RADARSEMARANG.ID, Sukoharjo - Kantor Bupati Sukoharjo Etik Suryani disatroni seorang pria berjenggot yang datang membawa senjata tajam jenis samurai, Selasa (5/9).
Tidak diketahui persis apa maksud kedatangan pria yang datang ke kantor bupati di Jalan Jenderal Sudirman tersebut. Yang jelas, pelaku datang mengendarai Pajero Sport warna abu-abu.
Informasi yang dihimpun di lokasi menyebutkan, pria tersebut datang sekitar pukul 08.00 WIB. Menurut saksi, pria misterius tersebut masuk dari arah gerbang utama pemkab, lalu menuju area parkir di utara kantor bupati.
Lokasi parkir ini bukan diperuntukkan bagi parkir tamu umum atau tamu baisa. Sebab, lokasi parkir tamu umum ada di halaman depan.
Sedangkan lokasi parkir yang digunakan pria tersebut merupakan tamu khusus pejabat tertentu.
Salah seorang saksi, Sumadi, mengatakan, pria tersebut menggunakan Pajero Sport. Begitu parkir dia keluar dari mobil kemudian menuju ruang lobi bupati.
Di tangan kanan lelaki tersebut memegang senjata tajam jenis samurai. Sumadi yang bertemu pria tersebut kemudian diminta mengantar ke ruang asisten pribadi (aspri) bupati.
Begitu tiba di ruang aspri, pria misterius tersebut bertanya apakah bupati ada. Oleh aspri dijawab tidak ada.
Setelah itu, dia juga bertanya apakah ada nomor Megawati Soekarnoputri. Lalu oleh aspri kembali dijawab tidak ada.
Setelah tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, pria tersebut lalu pergi dan mengatakan akan bertemu Gibran (Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka) saja.
"Ciri-ciri pelaku pria dengan kulit putih, rambut cepak, berjenggot pendek, tinggi sekitar 160 cm, menggunakan sepatu, celana hitam dan jemper warna hitam," kata saksi.
Begitu pria tersebut pergi, aparat kepolisian dan TNI datang ke kantor bupati. Tampak juga wakapolres Sukoharjo bersama dengan kasat reskrim serta kasat intel dan sejumlah anggotanya.
Terkait dengan kejadian itu, Kapolres Sukoharjo AKBP Sigit mengatakan, masih melakukan pendalaman dan penyelidikan.
Saat ditanya, apakah nantinya polres akan menempatkan anggotanya di kantor bupati, kapolres juga belum menjawab. (kwl/ria)
Editor : Baskoro Septiadi