RADARSEMARANG.ID - Di kaki Gunung Ungaran, tepatnya di Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, tersimpan sebuah kuliner khas yang kini semakin dikenal luas, yakni keripik gadung.
Camilan ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa ini sejak lama.
Banyak masyarakat, khususnya ibu rumah tangga yang turut andil sebagai pengrajin keripik gadung tersebut.
Baca Juga: Kelurahan Karangayu Unggulkan Usaha Keripik Singkong Warga
Ibu Munisih, salah seorang pengrajin keripik gadung yang telah berkecimpung dalam usaha ini selama bertahun-tahun.
“Awalnya keripik ini hanya camilan rumahan, tetapi sekarang sudah menjadi salah satu kuliner desa,” ungkap Ibu Munisih pada (14/8).
Gadung, umbi-umbian yang terkenal mengandung racun jika tidak diolah dengan benar, memerlukan proses pengolahan yang cermat dan teliti.
Ibu Munisih menjelaskan proses untuk mengolah gadung sangatlah panjang dan memerlukan waktu berhari-hari.
Dimulai dari pengupasan umbi gadung yang kemudian diiris tipis dan dilumuri abu.
Irisan-irisan ini kemudian ditata dalam wadah berlubang dan diberi beban batu selama semalam, sebuah metode tradisional untuk mengeluarkan racun dari umbi.
keriBaca Juga: Oleh-oleh Khas Keripik Tempe Rohani Sukses Kembangkan Usaha Berkat Pinjaman BRI
Keesokan harinya, irisan gadung dijemur hingga kering, dilanjutkan dengan perendaman selama dua hari dua malam.
Perendaman ini diiringi dengan penggantian air secara rutin untuk memastikan racun benar-benar hilang.
Tahap selanjutnya dilakukan perebusan irisan umbi dengan racikan bumbu khas, memberikan cita rasa unik pada keripik gadung Desa Nyatnyono.
Setelah perebusan, irisan tipis umbi kembali dijemur hingga benar-benar kering.
Baru setelah proses pengeringan sempurna inilah, keripik gadung siap digoreng hingga renyah dan dapat dinikmati.
Setiap tahap berperan penting dalam menghilangkan racun serta menciptakan tekstur dan rasa khas keripik gadung Desa Nyatnyono.
Baca Juga: Sulap Daun Sirih Jadi Keripik sampai Sabun Mandi
Keunikan rasa dan tekstur keripik gadung ini memikat banyak pecinta kuliner.
Selain diperjualbelikan kepada tetangga, pemasaran produk ini juga memanfaatkan objek wisata religi setempat, yakni makam Wali Mbah Hasan Munadi.
Pengrajin menjajakan dagangannya berupa keripik gadung mentah dan matang kepada para peziarah.
Baca Juga: Bermodal Pinjaman BRI, Wanita Ini Sukses Membangun Bisnis Keripik di Nabire
Kesuksesan keripik gadung ini memberikan dampak positif bagi perekonomian Desa Nyatnyono.
Banyak warga yang kini terlibat dalam rantai produksi, mulai dari petani gadung hingga pengrajin keripik.
Meski sudah dikenal luas, Ibu Munisih dan para pengrajin keripik gadung di Desa Nyatnyono terus berupaya meningkatkan kualitas produk mereka.
Baca Juga: Belajar Mengolah Kulit Singkong menjadi Keripik dengan Eksperimen
"Saya berharap keripik gadung bisa semakin dikenal baik di Semarang maupun di luar daerah," ungkap Ibu Munisih optimis. (mg1/bas)
Editor : Baskoro Septiadi