Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Tengok Langgengnya Kearifan Lokal 8 Tradisi Ritual Memanggil Hujan di Nusantara, Mulai dari Saling Cambuk hingga Menari Kesurupan

Hardiana Ratnasari • Kamis, 7 Desember 2023 | 10:20 WIB
Beberapa wilayah di Indonesia, memiliki tradisi ritualnya sendiri untuk mengundang hujan, saat musim kemarau melanda. (Instagram @kemdikbud.ri)
Beberapa wilayah di Indonesia, memiliki tradisi ritualnya sendiri untuk mengundang hujan, saat musim kemarau melanda. (Instagram @kemdikbud.ri)

RADARSEMARANG.ID – Saat memasuki musim kemarau, tradisi mendatangkan hujan biasanya kerap ditemui di daerah-daerah kekeringan minim pasokan air, baik lokal maupun luar negeri.

Sebagai contoh, tarian hujan yang dilakukan suku Indian di Amerika. Kemudian ritual suku Pedi di Afrika Selatan yang memberikan persembahan uang atau benda kepada Moroka alias pawang hujan. Semakin besar uang yang dipersembahkan, maka dipercaya akan semakin deras pula hujan yang turun.

Dilansir dari Instagram @kemdikbud.ri, dan laman resmi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, kemenkopmk.go.id, setidaknya ada delapan daerah di wilayah Nusantara yang masih melestarikan ritual memanggil hujan, yaitu:

Cambuk Badan Tiban, tradisi memanggil hujan di Tulungagung, Jawa Timur. (Instagram @kemdikbud.ri)
Cambuk Badan Tiban, tradisi memanggil hujan di Tulungagung, Jawa Timur. (Instagram @kemdikbud.ri)

1. Cambuk Badan Tiban - di Tulungagung, Jawa Timur

Merupakan warisan raja Kediri yang masih dilestarikan warga desa Trajak, Tulungagung.

Dua orang pria dewasa dengan bertelanjang dada, saling cambuk satu sama lain di tanah lapang. Darah yang keluar akibat cambukan, dipercaya bakal mengundang hujan.

Ujungan, tradisi memanggil hujan di Purbalingga, Jawa Tengah. (Instagram @kemdikbud.ri)
Ujungan, tradisi memanggil hujan di Purbalingga, Jawa Tengah. (Instagram @kemdikbud.ri)

2. Ujungan – di Purbalingga, Jawa Tengah

Serupa dengan tradisi Cambuk Badan Tiban di Tulungagung, ritual memanggil hujan di Purbalingga ini juga dilakukan oleh dua orang pria yang saling cambuk di tengah lapangan.

Akan tetapi ritual ini terbilang cukup ekstrem, karena dilakukan dalam hitungan ganjil. Jika dalam tiga kali pukulan, hujan belum turun, maka akan dilanjutkan dengan tujuh kali pukulan, dan seterusnya.

Baca Juga: Dituding Tak Pro Palestina Usai Posting Klip Hamas Serang Israel, Felicya Angelista Unggah Video Klarifikasi

Tari Sintren, tradisi memanggil hujan di Cirebon, Jawa Barat. (Instagram @kemdikbud.ri)
Tari Sintren, tradisi memanggil hujan di Cirebon, Jawa Barat. (Instagram @kemdikbud.ri)

3. Tari Sintren – di Cirebon, Jawa Barat

Biasa disebut Lais/Laes. Tarian yang bersumber dari cerita roman antara Sulasih dengan Sulandono ini bernuansa magis. Biasanya, ritual diadakan 40 malam berturut-turut. Namun doa pada Yang Maha Kuasa tetap dipanjatkan pawang sintren, agar hujan segera turun.

Penari sintren adalah seorang perempuan yang masih perawan. Sedangkan pemain lais diperankan pria yang masih perjaka.  Tarian ini dilakukan dalam keadaan tidak sadar alias kerasukan.

Tari Gundala-gundala, tradisi memanggil hujan di Karo, Sumatera Utara. (Instagram @kemdikbud.ri)
Tari Gundala-gundala, tradisi memanggil hujan di Karo, Sumatera Utara. (Instagram @kemdikbud.ri)

4. Tari Gundala-gundala – di Karo, Sumatera Utara

Biasa disebut tari Gundala Karo, yang berasal dari Kabupaten Karo, di kawasan Bukit Barisan. Dalam bahasa Batak, tarian ini disebut 'Ndilo Wari Udan'.

Para penari Gundala menggunakan kostum dengan pakaian layaknya jubah dan topeng yang terbuat dari kayu.

Ojung, tradisi memanggil hujan di Bondowoso, Jawa Timur. (Instagram @kemdikbud.ri)
Ojung, tradisi memanggil hujan di Bondowoso, Jawa Timur. (Instagram @kemdikbud.ri)

5. Ojung – di Bondowoso, Jawa Timur

Warga desa Tapen, Bondowoso, Jawa Timur, berkumpul untuk menyaksikan ritual Ojung di tiap akhir musim kemarau. Ritual ini dilakukan sebagai permohonan memanggil hujan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dua orang pria berhadapan dengan bertelanjang dada, sambil menggenggam erat sebatang rotan. Pertarungan ini akan dipimpin wasit.

Baca Juga: Ditonton Presiden Jokowi, Ariel Persembahkan Finger Heart dan Lagu Menghapus Jejakmu Untuk Iriana di Konser Final NOAH

Gebug Ende, tradisi memanggil hujan di Karangasem, Bali. (tourism.karangasemkab.go.id)
Gebug Ende, tradisi memanggil hujan di Karangasem, Bali. (tourism.karangasemkab.go.id)

6. Gebug Ende - di Karangasem, Bali

Ritual ini sudah turun temurun sejak peperangan kerajaan Karangasem dengan kerajaan Selaparang di Lombok. Dua kelompok pria dewasa saling pukul dengan rotan yang dilengkapi tameng pelindung.

Sebagai penengah, pertarungan dipimpin wasit yang disebut Saye. Darah yang mengucur dari pertarungan ini diyakini dapat menurunkan hujan.

Cowongan, tradisi memanggil hujan di Banyumas, Jawa Tengah. (cilacapkab.go.id)
Cowongan, tradisi memanggil hujan di Banyumas, Jawa Tengah. (cilacapkab.go.id)

7. Tradisi Cowongan – Banyumas, Jawa Tengah

Ritual ini ditarikan 10 perempuan di Desa Plana, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Cowongan dimaknai sebagai simbol permohonan dan bukti pengabdian pada peninggalan budaya leluhur.

Cowongan berarti belepotan pada wajah. Menggunakan media boneka yang hanya boleh dipegang kaum pria. Boneka ini dirasuki bidadari yang dipercaya dapat memanggil hujan.

Cowongan hanya dilakukan pada musim kemarau yang sangat panjang. Biasanya mulai akhir masa kapat (hitungan dalam kalender jawa) atau sekitar bulan September. 

 

Tarian Suling Dewa, tradisi ritual memanggil hujan (Instagram @genpilomboksumbawa)
Tarian Suling Dewa, tradisi ritual memanggil hujan (Instagram @genpilomboksumbawa)

8. Tarian Suling Dewa – Bayan, Lombok, Nusa Tenggara Barat

Masyarakat desa Senaru, Kecamatan Bayan akan menentukan hari, waktu, dan tempat yang dinilai baik untuk melakukan ritual ini. Di samping itu, mereka juga menyiapkan sesaji berupa kembang, makanan, serta kapur sirih yang dipercaya dapat mengundang hujan.

Ritual ini juga menggunakan media seruling. Ditilik dari nilai filosofinya, seruling dianalogikan manusia. Bila seruling tidak ditiup, tidak akan menghasilkan nada-nada indah. Begitu pula dengan manusia, raga tanpa roh, tidak akan ada kehidupan.

Editor : Agus AP
#ritual memanggil hujan #Ujungan #tradisi memanggil hujan #sintren #Gebug Ende #HUJAN