RADARSEMARANG.ID - Di suatu sudut Kota Ungaran, tepatnya di Bergas, sebuah wilayah yang terletak di selatan Ibukota Semarang.
Terdapat sebuah gereja tua menarik perhatian yang tertutup oleh rimbunnya tanaman pada sisi jalan raya utama yang menyambungkan Semarang-Solo.
Gereja ini merupakan salah satu peninggalan Belanda pada masa kolonial sekitar tahun 1932, dan menjadi tombak awal penyebaran agama Katolik di wilayah Ungaran dan sekitarnya.
Disebutkan dalam buku De Katholieke Missie awalnya para pemeluk agama Katolik di Bergas ini hanya sekitar 99 orang, itupun masih termasuk jemaat yang berada di Ungaran.
Namun kemudian berkembang terutama pada saat Hari Raya Paskah gereja ini menerima Komuni mencapai 38 orang.
Disebutkan pada awal berkembang, Pastor G. Schmedding mulai mengajar katekismus kepada para karyawan kolese ini.
Tanggapan warga sekitar terutama warga Karangjati masih minim, namun menurut Pastor Schmedding para warga yang tinggal jauh di pelosok lebih memberi tanggapan baik.
Setelah itu Pastor Schmedding pun memulai pembaptisan dan merintis buku permandian di Girisonta sebagai awal kelahiran gereja ini pada tahun 1932.
Disebutkan bahwa pembaptisan pertama yang dilakukan di Gereja Girisonta dilakukan oleh warga lokal asal Desa Jatirunggo bernama Theresia Soetara Kasijati dan Adriana Siti Roemsari yang merupakan ibu dan anak pada 17 April 1932.
Awal Kedatangan Jepang
Sama seperti negara-negara lain yang berada di Asia Tenggara, kedatangan Jepang yang serentak membuat negeri ini kocar-kacir.
Hindia Belanda dibawah Pemerintah Kolonial Kerajaan Belanda turut tunduk dibawah Kekaisaran Jepang yang sedang merangsek Asia Tenggara imbas kemenangannya di Pearl Harbour.
Baca Juga: Kisah Gunung Ungaran Sebagai Kerangkeng Sekaligus Petilasan Prabu Dasamuka yang Dijaga Hanoman
Setelah berbagai perlawanan yang dilakukan militer Belanda pada Jepang, Jawa pun berhasil berhasil ditaklukkan dan menjadi salah satu koloni Jepang pada tanggal 8 Maret 1942.
Setelah kekuasaan Jepang, Gereja Girisonta yang terletak di jalur utama yang menyambungkan dua kota besar yakni Semarang dan Solo juga tak lepas dari kekejaman Jepang.
Dalam kurun waktu 1939 sampai 1945, Girisonta sempat merasakan imbas dari kedatangan 'Dai Nippon' ke Tanah Jawa.
Seluruh kegiatan keagamaan dihentikan, banyak pastor yang ditangkap dan ditawan oleh Jepang, tidak ada Romo yang bisa memperhatikan umat Katolik di daerah tersebut.
Menjelang Kemerdekaan suasana di Girisonta justru makin menjadi kacau, seluruh penghuni Girisonta ditahan di penjara dan diangkut ke Magelang, Novisiat sementara pun menetap di Muntilan.
Kekosongan ini membuat Girisonta menjadi sasaran para perampok yang menjarah sebagian barang milik Gereja Girisonta, seperti perpustakaan yang lenyap, tabernakel dan berbagai perabot rumah tangga lain.
Setelah itu, dalam beberapa waktu wilayah rumah utama Gereja Girisonta dijadikan markas oleh Tentara Republik Indonesia (TRI) sebelum berganti nama menjadi TNI.
Pastor Ignatius Haryadi beserta Bruder N. Kardis pada 4 September 1947 tiba kembali ke Girisonta dan mendapati bahwa hanya tinggal tersisa kerangka rumah.
Keduanya pun membersihkan serta membenahi bangunan tersebut menjadi dua kamar dan sebuah kapel, yakni gereja kecil yang biasanya dipakai untuk peribadatan dan persekutuan oleh Umat Kristiani.
Tidak jauh dari rumah, Pastor Ignatius juga menemukan peti besi yang kemudian dipakai menjadi tabernakel untuk Gereja Girisonta.
Selain itu lonceng gereja yang nonaktif selama beberapa waktu kini diaktifkan lagi dengan bantuan sumbangan sebuah tali dari Lurah setempat.
Angelus pun kembali bergema tiap hari pada pagi, siang, dan sore menandakan Gereja ini mampu bangkit dari abu setelah pendudukan Jepang di Hindia Belanda.
Source : Paroki Girisonta.
Editor : Baskoro Septiadi