RADARSEMARANG.ID - Terkenal dengan supporter fanatik yang memiliki asas Punk-Football, St. Pauli merupakan klub yang berbasis di distrik St. Pauli Hamburg, Jerman.
Klub yang didirikan pada tanggal 15 Mei 1910 ini bukan hanya menaungi satu cabang olahraga saja, namun juga menaungi cabor lain seperti renang, rugby, tinju, bowling dan tenis meja
Klub St. Pauli divisi sepakbola ini adalah klub yang sudah lama berdiri di Jerman, bahkan mereka juga merasakan imbas akibat berkuasanya Adolf Hitler pada masa Reich ketiga.
Klub ini harus terdegradasi karena reorganisasi klub sepak bola tang dilakukan oleh Adolf Hitler hingga akhirnya mampu bangkit lagi ke Gauliga, Divisi Utama Liga Jerman Masa Nazi.
Klub ini terkenal dengan logo tengkorak yang ironisnya bukanlah logo resmi dari klub St. Pauli, logo asli mereka merupakan sebuah gereja atau kapel dengan unsur batu berwarna putih dan merah.
Logo tengkorak dan tulang bersilang ini merupakan sebuah paradoks yang diciptakan oleh para fans St. Pauli terhadap masa lalu kelam negaranya.
Lambang tengkorak dan tulang merupakan lambang untuk Divisi SS-Totenkopf, yakni divisi militer milik Nazi yang mengurusi kamar gas dalam Holocaust.
Alih-alih mendukung masa lalu negaranya tersebut, St. Pauli justru merupakan orang-orang yang anti-Nazi, anti-fasis dan justru kebanyakan menganut ideologi Anarkisme yang identik dengan kesetaraan sosial.
Hal tersebut lantaran distrik ini dihuni oleh mayoritas kelas pekerja yang memang seringkali dianggap masyarakat kelas dua dan sering terpinggirkan.
Dari nelayan, buruh hingga mahasiswa, komposisi kelas pekerja yang berada di wilayah pesisir Jerman ini menjadi kekuatan yang solid bersama St.Pauli.
Pemilihan gambar tengkorak dan tulang yang bersilang ini juga merupakan gambaran tentang perang kelas yang ingin diperjuangkan oleh para fans St.Pauli.
Gambar ini tentunya juga identik dengan bendera dari bajak laut, yang secara artian akan mereka gunakan untuk mendukung St. Pauli bersamaan dengan identitas mereka sebagai masyarakat pesisir yang dekat dengan pelabuhan.
Baca Juga: Kerusuhan Haymarket, Cikal Bakal Lahirnya Hari Buruh Internasional
Spirit bajak laut ini juga yang mereka gunakan untuk mendukung St.Pauli sebagai kapal bajak laut yang akan mengalahkan kapal-kapal dari para saudagar kaya.
Yang digambarkan mirip dengan kondisi klub-klub borjuis seperti Bayern Munchen dan klub sekotanya, Hamburg SV.
Penyebarannya bermula pada sebuah kelompok yang dikenal sebagai “Blok Hitam” yang biasa berkumpul di belakang bangku pelatih. Kelompok ini diperkirakan hanya terdiri dari penghuni perumahan Hafenstrasse yang terkenal sangat kontroversial.
Namun hal ini tidak sepenuhnya akurat, karena data ini sebenarnya mencakup sejumlah orang yang tinggal di lingkungan distrik St. Pauli yang secara umum termasuk dalam kelompok alternatif yang mempunyai banyak cabang.
Salah satu kelompok yang dimaksud, yang dikenal sebagai “Doc Mabuse”, sebenarnya tinggal di Blok 6 di Hafenstrasse, dan merekalah yang pertama kali membawa bendera tengkorak dan tulang bersilang ke stadion.
Pada saat itu, bendera ini merupakan versi Hanseatic dari simbol penghuni liar yang dikenal luas, dan memiliki kaitan dengan tradisi pembajakan yang telah berusia berabad-abad (di Hamburg sejak dahulu kala dikaitkan dengan nama Klaus Störtebeker). Pesannya adalah “Miskin melawan kaya”, “Pekerja melawan bos” dan sejenisnya dilansir FC St. Pauli.com.
Karena menganggap sama dan setara, melalui asas sosialisme yang mereka anut, menjadikan para fans St. Pauli menjadi salah satu suporter dengan fanatisme ideologis yang paling kuat.
Mereka tak mempermasalahkan sebuah prestasi klubnya, dan akan tetap setia mendukung meskipun St.Pauli berada di klasemen terbawah sekalipun.
Bahkan para supporter ini lebih merasa terhormat jika peringkat klubnya terperosok ataupun yang paling rendah dibanding harus menerima suntikan kapitalis demi prestasi instan.
Saking terkenalnya klub St.Pauli bersama semangat egaliter yang mereka gaungkan, menjadikan klub ini salah satu klub yang merepresentasikan kelas pekerja dan kaum minoritas di seluruh dunia.
Editor : Baskoro Septiadi