“Berasa menemukan diri sendiri meski awalnya nerveous. Tapi untuk menyiasati dengan cara rileks,” katanya.
Dari secuil pengalaman yang dijalani, namanya mulai dikenal. Ia kemudian diminta untuk memandu acara-acara seperti halal bihalal dan pengajian. Adis –sapaan akrabnya- meski sudah beberapa kali menjadi MC, namun ia mengaku tak pernah berhenti berlatih. Bukan hanya kepada pelatihnya di pondok saja, ia juga belajar dari ibunya yang juga seorang MC.
“Didukung banget sama keluarga, terutama ibu. Biasanya kolaborasi MC dengan ibu untuk semakin mengasah kemampuan,” ujarnya.
Pada saat kuliah di UIN Salatiga prodi Ekonomi Syariah, Adis semakin mengasah kemampuannya menjadi MC dengan bergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Dinamika. Di sana, ia banyak menyerap pengetahuan, karena seringkali ditunjuk untuk menjadi pembawa acara baik formal maupun nonformal.
Dari sekian acara yang ia pandu, ada satu acara yang sangat berkesan baginya, yakni saat acara perpisahan Wali Kota Salatiga Yulianto belum lama ini. Hal ini menjadi tantangan yang cukup berat, karena audiensnya berupa pejabat-pejabat penting. Namun tentu saja dara kelahiran Magelang, 15 Juni 2001 ini bisa melewati tantangan ini. “Tentu dengan berlatih, beruntung partner-nya juga sangat membantu, jadi acaranya bisa berjalan lancar,” imbuhnya.
Selain persoalan teknis, Adis menyebut persiapan lain seperti outfit tak kalah penting. Pasalnya, hal ini turut memengaruhi penampilan. Dengan drescode yang pas dan sesuai untuk setiap acara, hal ini membuatnya semakin percaya diri. “Ini menjadi support system supaya makin PD, sehingga acaranya berjalan lancar,” tuturnya. (ifa/aro) Editor : Agus AP