RADARSEMARANG.ID - Kota Tegal merupakan salah satu daerah dengan laju pembangunan yang tinggi pada masa pemerintahan kolonial.
Hal itu terjadi karena daerah ini dianggap sebagai wilayah strategis pada masa itu yang dapat dijangkau dari segala arah.
Salah satu pembangunan fasilitas penting di Tegal adalah Stasiun dan jalur kereta api oleh perusahaan swasta Belanda.
Sebagian besar orang mengetahui jalur kereta api yang melintasi Tegal merupakan rel rute jarak jauh atau antar kota yang masih bertahan sampai sekarang.
Ternyata selain pembangunan jalur rel kereta kelas berat, di Kota Tegal juga pernah dibangun sebuah jalur kereta ringan atau trem uap.
Dalam sejarah trem uap di kota bahari sendiri melayani rute Tegal menuju Brebes dengan melewati jalur dalam kota.
Bahkan salah satu stasiunnya pernah berdiri di kawasan Pasar Pagi Kota Tegal yang kini menjadi pusat perdagangan.
Menurut catatan sejarahnya, di tahun 1880 stasiun atau halte trem uap ini pernah berdiri di daerah pasar pagi atau eks benteng kaloran.
Hal ini dibuktikan dari peta kuno yang dipublikasikan oleh Leiden University yang menunjukkan adanya jalur dan halte trem di Kota Bahari.
Halte Pasar Pagi sendiri saat itu digunakan untuk saran pemberhentian trem uap tipe B.
Jalur ini eksis mulai tahun 1880 hingga 1918 yang saat itu dibangun oleh Javasche Spoorweg Maatschappij (JSM).
Rel jalur ini membentang dari Pelabuhan Tegal atau Stasiun Tegal lama hingga Brebes dengan melewati pusat kota dan ditepi jalan raya pos atau pantura.
Jika dilihat dari peta wikimapia, bekas jalur ini memanjang dari pasar pagi ke utara hingga ke stasiun tegal lama atau gudang barang.
Tetapi jalur ini tidak langsung tersambung ke jalur utama atau arah stasiun tegal baru, namun perlu melakukan langsiran untuk berpindah ke jalur utama.
Selain halte Pasar Pagi, pada jalur ini juga terdapat beberapa stasiun atau pemberhentian lainnya yaitu Sumurpanggang, Krandon, dan Kaligangsa.
Saat ini seluruh jalur bekas trem uap rute Tegal-Brebes sudah tak berbekas digempur pembangunan kota.
Beberapa sisa peninggalannya pun sudah sangat sulit ditemui untuk saat ini karena sisa jalurnya sudah tertimbun bangunan dan menjadi jalan.
Editor : Baskoro Septiadi