RADARSEMARANG.ID, Semarang – Asap kebakaran TPA Jatibarang belum sepenuhnya hilang. Memasuki hari ketiga, Jumat (2/10), kepulan asap masih menyebar ke sejumlah permukiman di Kecamatan Ngaliyan. Radius sebarannya bahkan mencapai sekitar 10 kilometer dari lokasi kebakaran.
Arah angin yang berubah-ubah membuat asap tidak menetap di satu kawasan. Pagi hari menjadi waktu yang paling terasa. Bau sangit masih tercium, sementara kepulan asap terlihat di sejumlah titik.
Di Kecamatan Ngaliyan, sedikitnya tujuh kelurahan turut terdampak. Yakni Bambankerep, Kalipancur, Purwoyoso, Ngaliyan, Wates, Gondoriyo, dan Podorejo. Intensitas asap berbeda-beda, mengikuti arah dan kecepatan angin.
Camat Ngaliyan Moeljanto mengatakan, pada hari ketiga kondisi asap memang sudah jauh berkurang dibandingkan hari pertama dan kedua. Sebelumnya, asap cukup pekat terlihat di sepanjang Jalan Prof Hamka hingga kawasan exit tol Kalikangkung.
“Anginnya berubah-ubah dan cukup kencang. Kadang ke utara, selatan, barat maupun timur. Jadi wilayah yang terdampak tergantung arah anginnya,” katanya.
Bambankerep menjadi salah satu wilayah yang cukup terdampak. Warga di RW 1 dan sebagian RW 3 melaporkan asap cukup tebal. Di Purwoyoso, asap masih terasa sejak dini hari hingga sekitar pukul 08.00.
Lurah Purwoyoso Agus Riyanto mengatakan, bau asap bahkan masih tercium di dalam ruangan kantor kelurahan sekitar pukul 07.15. Namun, sejauh ini belum ada laporan gangguan kesehatan yang signifikan dari warga.
“Masih ada warga yang melaporkan pengaruh asap. Tapi belum ada yang mengeluh sesak napas,” ujarnya.
Keluhan juga muncul di Kelurahan Ngaliyan. Sejumlah warga mengaku mencium bau sangit dan merasakan napas agak sesak. Kondisi tersebut paling terasa pada pagi dan malam hari.
Lurah Ngaliyan Nur Kholis menyebut RW 6, RW 9, dan RW 12 menjadi wilayah yang cukup merasakan dampaknya. Posisi kawasan yang lebih tinggi membuat asap lebih mudah tercium.
“Biasanya terasa pagi dan malam. Kalau siang sudah tidak begitu,” katanya.
Asap juga berdampak pada aktivitas pendidikan. SDN 4 Ngaliyan menerapkan pembelajaran daring karena lokasinya berdekatan dengan TPA Jatibarang. Sementara siswa kelas VI tetap masuk untuk mengikuti simulasi ujian.
Pemerintah Kecamatan Ngaliyan bersama Puskesmas turut melakukan pemeriksaan kualitas udara. Hasil pengukuran di lingkungan SDN 4 Ngaliyan menunjukkan angka 19. Sementara ruang guru tercatat lebih dari 25.
Baca Juga: Kebakaran TPA Jatibarang Semarang Makin Meluas, Pemadaman Diperkirakan Capai 7 Hari
“Yang di sekolah hasilnya baik, tadi 19. Secara teknis ambang batasnya di bawah 25. Yang kurang baik justru di ruang guru,” jelas Moeljanto.
Selain Bambankerep, Purwoyoso dan Ngaliyan, asap juga sempat terpantau di Kalipancur, Gondoriyo, Wates, serta Podorejo. Namun, tingkat paparannya berbeda-beda.
Lurah Kalipancur, Taufiq Rizkyana menyebut, wilayahnya yang berbatasan langsung dengan Bambankerep tidak terdampak asap. Arah angin membuat kepulan asap tidak masuk ke permukiman.
Pemerintah Kecamatan Ngaliyan belum menerima laporan signifikan terkait warga yang harus mendapat penanganan medis akibat asap. Meski demikian, pemantauan terus dilakukan bersama Puskesmas.
Warga yang mengalami batuk, sesak napas atau gangguan pernapasan diminta segera memeriksakan diri. Laporan juga dapat disampaikan melalui RT/RW maupun kelurahan.
“Kami sudah mengimbau warga menggunakan masker. Kalau tidak ada kepentingan mendesak, sementara kurangi aktivitas di luar rumah,” kata Moeljanto.
Ia berharap proses pemadaman TPA Jatibarang segera benar-benar tuntas. Sebab, selama masih ada titik api dan angin bertiup kencang, asap berpotensi kembali bergerak ke permukiman.
“Ini sangat dipengaruhi angin. Mudah-mudahan pemadaman segera terkendali dan benar-benar padam,” harapnya. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi