Semarang Makin Sumuk! Suhu Tembus 37 Derajat, Oktober Jadi Bulan Paling Panas, Begini Penjelasan BMKG

Figur Ronggo Wassalim • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 12:47 WIB
Pembelajaran meteorologi siswa Pusdik Penerbad di BMKG Ahmad Yani Semarang, kemarin.
Pembelajaran meteorologi siswa Pusdik Penerbad di BMKG Ahmad Yani Semarang, kemarin.

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Jangan heran jika udara Kota Semarang terasa lebih sumuk belakangan ini. Suhu panas yang mencapai 36–37 derajat Celsius diperparah minimnya tutupan awan dan masih berlangsungnya musim pancaroba.

Ketua Tim Manajemen Sistem Operasional/Tim Analisis dan Pengolahan Data BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang Giyarto mengatakan, kondisi sumuk merupakan salah satu tanda atmosfer sedang labil.

“Sumuk itu menandakan udara sedang labil. Ada proses konvektivitas atau pertumbuhan awan,” ujarnya.

Menurut dia, proses tersebut berkaitan dengan pemanasan matahari dan penguapan. Panas pada siang hari memicu penguapan, sementara energi panas dan uap air masih tersimpan ketika malam hingga pagi.

Baca Juga: BMKG Rilis Peringatan: El Niño Sangat Kuat 2026, Musim Hujan di Indonesia Mundur Massal

Kondisi itu kemudian bercampur dengan pemanasan matahari pada siang berikutnya. Proses tersebut terus berulang sehingga udara terasa panas dan lembap.

“Walaupun pertumbuhan awannya tidak sampai menghasilkan hujan, tetap ada awan yang tumbuh kemudian hilang,” jelasnya.

Giyarto menyebut suhu yang terukur saat ini cukup bervariasi, berada di kisaran 34 hingga 37 derajat Celsius. Namun, suhu yang dirasakan masyarakat bisa lebih tinggi tergantung lingkungan.

Kawasan perkotaan dengan dominasi jalan dan bangunan, misalnya, cenderung terasa lebih panas. Sebaliknya, kawasan dengan banyak pepohonan terasa lebih sejuk.

“Kalau di jalan raya menjadi lebih panas. Tetapi kalau di bawah pohon lebih segar. Tergantung posisi dan lingkungannya,” katanya.

Kondisi panas tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga memasuki November. Oktober secara klimatologis memang menjadi salah satu periode terpanas dalam setahun.

Untuk musim hujan, Giyarto memperkirakan sebagian wilayah mulai memasuki musim penghujan pada November. Di Jawa Tengah, khususnya, hujan diperkirakan mulai lebih terasa pada dasarian kedua November.

“Oktober ini secara umum masih pancaroba. November dasarian kedua sudah mulai,” terangnya.

Kondisi tahun ini berbeda dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pengaruh El Nino yang cukup kuat membuat curah hujan berkurang dan kondisi lebih kering.

Baca Juga: BMKG Ungkap Daftar Daerah Jateng yang Bisa Tembus 36°C, Ada Kotamu?

“Indeks El Nino sangat kuat. Ini sangat mengurangi curah hujan hingga akhir tahun,” ungkapnya.

Kondisi kering tersebut juga meningkatkan potensi kebakaran. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sembarangan, termasuk pembakaran lahan maupun sampah.

Giyarto menegaskan, kondisi kering membuat material lebih mudah terbakar. Terlebih di lokasi seperti TPA Jatibarang yang memiliki material mudah terbakar dalam jumlah besar serta potensi gas metana.

“Kalau sudah melakukan pembakaran akan susah mengantisipasinya karena mudah terbakar. Asapnya juga bisa mengganggu aktivitas masyarakat Kota Semarang,” tandasnya. (fgr)

Editor : Baskoro Septiadi
MUSIM PANCAROBA semarang musim panas BMKG KEMARAU