Stasiun Parakan dibangun perusahaan swasta kereta api Hindia Belanda Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) pada 1907. Stasiun ini berhenti beroperasi pada 1973, seiring dengan ditutupnya layanan kereta api jurusan Secang-Parakan karena minimnya okupansi penumpang. Kini, sejumlah bagian bangunan bekas stasiun tersebut disewakan untuk masyarakat umum.
Penghuni eks Stasiun Parakan Jati Utomo mengaku menggunakan sebuah ruang tepat di samping pintu masuk untuk kos. Dia juga rutin melakukan bersih-bersih.
Selama ini, menurut Jati, banyak orang yang datang ke stasiun, utamanya anak-anak remaja. Kadang, ada juga yang melakukan foto pre wedding di sana. Biasanya, yang datang adalah orang luar daerah. Ketika berwisata ke Borobudur, umat Buddha biasanya sekalian ke Umbul Jumprit untuk mengambil air suci. Sebelum atau sesudah dari Umbul Jumprit, mereka banyak yang mengunjungi stasuin.
Jati mengungkapkan, dari PT KAI, beberapa bangunan yang masih tersisa boleh dikontrak, dengan syarat tidak mengubah apapun secara permanen. Bangunan-bangunan yang ada di sana, utamanya adalah pintu masuk, masih asli seperti sedia kala. “Menarik untuk dikunjungi sekaligus belajar sejarah,” tuturnya.
Dia mengatakan, gerbong dan rel masih bisa ditemui di lingkungan eks Stasiun Parakan. Gerbong tersebut digunakan sebagai gudang tembakau. Besi-besi bekas rel sebagian sudah tertimbun tanah.
“Itu semua tembok dan kayu-kayu masih utuh. Temboknya menggunakan batu-bata lama, dipaku dengan paku biasa tidak mempan. Orang sini tidak berani utak-utik,” ujarnya.
Jati mengaku menyewa ke PT KAI dengan tarif Rp 500 ribu setiap bulan. Petugas PT KAI sering datang untuk memantau kondisi bangunan.
Menurutnya, dulu ada wacana akan dijadikan tempat wisata. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut. “Kalau wisata peninggalan biasanya maju. Kecuali wisata buatan orang, peminatnya biasanya sekali melihat, (lalu) sudah,” ujarnya.
Pada awal 2022, saat bertemu dengan perwakilan PT KAI Daop VI Yogyakarta, Bupati Temanggung HM Al Khadziq pernah menyampaikan wacana untuk memanfaatkan aset PT KAI untuk wisata heritage. Stasiun Parakan bisa digunakan sebagai kafe kopi.
Eks stasiun kereta api lain di Temanggung yang saat ini masih berdiri tapi beralih fungsi adalah Stasiun Kranggan, Stasiun Temanggung dan Stasiun Kedu. Sementara keberadaan bangunan eks halte di Nguwet, Guntur dan Maron sudah tak berbekas. (din/ton) Editor : Agus AP