Kepala Desa Sendang, Syamsudin, mengatakan Popokan merupakan tradisi turun temurun. Awalnya warga ingin mengusir harimau yang telah mengganggu. Berbagai cara dilakukan, tetapi harimau tak kunjung pergi. Akhirnya, sesepuh desa menyarankan agar menggunakan tanah empuk atau dipopok.
"Setelah itu, tradisi Popokan terus dilakukan sampai sekarang," ujarnya.
Tradisi popokan dilakukan warga Sendang, dan 40 kelompok warga mulai dari kelompok sekolah hingga kelompok RT/RW lain. Warga juga menggelar kirab budaya dengan membawa tumpeng, hasil bumi serta beberapa sesaji.
"Untuk sesaji seperti ikan lele, burung dara, dan ayam itu merupakan simbol filosofi yang ada di Desa Sendang," tambahnya.
Sesaji akan diperebutkan warga setelah diberi doa. Kemudian tradisi popokan langsung dilaksanakan para pemuda Desa Sendang. Bupati Semarang, Ngesti Nugraha mengapresiasi dalam kirab budaya yang masih terus dilestarikan. Menurutnya tradisi Popokan di Sendang patut untuk terus dilestarikan anak-anak muda.
"Dengan tradisi ini semoga warga Sendang, dari yang muda hingga tua dilancarkan rezekinya dan diberi kesehatan," kata Bupati. (nun/fth)
Editor : Agus AP