Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Benteng Willem I Ambarawa Sudah Dibuka, Jadi Magnet Baru Kabupaten Semarang

Maria Novena Sinduwara • Selasa, 18 November 2025 | 02:12 WIB

Bupati Semarang Ngesti Nugraha bersama Wakil Bupati Semarang Nur Arifah saat meresmikan sekaligus membuka Benteng Willem I Ambarawa. Senin (17/11). Maria Novena/Jawa Pos Radar Semarang
Bupati Semarang Ngesti Nugraha bersama Wakil Bupati Semarang Nur Arifah saat meresmikan sekaligus membuka Benteng Willem I Ambarawa. Senin (17/11). Maria Novena/Jawa Pos Radar Semarang
 

RADARSEMARANG.ID, Ungaran - Bupati Semarang Ngesti Nugraha bersama Wakil Bupati Semarang Nur Arifah secara resmi membuka kembali Benteng William I Ambarawa yang telah selesai revitalisasi tahap pertama.

Wajah baru Benteng Willem I Ambarawa ini tentunya sudah ditunggu masyarakat. Penataan tempat bersejarah ini menelan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 sebesar Rp 156,907 miliar.

Bangunan yang ada sejak 1834 tersebut memang sudah saatnya memerlukan revitalisasi.

Dari kejauhan, bangunan kolonial berarsitektur klasik Eropa itu tampak memancarkan cahaya kuning hangat dari lorong-lorong arcadenya.

Dinding putihnya berkilau, seolah memperlihatkan wajah baru benteng yang selama bertahun-tahun hanya dikenal sebagai bangunan tua terbengkalai di sudut Ambarawa.

Benteng peninggalan abad ke-19 itu terbuka gratis untuk umum selama akhir pekan, satu hari sebelum dibuka secara resmi pada Senin (17/11).

Meski sebagian wilayahnya masih menjadi area Lapas Kelas IIA Ambarawa, bagian utara yang telah direvitalisasi berubah total menjadi ruang sejarah yang hidup.

Begitu melewati gerbang lengkung yang kokoh, pengunjung disambut lorong-lorong panjang dengan deretan jendela melengkung berbingkai coklat tua.

Dulu, lorong ini tampak gelap, beraroma lembap, dan hanya batu bata merah yang terlihat.

Kini, revitalisasi membuatnya tampak seperti bangunan Eropa klasik dengan tekstur asli yang tetap dipertahankan.

Di beberapa sudut, dinding bata yang sengaja dibiarkan terlihat menjadi penanda usia dan otentisitas.

Ada spot yang membuat wisatawan berhenti dan mengangkat kamera ponsel adalah jalur ikonik yang diapit dua bangunan besar, A8a dan A9.

Jalan yang dulunya berupa tanah becek kini telah dipasang lantai batu yang licin mengkilap karena hujan, menciptakan pantulan cahaya yang membuat tempat itu tampak seperti set film sejarah. 

Bupati Semarang Ngesti Nugraha mengatakan lokasi Benteng Willem I Ambarawa ini sangat strategis.

Heritage yang disuguhkan dinilai Ngesti luar biasa lengkap dengan view alamnya.

Nantinya pun diungkapkan Ngesti ada tempat khusus untuk menjual oleh-oleh khas Kabupaten Semarang hingga Jawa Tengah. 

"Benteng Willem I Ambarawa ini sudah dibuka lagi setelah revitalisasi. Wisata heritage yang luar biasa lengkap dengan view alamnya dan nanti dilengkapi juga dengan tempat oleh-oleh, becak listrik sehingga wisatawan betah disini,"ungkapnya. 

Ngesti juga menyampaikan nantinya di wilayah area Benteng Pendem Ambarawa juga ada exit tol. Tentu hal tersebut menguntungkan akses yang mudah dijangkau.

Revitalisasi tahap ke dua pun rencananya juga akan dilakukan. Ngesti berharap tak hanya wisata haritage yang disuguhkan.

Wisata edukasi di bidang pertanian pun bisa menjadi pengembangan kedepan.

"Wisata edukasi di bidang pertanian bisa juga ditambahkan. Nanti untuk anak-anak kita belajar dengan pertanian,"tambahnya.

Proses panjang di balik wajah baru benteng ini dijelaskan oleh Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Semarang, Tri Subekso.

Dia mengaku bahwa revitalisasi dilakukan dengan sangat hati-hati dan tetap mengedepankan prinsip pelestarian cagar budaya.

Revitalisasi ini tidak sekadar mempercantik, tetapi mengembalikan bentuk otentik Fort Willem I sebagaimana aslinya.

Tri menyebutkan, terdapat sekitar 30 bangunan di dalam kompleks benteng, masing-masing dengan kondisi kerusakan berbeda yang memerlukan teknik pemulihan khusus.

"Kami menutup dinding yang terkelupas dengan plester khusus sesuai rekomendasi. Bahannya kami sesuaikan agar menyerupai aslinya, bukan bangunan baru yang meniru,"jelasnya.

Pihaknya berharap masyarakat dapat memahami proses revitalisasi yang dilakukan, tidak hanya mempercantik namun juga mengembalikan ke bentuk aslinya sesuai hasil penelitian.

"Kalau ada yang mengkritik kenapa ada bangunan yang temboknya berwarna putih, justru hasil penelitian menunjukkan bahwa aslinya memang seperti itu,"pungkasnya.(ria)

Editor : Baskoro Septiadi
#Benteng Willem I #AMBARAWA