Gadis 23 tahun ini baru saja menyelesaikan kuliahnya di Universitas Ngudi Waluyo Ungaran jurusan Gizi. Roro -panggilan akrabnya- mengaku dunia relawan memang melelahkan.
Namun di sinilah ia mendapatkan pengalaman banyak. Mulai dari belajar ikhlas menerima keadaan, belajar berbagi, bahkan belajar mengelola emotional quotient.
Di tahun 2020 saat musibah banjir melanda Kota Semarang, Roro juga mengikuti kegiatan bagi-bagi nasi bersama. Ada pengalaman menarik saat menjadi relawan inkubator bayi. Bahkan tidak mudah dihadapi. Sebab hampir setiap hari ia bertemu ibu-ibu untuk melakukan edukasi.
"Kita tahu inkubasi bayi itu adanya di rumah sakit. Ini kita edukasi mirip inkubasi, tapi bisa dilakukan di rumah. Terutama memang berkaitan dengan suhu dan kebersihan. Namun dengan catatan memang tidak parah dan sudah mendapatkan izin dari dokter,” jelasnya.
Meski sudah sibuk bekerja di PT Spilla Kreasi Kriya, Roro tetap melakukan edukasi bersama teman-temannya meski beda kampus. Hal tersebut dilakukan karena ia masih prihatin banyaknya ibu-ibu yang abai dengan gizi saat hamil sehingga bayi terlahir prematur dan harus dirawat intensif. (ria/ida) Editor : Agus AP