RADARSEMARANG.ID - Upaya pelestarian tarian Topeng Gecul khas Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang terus dilakukan. Salah satunya mengajak generasi muda untuk ikut bermain dan pentas.
Ketua Paguyuban Tari Topeng Gecul, Turut Sukardi mengatakan tarian Topeng Gecul sudah lama dilestarikan di Desa Ngrawan. Sudah bertahun-tahun tarian tersebut bertahan hingga sekarang.
"Ini menjadi salah satu potensi atau kekayaan di desa kami, maka dari itu kita perlu melestarikannya," katanya Kamis (23/5).
Topeng Gecul merupakan tarian komedi atau guyonan untuk menghibur prajurit dan raja pada era kerajaan Mataram Hindu atau Mataram Kuno.
Menariknya para penari menggunakan topeng dengan berbagai mimik atau ekspresi wajah yang lucu.
Baca Juga: Warga Ingin Benteng Pendem Fort Willem I Ambarawa Jadi Pusat Pariwisata
"Tarian ini juga sebagai bentuk rasa syukur terutama di bulan Rajab. Karena bulan Rajab merupakan bulan kelahiran tarian Topeng Gecul," ungkapnya.
Biasanya tarian Topeng Gecul dipentaskan sesuai dengan undangan dari warga. Tetapi juga terdapat waktu-waktu tertentu seperti bulan Rajab untuk melakukan pentas.
"Sebenarnya tarian ini gerakannya cukup sederhana dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Selain itu pengiring musiknya juga dari kentongan maupun gamelan sederhana," jelasnya.
Sukardi menyebutkan tidak sulit untuk mengajarkan tarian Topeng Gecul ke anak muda saat ini.
Karena menurutnya generasi muda terutama di Desa Ngrawan sangat antusias dalam mengikuti latihan ataupun pementasan.
"Banyak generasi muda yang rasa penasarannya besar dan terkadang hal tersebut yang membuat mereka antusias untuk ikut berlatih," bebernya.
Sementara itu, Camat Getasan, Slamet Widodo menyampaikan pihaknya terus fokus untuk melestarikan kearifan lokal yang ada di Getasan khususnya di Desa Ngrawan.
Selain itu pemugaran dan perawatan peninggalan-peninggalan bersejarah juga terus dilakukan.
"Sehingga kearifan lokal tersebut bisa terus bertahan hingga generasi di masa yang akan datang. Dan masyarakat juga antusiasnya luar biasa untuk nguri-nguri kebudayaan," jelasnya. (nun/ton)
Editor : Baskoro Septiadi