RADARSEMARANG.ID, UNGARAN — Menurunnya minat generasi muda menjadi petani mendorong Pemerintah Kabupaten Semarang mengambil langkah intervensi pendidikan sejak dini. Melalui Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan (Dispertanikap), pemerintah daerah akan menerjunkan 119 penyuluh pertanian ke sekolah-sekolah untuk memberikan literasi pertanian secara langsung kepada siswa.
Program ini resmi disiapkan melalui penandatanganan MoU antara Dispertanikap dan Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Semarang sebagai dasar hukum pelaksanaan “Penyuluh Masuk Sekolah” dan “Pangan Lestari”.
Kepala Dispertanikap Kabupaten Semarang, Moh Edy Sukarno, mengatakan langkah ini diambil sebagai respons atas data yang menunjukkan dominasi petani berusia di atas 40 tahun mencapai 77,6 persen, sementara petani milenial hanya 11,8 persen.
“Rumah tangga usaha pertanian terus berkurang setiap 10 tahun. Karena itu kami masuk ke sekolah untuk memberi literasi pertanian dengan cara yang menyenangkan,” ujarnya, Senin (22/6).
Baca Juga: Bupati Pati Non Aktif Sudewo Kembali Disidang, Dakwaan Korupsi dan Pemerasan Masuki Babak Krusial
Menurut Edy, penyuluh akan memberikan edukasi dan praktik sederhana di SD hingga SMP, baik negeri maupun swasta. Tujuannya adalah membangun ketertarikan siswa terhadap sektor pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Ia juga menegaskan bahwa persoalan utama rendahnya minat bertani terletak pada sumber daya manusia dan persepsi bahwa profesi petani tidak menjanjikan kesejahteraan. Padahal, menurutnya, dengan dukungan teknologi modern, sektor pertanian masih memiliki peluang besar.
“Ini bukan sekadar program, tapi upaya membangun kembali mindset generasi muda terhadap pertanian,” tegasnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Semarang, M Taufiqurrahman, menyebut program ini akan diintegrasikan ke dalam kegiatan kokurikuler di sekolah.
Ia menjelaskan, kegiatan kokurikuler merupakan pembelajaran di luar jam pelajaran utama yang terstruktur untuk memperdalam pemahaman siswa, sekaligus mendukung pembentukan karakter dan kompetensi.
“Harapannya bisa masuk kokurikuler karena sudah memiliki alokasi jam dan tercatat dalam kurikulum satuan pendidikan,” katanya.
Program ini melengkapi sejumlah kegiatan pendidikan berbasis lingkungan dan karakter yang sudah berjalan, seperti sekolah Adiwiyata, sekolah ramah anak, hingga sekolah mitigasi bencana.
Dengan masuknya materi pertanian ke sekolah, Pemkab Semarang berharap lahir generasi muda yang tidak hanya mengenal teori pangan, tetapi juga tertarik untuk terjun langsung ke sektor pertanian di masa depan. (ria)
Editor : Baskoro Septiadi