Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

Mengenal Sosok Profil KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq

Falakhudin • Jumat, 4 Oktober 2024 | 12:35 WIB
Gus Muwafiq saat di Luar Negeri
Gus Muwafiq saat di Luar Negeri

RADARSEMARANG.ID, Semarang — Gus Muwafiq merupakan Pendakwah yang memiliki nama asli KH Ahmad Muwafiq ini lahir di Solokuro, Lamongan, Jawa Timur, pada tanggal 2 maret 1974.

Gus Muwafiq merupakan salah satu kyai Nahdlatul Ulama yang namanya ikut mewarnai dunia dakwah di Indonesia.

Saat ini beliau tinggal di Mlati, Sleman, Yogyakarta.

Kyai yang dikenal memiliki ciri khas bersuara lantang dan berambut gondrong.

Tidak hanya dikenal sebagai pendakwah yang ahli sejarah Islam, beliau juga seorang aktivis, orator bahkan pernah menjabat sebagai asisten pribadi KH Abdurrahman Wahid atau yang kita kenal dengan Gus Dur, presiden keempat RI.

Baca Juga: Catat! Ini Jadwal Majelis Az Zahir Bulan Oktober 2024

Baca Juga: Belum Banyak yang Tahu, Ini Sosok Profil Gus Iqdam

Melalui Gus Dur inilah, beliau mengaku banyak belajar baik agama, kebudayaan maupun teori sosial.

Ketika Gus Dur akan dilengserkan pada Mei 2001, beliau di depan pasukan berani mati, sendirian mengangkat mobil PANSER milik TNI dengan tangan kirinya. 

Peristiwa itu kemudian diabadikan oleh wartawan dan menjadi headline di Surat Kabar. 

Soal rambutnya yang gondrong, dalam salah satu wawancara dengan media, ia menceritakan bahwa sudah sejak kecil membiarkan rambutnya gondrong. 

Dia bilang kalau rambutnya dipotong pendek sering meriang, alias jatuh sakit. 

Ciri lain, Gus Muwafiq adalah selalu mengenakan kaos oblong putih dengan bawahan sarung. 

Dalam ceramahnya Gus Muwafiq memiliki ciri khas suara yang lantang, bahasa yang ringan, dan mudah diterima oleh semua kalangan.

Gus Muwafiq merupakan pengasuh Pondok Pesantren Minggir, Sleman Yogyakarta.

Gus Muwafiq memulai pendidikannya dengan belajar sekolah dasar di di kampungnya, daerah Lamongan. 

Setelah selesai sekolah dasar, beliau melanjutkan pendidikannya dengan sekolah menengahnya di Pondok Pesantren Bungah Gresik. 

Kemudian melanjutkannya lagi ke tingkat Aliyah, dengan belajar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang.

Semasa belajar di Jombang, Gus Muwafiq sudah dikenal kritis dan pandai berorasi. 

Baca Juga: Sejarah Berdirinya Majelis Dzikir dan Sholawat Gandrung Nabi

Baca Juga: Diawali dari semangat Al Habib Masyhur, Ini Sejarah Singkat Berdirinya Majelis Al Muqorrobin

Baca Juga: Membeludak! Ribuan Jamaah Bersholawat Bareng Habib Fauzi Rizal Bin Mashyhur Al Munawwar dan Majelis Grayak Al Muqorrobin di Kalibelang Wujil

Selama di Bahrul Ulum, beliau pernah menjadi ketua kelas selama satu periode di Bahrul Ulum. 

Prestasi itu ditambah kedudukannya sebagai putra kyai thoriqoh di Pantura, tidak membuatnya angkuh, sombong dan dumeh, tetapi pembawaannya tetap kalem dan santun.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Bahrul Ulum 1992.

Gus Muwafiq menghabiskan sebagian besar masa mudanya untuk mengarungi samudra ilmu.

Beliau berpetualang dari satu pesantren ke pesantren yang lain, satu majelis ke majelis yang lain, dan satu komunitas ke komunitas yang lain.

Beberapa pesantren yang pernah beliau singgahi adalah Pondok Pesantren Tebuireng Jombang lalu pindah ke Pondok Pesantren Paiton Probolinggo, kemudian lanjut lagi belajar di Pesanteren Lirboyo Kediri, Nurul Jadid Paiton.

Tidak hanya mempelajari kitab-kitab klasik, Gus Muwafiq juga dikenal sebagai sosok yang gemar memburu barokah kyai.

Bagi masyarakat NU berkah atau barokah merupakan hal yang paling utama.

Barokah atau tambahan kebaikan hanya bisa diperoleh dengan jalan belajar dengan sungguh-sungguh, sabar serta istiqomah mengabdi kepada kyai tanpa mengharap imbalan selain ridho Allah SWT.

Pada tahun 1944, beliau melanjutkan pendidikannya kembali dengan belajar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurusan Dakwah Islamiyah.

Di Kampus putih, beliau menjadi aktivis, terutama di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). 

Baca Juga: Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PCNU Kabupaten Semarang Masa Khidmah 2024-2029 Resmi Dilantik

Baca Juga: Ini Dia Susunan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PCNU Kabupaten Semarang Masa Khidmah 2024-2029

Baca Juga: Free Download kalender 2025 Vektor: Lengkap Indonesia, Jawa dengan Weton, Neptu dan Bulan Hijriyah Islam

Puncaknya, beliau pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Mahasiswa Islam se-Asia Tenggara. 

Sambil menjadi aktivis kampus ini, Gus Muwafiq menjadi santri kelana, dengan sowan dari kyai ke kyai. 

Termasuk beliau juga mendalami ilmu kanuragan (beladiri) dan Sejarah Kebudayaan Nusantara.

Dalam mendalami kedua ilmu tersebut, Gus Muwafiq berguru kepada KH Agus Maksum Jauhari Lirboyo alias Gus Maksum dan pada KH Hasyim Wahid (Gus Im), Jombang, Cucu Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Melalui organisasi inilah beliau mulai mengasah pengetahuan serta kemampuannya dalam menyikapi isu Nasional dan juga Internasional.

Berkat keberanian serta kemampuan orasinya yang luar biasa menjadikan nama Gus Muwafiq terkenal di lingkungan UIN Sunan Kalijaga masa itu. 

Ketika belum banyak anak muda berani tampil di depan umum, Gus Muwafiq telah aktif melakukan dakwah di sekitar Yogjakarta, Jawa Tengah bahkan hingga Jawa Timur. 

Seiring berjalannya waktu nama Gus Muwafiq tidak hanya dikenal di kalangan masyarakat Jawa saja, tetapi seluruh wilayah Nusantara bahkan dunia. 

Ceramah yang beliau sampaikan selalu menekankan konsep beragama yang humanis, mengedepankan toleransi, tegaknya NKRI, penguatan Ideologi bangsa, jiwa nasionalisme dan juga wawasan Nusantara. 

Meski dikenal sebagai aktivis yang memiliki pengaruh kuat dalam organisasi, namun beliau lebih memilih konsisten dalam dunia dakwah, daripada dunia politik yang banyak didambakan para aktivis seusiannya pada masa itu.

Baca Juga: Profil K.H. Taj Yasin Maimoen, dari Santri untuk Negeri, Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah 2024-2029

Pemahaman yang mendalam tentang sejarah Islam, politik, budaya dan juga realitas sosial yang ada membuat ceramah yang beliau sampaikan mudah diterima masyarakat dari berbagai kalangan khususnya warga Nahdliyin. 

Gus Muwafiq juga budayawan dan sejarahwan muslim yang mumpuni berasal dari kultur Nahdliyin. 

Selain itu, ia juga sosok Kyai yang memiliki pemikiran visioner membangun NU dikelas akar rumput dengan berbasis kultural.

Dalam berdakwah Gus Muwafiq sering membahas isu-isu terbaru dan memberikan penjelasan secara rinci yang mudah diterima. 

Beliau, juga dikenal sebagai kyai dengan pemahaman sejarah yang sangat mendalam, mulai sejarah peradaban manusia secara umum, sejarah agama Islam pada masa kenabian, hingga sejarah nusantara. 

Begitu pun sejarah agama Islam di Indonesia, mulai awal perkembangan hingga saat ini. 

Beliau dapat menjelaskan dengan jelas dan mudah dipahami tentang setiap maksud dan makna filosofis dari setiap ajaran dan anjuran para wali/kyai tentang khas dakwah di Nusantara.

Beliau dikenal dengan pendakwah Islam yang teduh, santun, inspiratif dan kaya akan makna. 

Baca Juga: Mengenal Sosok Habib Husein Mutahar, Pengarang lagu 17 Agustus 45 Hari Merdeka Sekaligus Pendiri Paskibraka

Baca Juga: Do’a Kemerdekaan 17 Agustus yang Pernah Dibacakan KH Maemun Zubair di Peringatan HUT RI lengkap Arab, Latin dan Artinya

Baca Juga: Asal-Usul dan Makna Malam Tirakatan 17 Agustus, Ternyata Begini Sejarahnya

Bahkan beberapa non muslim mengaku senang mendengarkan ceramahnya. 

Kelebihannya yang lain, beliau adalah dai yang sangat humoris dan tidak kaku. 

Karena itu, meski materi yang disampaikannya berat, seperti sejarah dinasti- dinasti yang saling terkait, tetap saja terasa ringan dan renyah.

Maka tidak heran, jika jamaah betah berlama-lama menyimak pengajiannya, tak bosan karena pembawaannya yang kocak dan penuh dengan humor. 

Humor memang menjadi penting dalam suatu ceramah karena membuat audiens/jamaah tidak ngantuk, tidak jenuh dan menjadikan otak kembali fresh. (fal/bas)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#Ilmu Kanuragan #sleman yogyakarta #KH Ahmad Muwafiq #berambut gondrong #KH Hasyim Wahid #gus muwafiq #UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta #Pondok Pesantren Tebuireng Jombang #Pesanteren Lirboyo Kediri #KH Abdurrahman Wahid #gus dur #Pondok Pesantren Minggir #Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang #Pondok Pesantren Paiton Probolinggo #gus im #Pondok Pesantren Bungah Gresik #Nahdlatul Ulama #Gus Maksum #pergerakan mahasiswa islam indonesia (pmii)