RADARSEMARANG.ID - Memiliki landscape pemandangan yang mengagumkan, Ibukota Kabupaten Semarang yaitu Kota Ungaran juga menyimpan berbagai kisah menarik.
Kota yang berada di sisi selatan dari Kota Semarang ini merupakan wilayah yang berada di perbukitan dan juga penghubung antara dua kota besar yakni Kota Semarang dan Kota Solo.
Kota Ungaran juga terkenal memiliki sebuah Gunung dengan nama yang sama, Gunung Ungaran. Puncaknya berada di ketinggian 2.050 Mdpl.
Puncak dari gunung ini ada tiga, yakni Puncak Gendol, Puncak Botak dan Puncak Ungaran, dengan Puncak Ungaran menjadi titik tertinggi dari gunung ini.
Gunung ini merupakan jenis gunung Stratovolcano yang hampir sebagian sudah terkikis habis, namun para peneliti masih berpendapat bahwa gunung ini masih memiliki potensi aktivitas volkanik sewaktu-waktu.
Diperkirakan Gunung Ungaran juga pernah meletus dengan dahsyat pada masa kerajaan-kerajaan di Nusantara masih berkuasa sehingga meninggalkan bentuk yang hanya tersisa seperti seperempat bagian dari gunung purba ini.
Ramayana Dan Gunung Ungaran
Menurut mitos yang berkembang di masyarakat, sebuah cerita turun-temurun dari generasi ke generasi turut mewarnai keagungan dari Gunung Ungaran.
Disebutkan bahwa saat terjadi Perang Ramayana, suatu masa dimana Rama, Ksatria perwujudan Dewa Wisnu dari Ayodhya terlibat dengan peperangan melawan Raja Alengka bernama Rahwana dalam sebuah epos agung tentang cinta yang klasik.
Rahwana yang begitu terobsesi mencintai Shinta, merencanakan sebuah penculikan kepada Shinta dari tangan Rama untuk diboyong ke kerajaannya.
Dengan dibantu oleh pasukan kera pimpinan Hanoman yang menjadi tangan kanan dari Rama, aliansi ini merangsek Kerajaan Alengka untuk kembali memboyong Shinta kembali ke Ayodhya bersama Rama.
Perang ini berlangsung dengan sengit, Rahwana yang memiliki kesaktian Aji Pancasona yakni sebuah kemampuan untuk tidak bisa dibunuh selama jasadnya masih berada di tanah berhasil meneror dan membuat ngeri Rama dan pasukan keranya.
Bersama pasukan raksasa elit buatannya, Rahwana atau disebut Dasamuka karena perubahan wujud raksasanya yang berkepala dan bertangan sepuluh.
Dalam bahasa Sansekerta , Dasamuka berarti raksasa berwajah sepuluh, yakni perpaduan kata dari Dasa yang berarti Sepuluh dan Muka yang berarti wajah.
Dengan kekuatan yang begitu besar, Dasamuka bahkan juga berhasil beberapa kali memukul mundur pasukan Rama, berikut dengan Hanoman hingga Jatayu, sebuah entitas berbentuk elang yang merupakan makhluk setengah dewa.
Tak menyerah, dikisahkan akhirnya Rama berhasil membunuh sang Raksasa dengan sebuah panah sakti milik Rama bernama Gunawijaya.
Setelah terbunuhnya Raja Alengka ini, Hanoman menimbun jasad dari sang raksasa ini menggunakan tumpukan tanah yang disebut menjadi cikal-bakal Gunung Ungaran.
Menurut mitos masyarakat sekitar, di sekitar lokasi Candi Gedong Songo yang berada di lereng Gunung Ungaran terdapat sebuah kawah berbau belerang yang disebut merupakan makam dari Dasamuka.
Dasamuka yang diceritakan sangat suka mabuk minuman keras dikubur oleh Hanoman di wilayah ini, dan disebut-sebut bisa bangkit jika mencium bau alkohol di sekitar wilayah tersebut.
Dengan kata lain, saat masyarakat semakin membiarkan peredaran alkohol dan kegiatan maksiat di sekitar area tersebut akan sewaktu-waktu membangkitkan hawa nafsu Dasamuka yang sedang tertidur panjang.
Tak jauh dari Gunung Ungaran, Hanoman yang berhasil mengubur Dasamuka berdiam diri dan memantau Dasamuka dari Gunung Telomoyo untuk mengawasi sang raksasa yang bisa bangkit sewaktu-waktu.
Source: Ensiklopedia Dunia Universitas Stekom, merbabu.com, Museum Ullen Sentanu.
Editor : Baskoro Septiadi