaikan tersebut mendesak karena harga air baku dari PT STU (Sumber Tirta Ungaran) terus naik setiap tahun, sementara tarif PDAM ke pelanggan tidak pernah naik sejak 2013.
"Idealnya Rp 5.500. Tapi kenapa sampai saat ini masih bertahan di angka Rp 4.000-an. Ya karena kebijakannya belum ada kenaikan tarif. Belum bisa menaikkan dengan alasan kondisi masyarakat,"ungkapnya. Kamis (8/10).
Harga tarif saat ini untuk harga tanpa pemakaian di lingkungan sosial Rp 18.200, rumah tangga terendah Rp 27.150 dan rumah tangga tertinggi Rp 43.300.
Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Bumi Serasi Kabupaten Semarang sendiri memiliki 58 ribu pelanggan.
Berkaitan dengan kenaikan Guswakhid menekankan yang diusulkan naik adalah kelompok rumah tangga 3 dan rumah tangga empat.
Secara akumulasi, kenaikan dari rata-rata Rp 4.500 menjadi Rp 5.500 hanya sekitar 8 hingga 10 persen dari total pendapatan, namun sangat berpengaruh untuk kesehatan perusahaan.
Sesuai Permendagri, evaluasi dan penyesuaian tarif idealnya dilakukan per dua tahun sekali. Namun PDAM Kabupaten Semarang sudah 13 tahun belum ada penyesuaian tarif. PDAM berharap pada 2027 bisa ada penyesuaian tarif agar perusahaan tetap sehat dan pelayanan tetap maksimal.
"Rencana kenaikan untuk kelas yang tinggi. Kalau masyarakat rendah dan sosial tidak naik. Kita sudah melakukan perhitungan tarif. Keputusan ada di Kepala Daerah,"pungkasnya.(ria)
Editor : Baskoro Septiadi