Pak Yai dan Bu Nyai Ngunduh Mantu 500 Pasang Santri

Budi Setiyawan • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 14:21 WIB
Bukan satu atau dua pasangan, Pak Yai dan Bu Nyai di Jawa Tengah bakal “ngunduh mantu” 500 pasang santri dalam satu rangkaian pernikahan massal di Masjid Agung Jawa Tengah.
Bukan satu atau dua pasangan, Pak Yai dan Bu Nyai di Jawa Tengah bakal “ngunduh mantu” 500 pasang santri dalam satu rangkaian pernikahan massal di Masjid Agung Jawa Tengah.

 

 

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG — Bukan satu atau dua pasangan, Pak Yai dan Bu Nyai di Jawa Tengah bakal “ngunduh mantu” 500 pasang santri dalam satu rangkaian pernikahan massal di Masjid Agung Jawa Tengah.

 

Program bertajuk “Pak Yai dan Bu Nyai Mantu 500 Pasang Santri” tersebut disiapkan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU Jawa Tengah bekerja sama dengan Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI melalui Bidang Bimas Islam Kanwil Kemenag Jawa Tengah.

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung Rabu, 21 Oktober 2026, mulai pukul 08.00 WIB, sebagai salah satu rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026.

Konsepnya bukan sekadar melangsungkan akad nikah, tapi juga memberikan bekal kepada pasangan santri untuk memasuki kehidupan rumah tangga dan membangun keluarga yang mandiri.

“Ide besarnya adalah menghadirkan RMI dan Bimas secara nyata di tengah-tengah kehidupan para santri, bukan hanya dalam bidang pendidikan keagamaan, tetapi juga dalam persoalan kehidupan yang mereka hadapi setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren,” kata PIC Pak Yai dan Bu Nyai Mantu, KH Sabiq Wafiyuddin atau Gus Sabiq.

Menurut Gus Sabiq, program tersebut berawal dari kepedulian RMI PWNU Jawa Tengah terhadap santri senior yang telah memiliki calon pasangan dan siap memasuki jenjang pernikahan.

Program ini juga terbuka bagi masyarakat umum yang memenuhi ketentuan dan memperoleh rekomendasi dari Pengurus NU, RMI, atau pesantren.

“Ini bagian dari RMI hadir, RMI peduli pesantren, kegiatan ini tak sekadar memfasilitasi ustaz, ustazah, pengurus, kang atau mbak ndalem di pondok pesantren yang sudah mempunyai calon atau sudah siap menikah, tetapi bagian dari dakwah atau mengajak kebaikan,” terang Ketua RMI PWNU Jawa Tengah KH Fadhlullah Turmudzi atau Gus Fadhlullah.

Setelah akad, pasangan pengantin akan mengikuti liqo ul ’arusain, yakni prosesi mempertemukan kedua mempelai yang dilanjutkan dengan doa khusus.

Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan ngaji pengantin yang berisi bekal bagi pasangan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan rumah tangga.

“Setelah akad ada liqo ul ’arusain atau mempertemukan dua mempelai sambil dilakukan doa khusus, baru ada ngaji pengantin sebagai bekal keduanya mengarungi bahtera rumah tangga dengan ujian badai yang harus disiapkan tips-tips solusinya,” jelas Gus Fadhlullah.

Konsep tersebut diarahkan untuk mewujudkan keluarga baity jannati, keluarga maslahat dalam bingkai sakinah, mawaddah, warahmah.

Tak berhenti pada prosesi pernikahan, panitia juga menyiapkan sejumlah fasilitas bagi peserta, mulai dari gratis biaya pendaftaran hingga subsidi MUA dan busana pengantin.

Peserta juga mendapat subsidi transportasi, voucher konsumsi, bantuan modal usaha, voucher menginap di hotel setelah akad nikah, serta bimbingan dan penyuluhan membangun keluarga maslahat.

“Pernikahan bukan hanya persoalan akad, tetapi juga tentang kesiapan membangun keluarga, kemandirian ekonomi, serta kemampuan menciptakan keluarga yang maslahat,” ujar Gus Sabiq.

Program tersebut diharapkan menjadi bentuk nyata kepedulian pesantren terhadap santri yang memasuki fase baru kehidupan sekaligus memperkuat kemandirian keluarga.

Acara akan dimeriahkan Alma Esbeye, pelantun sholawat yang dikenal luas di kalangan masyarakat.

Calon peserta wajib sudah memiliki pasangan yang telah disepakati dan memperoleh rekomendasi RMI PCNU atau pengurus NU setempat bagi peserta yang bukan santri atau alumni pesantren.

Bagi santri atau alumni pesantren, rekomendasi dapat diperoleh dari pondok pesantren, sedangkan seluruh persyaratan administrasi pernikahan harus telah dipenuhi dan dinyatakan lolos seleksi administrasi oleh KUA setempat.

Pendaftaran dibuka hingga 15 Oktober 2026 atau ditutup lebih awal apabila kuota 500 pasangan telah terpenuhi.

RMI PWNU Jawa Tengah menempatkan program tersebut sebagai bagian dari ikhtiar menyemarakkan Hari Santri Nasional 2026 sekaligus menghadirkan manfaat yang langsung dirasakan santri dan masyarakat.

Program ini sejalan dengan tema Hari Santri 2026 dari Kementerian Agama, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, serta tema PBNU, “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri.” (bud)

Editor : Tasropi
HARI SANTRI PWNU Jawa Tengah Kementerian Agama RI