Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Sembilan Rumah Terdampak Tanah Gerak, Warga Tuding Akibat Proyek Tol

Agus AP • Selasa, 10 Maret 2020 | 17:49 WIB
Bupati Pekalongan Asip Kholbihi ketika berbincang dengan salah satu korban angin puting beliung di Desa Kalijambe, Kecamatan Sragi Sabtu (27/2/2021). (Istimewa)
Bupati Pekalongan Asip Kholbihi ketika berbincang dengan salah satu korban angin puting beliung di Desa Kalijambe, Kecamatan Sragi Sabtu (27/2/2021). (Istimewa)
RADARSEMARANG.ID, Ungaran - Sebanyak sembilan rumah di Perumahan Graha Ariabima, Susukan, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, rusak karena tanah bergerak. Tembok rumah retak-retak dan terancam roboh. Selain itu, tanah bergerak juga menyebabkan akses jalan di Blok D perumahan tak bisa dilewati kendaraan bermotor.

Salah satu warga perumahan tersebut, Wahyudi, mengatakan, tanah bergerak yang paling parah terjadi Minggu (8/3/2020) sore kemarin.  Saat itu, ia merasakan getaran tanah. Bersama keluarganya, ia pun sempat panik dan mengosongkan rumahnya.

Jalan di Blok D Perumahan Graha Ariabima, Susukan, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang amblas akibat tanah bergerak. (Maria Novena)
Jalan di Blok D Perumahan Graha Ariabima, Susukan, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang amblas akibat tanah bergerak. (Maria Novena)
Grafis: Yogi

"Hari minggu kemarin yang paling parah. Rumah bergetar, tembok menjadi retak hingga miring," katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang sambil menunjukkan tembok yang retak-retak.

Warga lain, Agung Wahyudi menambahkan, tanah bergerak sudah sejak dua tahun belakang. Ia menduga proyek pembangunan tol Ungaran menjadi salah satu penyebab tanah bergerak. Banyaknya alat berat yang berlalu lalang di belakang perumahan membuat tanah semakin labil.

"Beberapa warga sempat berkoordinasi dengan pengembang perumahan untuk mengungsi ke rumah di Blok E yang aman. Mungkin juga karena ada pembangunan di belakang perumahan tersebut," ujarnya.

Direktur Utama Trans Marga Jateng David Wijayatno menyatakan, pihaknya sudah memperingatkan developer perumahan terkait struktur tanah yang labil. Pada saat membangun jembatan Tol Penggaron, sudah dilakukan penelitian mengenai kondisi tanah tersebut. Namun ternyata pihak pengembang tetap ngeyel.

"Sebetulnya bukan ranah kami. Namun kami sempat memberikan peringatan secara lisan terkait kondisinya. Kami sebelum membangun kan pasti meneliti terlebih dahulu," ungkap David saat ditemui di kantornya.

David juga menjelaskan adanya alat berat karena sedang mengerjakan penguatan jembatan. Di antaranya, penguatan pada pilar-pilar jembatan untuk mengantisipasi gempa dan longsor. Pihaknya sedang melakukan penanaman tiang beton sedalam 45 meter di sepanjang jembatan secara berbaris sepanjang 100 meter. Ada sembilan pilar yang diperkuat di jalur B jembatan.  "Kami rasa tanah bergerak yang menyebabkan kerusakan rumah dan jalan itu akibat hujan terus-menerus," ujarnya. (ria/aro/bas)

Photo
Photo
Rumah salah satu warga mengalami retak (Maria Novena) Editor : Agus AP
#BENCANA #Tanah Retak #Berita Semarang #JALAN TOL