RADARSEMARANG.ID - Tegal merupakan salah satu daerah penting termasuk pada masa kependudukan Belanda hingga Jepang.
Pembangunan fasilitas penting tak terbatas hanya di wilayah utara atau pusat kota, namun menjalar hingga ujung selatan.
Salah satunya di Kecamatan Balapulang yang termasuk wilayah sisi selatan Kabupaten Tegal yang banyak mendapatkan pembangunan.
Bukti pesatnya kemajuan di Balapulang adalah adanya Stasiun Balapulang dan Pabrik Gula Balapulang pada era Belanda.
Selain itu, ternyata Balapulang juga pernah dibangun bandara pada awal era kependudukan Jepang pada tahun 1941.
Menurut penelusuran yang dilakukan di channel YouTube Mlaku Mlaku Sejarah, bandara ini berdiri di Desa Cibunar.
Saat ini lokasi tersebut sudah menjadi ladang perkebunan dan sebagian masuk kedalam area milik Perhutani.
Dalam penelusuran juga dijelaskan beberapa patok penanda dan sisa landasan pacu yang kini menjadi kebun jati.
Jika dilihat dari posisinya, bandara ini berdiri sekitar 1 kilometer dari Jalan Raya Balapulang.
Tak banyak memang referensi dan catatan yang memuat sejarah bandara di selatan Tegal ini.
Namun dari sisa peninggalan sejarah yang ada dan penuturan warga sekitar menjadi bukti bandara ini pernah berdiri di wilayah Balapulang.
Adanya bandara ini juga semakin membuktikan jika Balapulang menjadi daerah maju di selatan Tegal sejak era kolonial.
Beberapa bangunan bersejarah pernah berdiri di wilayah ini seperti Stasiun Kereta Api, Pabrik Gula, dan Gedung Bioskop.
Namun semuanya kini tinggal cerita sejarah, karena beberapa peninggalannya sudah sulit ditemukan dan sisanya terbengkalai.
Transportasi kereta api juga sudah lama hengkang dari wilayah ini dan hanya tersisa bangunan tua bekas kejayaan Stasiun Balapulang.
Saat ini wilayah kecamatan Balapulang sendiri didominasi oleh lahan pertanian dan perkebunan Jati milik Perhutani.
Sedangkan akses transportasi hanya mengandalkan kendaraan roda karet seperti mobil dan motor.
Sedangkan transportasi jarak jauh hanya mengandalkan bus dan akses kereta api terdekat bisa melalui Stasiun Slawi dan Prupuk.
Editor : Baskoro Septiadi