RADARSEMARANG.ID, Tuntang - Permasalahan minimnya petani muda yang ada di Kabupaten Semarang saat ini masih belum bisa teratasi secara penuh.
Upaya-upaya untuk menarik minat anak muda untuk masuk ke pertanian harus dari desa.
Hal tersebut juga dirasakan di Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang. Dimana di Kesongo sendiri memiliki sekitar 60 hektar lahan pertanian dan 28 hektare diantaranya tidak produktif.
Kepala Desa Kesongo, Supriyadi mengungkapkan rata-rata petani yang ada di Kesongo berusia 40 tahun keatas bahkan mencapai 40 persen. Dan yang berusia 40 tahun kebawah hanya bisa dihitung jari saja.
"Paling hanya ada satu sampai lima orang saja anak muda yang jadi petani. Ini dikhawatirkan 10 tahun kedepan tidak ada lagi regenerasi," ungkapnya Jumat (9/2).
Pihak desa juga sudah mendorong anak-anak muda untuk mau terjun di dunia pertanian. Meskipun berat karena petani memiliki kesan pekerjaan yang kotor-kotoran terutama tidak prospektif.
"Oleh karena itu pertanian yang kita programkan nanti pertanian yang inovatif dan menarik," lanjutnya.
Menurutnya pertanian yang menarik itu terdapat sentuhan-sentuhan teknologi. Kemudian terdapat inovasi dan digitalisasi sehingga para petani muda nanti tertarik.
"Nanti kita desain secara terintegrasi dan menghasilkan integrated farming. Dimana nanti tidak hanya bercocok tanam melainkan nanti akan diintegrasikan dengan peternakan dan perikanan," jelasnya.
Didalam integrated farming tersebut nantinya akan ada beberapa program seperti pembuatan gapoktan milenial, kelompok wanita tani, pembuatan green house dan hidroponik, serta pelatihan-pelatihan. Sehingga inovasi-inovasi teknologi dan digitalisasi bisa berkembang.
"Goalnya nanti terwujudnya ketahanan pangan nabati dan hewani serta swasembada pangan di Desa Kesongo," tandasnya.
Disisi lain, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang, Moh Edy Sukarno menyampaikan populasi petani di Kabupaten Semarang saat ini didominasi yang berusia 45 tahun keatas.
Bahkan mencapai 77 persen dari total petani sedangkan generasi milenial hanya sekitar 13 persen.
"Ini faktornya banyak, misalnya para orang tua yang bekerja sebagai petani berpesan kepada anaknya agar tidak jadi petani. Karena merasa hidupnya rekoso, saat di sawah banyak hama dan persoalan pupuk yang terus menerus," terangnya.
Meskipun demikian, pihaknya terus melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan minat generasi muda untuk terjun ke pertanian. Salah satunya melakukan sosialisasi di sekolah dengan menggandeng PKK.
"Tetap kita sampaikan mengenai wawasan pertanian dan juga terkait dengan Indonesia adalah negara agraris yang kaya," pungkasnya. (nun/bas)
Editor : Baskoro Septiadi