Gadis asal Desa Tegalsari, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang ini justru terpikat menjadi petani pisang. Ia memiliki 400 pohon pisang di kebunnya seluas 2.000 meter persegi.
Sarjana ekonomi Udinus Semarang ini punya motivasi tersendiri untuk bisa jadi petani milenial.
"Menjadi petani milenial banyak keuntungannya. Seperti kami cukup mengenakan pakaian santai untuk ke kebun, tidak perlu ke kantor dan waktunya santai. Tetapi menjadi petani harus mempunyai hati yang mencintai bidang pertanian," jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Ade sadar, sebagai perempuan punya keterbatasan tenaga. Karenanya, ia mempekerjakan seorang warga untuk ikut merawat kebunnya. Ia konsen dalam memanajemen perkebunan sehingga bisa menghasilkan tanaman yang sehat dan memiliki buah banyak.
"Saya termotivasi, karena banyak lahan kosong yang dijadikan perumahan. Padahal jika dijadikan lahan pertanian akan sangat menghasilkan dalam jangka waktu yang lama dan terus menerus" katanya.
Dara 24 tahun ini menanam aneka jenis pohon pisang.
"Ada pisang cavendis, pisang gebyar yang penanaman, hingga perawatannya mudah dan banyak peminatnya. Sehingga penjualannya mudah," tuturnya.
Di lahan tersebut juga ditanami singkong. Dua tanaman itu disandingkan agar senantiasa bergantian masa panennya.
Ade mengajak Jawa Pos Radar Semarang menuju kebunnya. Lokasinya tidak jauh dari rumah. Di sana ia mulai melihat tanaman-tanaman di sekeliling. Daun pisang yang terserang hama maupun mengering dipangkas satu persatu. Ada seorang penjaga kebun yang ikut membantu.
Satu pohon pisang dirobohkan untuk diambil buahnya yang sudah tua. Ade pun tak merasa keberatan saat mengangkat satu tandan pisang sendirian.
"Semoga ke depan banyak bermunculan petani milenial yang inovatif dan mempunyai jiwa pertanian yang tinggi," harapnya. (yan/aro) Editor : Agus AP