RADARSEMARANG.ID, Tegal - Pagi itu, ruang Pos Kesehatan Desa (PKD) Sumingkir dipenuhi suara diskusi. Puluhan orang berkumpul di ruangan yang kerap digunakan untuk kelas stimulasi anak. Ada para kader Program SPRING yang duduk rapi, Bidan Desa Siti Mafruroh dengan setelan dinasnya, perwakilan Puskesmas Kedungbanteng, tokoh masyarakat seperti Pak Mudori (ulama setempat), hingga Ketua Tim Kerja Pelayanan Kesehatan Anak dan Remaja Dinkes Kabupaten Tegal, Yuda Ayu Timorini.
Di tengah ruangan, duduk seorang pria berkemeja. Dialah Kepala Desa Sumingkir, Khasan Ali, S.T. Dengan suara tenang namun penuh semangat, ia memberi arahan tentang kelanjutan Program SPRING (Early Stimulation in Primary Health Service Integration), program stimulasi anak usia dini hasil kolaborasi dengan Tanoto Foundation.
"Saya titip, kader-kader ini ujung tombak kita. Mereka bukan pekerja bayaran, tapi pejuang. Tugas kita semua, termasuk tokoh masyarakat dan agama, adalah mendukung mereka. Jangan sampai mereka lelah sendiri," ujar Khasan Ali.
Ia lalu menekankan pentingnya peran tokoh agama. Menurutnya, para ulama juga mempunyai tugas untuk memberikan edukasi tentang stimulasi anak.
"Pak Mudori, tolong nanti dari mimbar diselipkan pentingnya stimulasi anak. Masyarakat perlu tahu bahwa masa depan anak ditentukan oleh bagaimana kita merawat otaknya sejak dini, bukan hanya perutnya," tambahnya.
Pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam itu membahas evaluasi program yang sudah berjalan sejak Januari 2026 serta rencana ke depan. Khasan Ali pun menyampaikan komitmennya. Kesehatan menjadi prioritas utamanya. Selain itu, ia juga menaruh perhatian pada peningkatan sumber daya manusia.
"Kalau mau desa maju, anak-anaknya harus sehat dulu. Bukan cuma badannya, tapi juga otaknya," imbuhnya.
Komitmen itu bukan sekadar kata. Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, Khasan Ali tetap memprioritaskan sektor kesehatan dalam anggaran desa tahun 2026. Sekitar 30 persen dana desa dialokasikan untuk mendukung program kesehatan, termasuk upaya penguatan sumber daya manusia sejak usia dini. Bagi Khasan Ali, langkah tersebut merupakan bagian dari investasi jangka panjang bagi masa depan desa.
"Desa tidak harus selalu bangun fisik. Yang lebih penting itu pemberdayaan manusianya. Kalau mental dan kesehatannya kuat, desa pasti ikut kuat," katanya.
Salah satu program yang paling ia banggakan adalah Program SPRING, inisiatif Tanoto Foundation yang berkolaborasi dengan Pemkab Tegal. Terlebih, Desa Sumingkir juga menjadi pilot project program ini.
Program SPRING menitikberatkan pada stimulasi tumbuh kembang anak usia 0-6 tahun. Selama ini, layanan kesehatan desa lebih banyak menyoroti pertumbuhan fisik seperti berat dan tinggi badan. Program SPRING melengkapinya dengan stimulasi motorik, bahasa, sosial, dan kognitif.
Di ruang stimulasi PKD yang difungsikan tiga kali seminggu, anak-anak diajak bermain sambil belajar. Orang tua didampingi kader untuk memahami pentingnya interaksi aktif dengan anak.
"Stimulasi itu tidak harus mahal. Tutup botol bekas bisa untuk belajar warna, kardus bisa jadi alat susun. Yang penting ada interaksi," jelasnya.
Di Desa Sumingkir, program ini berjalan sejak Januari 2026. Kelas stimulasi digelar setiap Senin, Rabu, dan Sabtu di PKD, dengan pembagian enam kelompok usia. Setiap kelas diisi 10-12 ibu dan anak. Para kader yang telah dilatih selama lima hari pada Desember 2025 menjadi fasilitator.
""Program ini sangat bermanfaat. Melalui program ini, ibu-ibu jadi paham bahwa mereka adalah sekolah pertama bagi anaknya. Mereka juga belajar cara menstimulasi perkembangan otak anak dengan barang-barang sederhana yang mudah ditemukan, jadi tidak perlu mahal. Kalau tidak ada program ini, belum tentu ibu-ibu menyadari hal tersebut. Kalau hanya ikut-ikutan, hasilnya tidak akan maksimal," tutur Khasan Ali.
Ia mengakui, tantangan terbesar bukan pada fasilitas, melainkan pada perubahan pola pikir orang tua. Di era gawai dan kesibukan kerja, anak kerap diasuh tanpa pendampingan optimal.
Karena itu, ia memperkuat peran kader sebagai ujung tombak. Meski tidak digaji tetap, para kader diberi dukungan, pembinaan, dan apresiasi agar tetap semangat.
Meski baru berjalan hampir dua bulan, hasil positif mulai terlihat. Anak-anak yang awalnya pasif dan malu-malu kini lebih berani bersosialisasi. Orang tua, terutama ibu, mulai paham cara berkomunikasi dan menstimulasi anak di rumah.
Salah satu bukti keberhasilan lain adalah menurunnya angka stunting. Pada 2021, angka stunting di Desa Sumingkir cukup tinggi. Namun, berkat kerja keras semua pihak, kini tersisa tujuh kasus. Khasan Ali berharap ke depan pencegahan stunting bisa dimulai dari calon pengantin, bahkan dari bangku sekolah.
"Stunting tidak akan pernah habis, tapi kita bisa tekan. Makanya, edukasi harus terus-menerus. Di sini, saya libatkan semua elemen: kader, tokoh agama, tokoh masyarakat, Karang Taruna, PKK. Karena kalau hanya pemerintah desa, tidak akan kuat. Ulama seperti Pak Mudori ini penting, beliau bisa menyampaikan dari mimbar," ucapnya.
Khasan Ali menilai, pencegahan harus dimulai sejak calon pengantin, ibu hamil, hingga anak usia dini. Program SPRING dinilai memperkuat upaya tersebut, terutama dalam aspek stimulasi perkembangan yang sebelumnya kurang tergarap.
"Kalau ibu-ibu sadar bahwa mereka adalah sekolah pertama bagi anaknya, itu sudah perubahan besar," katanya.
Di tengah keterbatasan anggaran, ia memilih mempertahankan porsi besar untuk kesehatan dibanding mengejar proyek fisik. Baginya, investasi terbaik desa adalah generasi. Ia juga berharap Program SPRING bisa berkelanjutan, tidak hanya enam bulan atau setahun.
"Butuh waktu panjang untuk membiasakan orang tua melakukan stimulasi. Minimal 2-3 tahun pendampingan. Kami di desa akan terus dukung, meski anggaran terbatas. Yang penting, anak-anak Sumingkir tumbuh optimal, sehat, cerdas, dan berakhlak mulia," pungkasnya.
Ia menjelaskan, nama Sumingkir sendiri berarti "mengalah" atau "memberi jalan". Filosofi itu terasa dalam gaya kepemimpinan Khasan Ali. Ia sadar, menjadi kepala desa bukan sekadar administrasi, tetapi menjadi figur yang harus mampu merangkul semua.
Prestasi demi prestasi pun diraih. Hal itu terlihat di dinding kantor desa, deretan piala dan penghargaan berjejer. Terbaru, Posyandu Desa Sumingkir mendapat juara lomba Posyandu 6 SPM (Standar Pelayanan Minimal) tingkat kabupaten yang diterima pada Desember 2025. Enam SPM itu meliputi pendidikan, kesehatan, satlinmas, pekerjaan umum, perumahan, dan sosial.
Sebelumnya, di bawah kepemimpinan Khasan Ali, Posyandu Desa Sumingkir juga meraih Juara Harapan III Lomba Posyandu Kesehatan tingkat kabupaten pada pertengahan 2025.
Bahkan, saat pandemi Covid-19, desa ini mendapat penghargaan tingkat provinsi dari Polda Jawa Tengah atas penanganan Covid-19 di level desa. Penghargaan itu diserahkan oleh Ahmad Luthfi yang kala itu masih menjadi Kapolda Jateng.
Pada kesempatan itu, Khasan Ali pun menceritakan kisahnya hingga menjadi Kepala Desa Sumingkir. Tak banyak yang tahu, jalan Khasan Ali menjadi kepala desa bermula dari sebuah gambar.
Pria 50 tahun itu adalah putra asli Sumingkir, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal. Setelah lulus SMA, ia merantau ke Jakarta, menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik, dan bekerja lebih dari 10 tahun di bidang kontraktor.
Tahun 2014, ia pulang kampung. Niatnya sederhana, membantu membangun masjid desa yang sudah tak lagi representatif. Bermodal keahlian teknik, ia membuat desain lengkap dengan gambar tiga dimensi dan Rencana Anggaran Biaya (RAB).
"Nilainya mencapai Rp1,5 miliar, angka yang kala itu terasa mustahil bagi desa dengan sekitar 3.400 jiwa dan mayoritas warganya petani," bebernya.
Awalnya, ia hanya ingin membantu menggambar. Namun, warga dan para ulama justru memintanya turun langsung memimpin pembangunan. Pada 2017, setelah pembangunan masjid rampung, dukungan warga mengalir. Ia maju dalam pemilihan kepala desa dan terpilih. Sejak saat itu, arah pembangunannya jelas, yaitu memperkuat sumber daya manusia.
"Saya berpikir tidak ingin ikut-ikutan, tapi ya tidak tahu, uniknya kepala desa banyak hal yang tidak bisa kita teorikan. Faktor keturunan, faktor nonteknis, dan lainnya ternyata berat. Kepala desa itu enggak gampang. Bukan sekadar administrasi, tapi harus bisa menyelesaikan konflik, menjadi figur. Karena itulah fokus saya pada peningkatan sumber daya manusia," tegasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi