RADARSEMARANG.ID, Ungaran - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Semarang klaim ada 184 desa yang rawan bencana. Di Kabupaten Semarang masih terbilang tinggi untuk kerawanan bencananya. Di 19 kecamatan semuanya memiliki potensi bencana yang berbeda-beda.
Mitigasi pun terus digalakkan salah satunya dengan adanya desa tangguh bencana atau destana. Destana tersebut melibatkan masyarakat, relawan hingga perangkat desa dan kecamatan yang dilatih untuk mengurangi resiko dampaknya pada bencana yang terjadi diwilayahnya.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Semarang Alexander Gunawan Tribiantoro mengatakan sebelumnya di tahun 2024 berhenti hanya di 24 destana.
BPBD Kabupaten Semarang harus terus mengejar untuk membereskan sisanya yang cukup banyak. Ketika dalam satu tahun hanya tiga desa sampai 60 tahun kedepan pun diungkapkan Alex belum selesai.
Selama empat hari masyarakat dikenakan potensi bencana yang sering terjadi, mengenali resikonya hingga menyusun rencana aksi ketika bencana terjadi lengkap dengan simulasi bencana tersebut.
"Inovasi dari destana ini penting. Tentunya untuk mengetahui potensi hingga menekan resiko dampaknya. Yang semula 24 desta kita kejar sampai 2026 data kami dengan SK dan dokumen ada 116 desa. Klaster siaga bencana pun juga sudah dilakukan. Tujuannya untuk mewujudkan resiliensi bencana di daerah,"ungkapnya saat ditemui. Rabu (22/7).
BPBD juga terus melakukan inovasi lewat SADEWA. Sistem Aplikasi Deteksi, Edukasi, dan Waspada Bencana didalam aplikasi tersebut BPBD memudahkan masyarakat untuk memantau potensi bencana di daerahnya. Bisa lapor ketika wilayahnya ada bencana, hingga bisa mengetahui penanganan bencana yang dilakukan BPBD.
Kemudahan teknologi untuk melaporkan bencana lewat aplikasi ini dinilai BPBD bisa memangkas waktu. Penanganan yang dilakukan juga akan lebih cepat.
"Pelayanan kita pun juga terpantau langsung oleh masyarakat. Penanganan bencana itu kan harus cepat dan tepat. Sistem penanganannya pun tidak mengeluarkan biaya,"pungkasnya.(ria)
Editor : Baskoro Septiadi