RADARSEMARANG.ID - Daejeon Jung Kwan Jang Red Sparks, klub Voli Korea di mana Megawati ‘Megatron MVP’ Hangestri Pertiwi bermain, resmi merilis teguran berisi delapan larangan bagi suporter yang datang langsung untuk memberikan dukungan, pada Selasa (7/11/2023).
Sejumlah larangan yang ditulis secara ringkas namun terperinci ini, terpajang di laman website resmi Red Sparks, kgcsports.com, dan juga pada laman Instagram resminya, @red__sparks.
Jika dirunut ke belakang, teguran yang dilayangkan Tim Voli Korea ini disebabkan oleh ulah kurang terpuji para suporter Indonesia yang dinilai terlalu 'berlebihan' ketika mendukung Megawati, idola mereka.
Beberapa media Korea sebelum teguran ini dirilis, sempat memberitakan isu, di mana suporter Indonesia begitu berisik dan mengganggu, saat mendukung tim Red Sparks ketika melawan Gwangju Al Peppers di Liga Voli Korea di Gwangju Peppers Stadium (5/11/2023).
Tak cukup di situ saja, salah seorang suporter Indonesia mendapat kritikan pedas, ketika ia dengan tanpa etika, mengibarkan bendera Korea Selatan yang di atasnya ditempeli nama Megawati dengan lakban.
Tindakan ini mendapat sorotan tajam, karena suporter tersebut dianggap telah melecehkan kesakralan bendera Korea Selatan.
Aksi tak terpuji lain dari suporter Indonesia yang mengesalkan adalah ketika mereka dengan seenaknya mengarahkan senter hape ke arah pemain lawan, serta membawa atribut spanduk yang berbau politik.
Megawati, sang atlet voli berhijab andalan Indonesia itu kini telah menjadi idola baru. Permainannya yang impresif, berhasil memikat penonton dan melipat-gandakan jumlah pendukungnya secara masif.
Ramai diberitakan sebelumnya, para suporter Indonesia yang tinggal di Korea, rela menyewa tiga bus untuk datang ke stadion Gwangju Peppers, hanya demi mendukung Megawati.
Baca Juga: Erlina Puji Apriyanti, Dari Atlet Bola Voli ke Bola Tangan
Tak ingin berlarut-larut, dan demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya tim yang diasuh Koo He-jin ini gerak cepat dengan merilis teguran bernada ‘ancaman’.
“Kami harap, suporter bisa ikut menjaga etika kooperatif sehingga semua penonton dapat menikmati pertandingan yang menyenangkan,” demikian prolog teguran Red Sparks.
Selanjutnya, “Terlepas dari politik atau SARA, atlet menunjukkan yang terbaik dalam pertandingan dan terlepas dari menang atau kalah.”
“Pola pikir sportif yang benar adalah mendukung satu sama lain dan memiliki rasa toleransi.”
“Demi membangun budaya suporter yang sehat, diharapkan untuk mengikuti peraturan berikut saat menonton pertandingan,” jelas Red Sparks dalam tata tertib yang dibuatnya.
Berikut, delapan poin larangan yang dimaksud:
1. Dilarang melakukan tindakan yang berkaitan dengan politik seperti slogan, kata-kata, dan ekspresi.
2. Dilarang mencoret-coret atau merusak bendera negara sendiri maupun negara lain.
3. Dilarang mencemooh atau menjelek-jelekkan pemain atau tim lawan.
4. Dilarang menggnakan flash kamera saat servis oleh tim lawan.
5. Dilarang bersorak untuk away team di area home team.
6. Dilarang duduk di tempat selain yang telah ditentukan, dan dilarang memasuki lapangan pertandingan.
7. Dilarang mendukung dengan cara berdiri agar tidak menghalangi pandangan penonton lain.
8. Dilarang memotret atlet saat pemanasan dengan cara yang tidak etis maupun tidak bermoral.
Pihak Red Sparks menjelaskan bahwa hal-hal di atas bukanlah suatu larangan untuk membuat ketidaknyamanan, melainkan bertujuan agar budaya suporter yang telah dijaga selama ini tetap lestari.
Pada pungkasan teguran, disampaikan peringatan bernada ancaman, “Jika tidak mematuhi peraturan di atas, Anda dapat dikeluarkan dari tempat secara paksa.”
Teguran ini dirilis dalam tiga bahasa: Inggris, Indonesia, dan Korea.
Memanglah dukungan luar biasa dari para suporter Indonesia, jitu mengobarkan api semangat bagi Megawati yang mengemban amanah berat dalam mengusung nama bangsa Indonesia.
Namun akan lebih baik apabila attitude para suporter lebih serius dijaga, karena ini berkaitan dengan citra harum negara Indonesia di mata negara Korea pada khususnya, maupun negara lainnya di dunia pada umumnya.
Editor : Agus AP