Sempat Diadang dan Terlibat Aksi Dorong, Ribuan Mahasiswa BEM Semarang Raya Akhirnya Kepung Tugu Muda

Adennyar Wicaksono • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:53 WIB
Sempat di warnai aksi dorong, mahasiswa akhirnya diperbolehkan melakukan aksi di Tugu Muda
Sempat di warnai aksi dorong, mahasiswa akhirnya diperbolehkan melakukan aksi di Tugu Muda

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Ribuan massa aksi dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Semarang Raya menggelar aksi demo di Jalan Pemuda menuju Tugu Muda, Rabu (26/8) petang.

Maksud mereka adalah menyerukan Panca Tuntutan Rakyat (Pantura), yakni lima poin yang menjadi keresahan masyarakat, yakni Turunkan Harga Bahan Pokok dan BBM.

Lalu Kembalikan TNI dan Polri ke Fungsi Utama, Evaluasi Total MBG dan Hentikan Program KDMP, Kembalikan Kepemilikan Tanah Kepada Rakyat dan Segara Melakukan Rehabilitasi Terhadap Wilayah Bencana, Kelima adalah mendesak Penghentian Praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme di Lingkungan Pemerintahan.

Baca Juga: Hakim Belum Siap, Vonis Gus Yazid Ditunda

Mereka bergerak dengan aksi long march mulai dari titik Nol Kilometer Kota Semarang menuju Tugu Muda, namun massa tertahan oleh aparat kepolisian yang memblokade Jalan Pemuda.

Aksi saling dorong sempat terjadi, antara mahasiswa dan petugas, sembari memberikan salam Tiga Jari, yakni lambang perlawanan terhadap tirani.

Namun setelah berdialog, petugas membuka jalan menuju Tugu Muda, dan mengawal para demonstran agar berjalan dengan tertib.

Rangga mewakili BEM Undip menyatakan bahwa, aksi tersebut membawa lima poin tuntutan rakyat diantaranya adalah turunkan harga poko hingga kembalikan supremasi rakyat.

"Satu, turunkan harga bahan pokok dan BBM. Dua, kembalikan TNI dan Polri ke fungsi utama. Tiga, evaluasi total program MBG dan hentikan program KDMP. Empat, kembalikan kepemilikan tanah ke rakyat dan rehabilitasi segera wilayah terdampak bencana. Lima, hentikan praktik KKN di lingkungan pemerintahan," tegasnya.

Sementara, Hasan mewakili BEM Unnes mengatakan lima tuntutan tersebut masih relevan karena hingga kini belum ada penyelesaian konkret yang benar-benar dirasakan masyarakat.

“Per hari ini pemerintah belum melakukan penyelesaian yang begitu konkret dan bisa dirasakan masyarakat. Setelah kami melakukan konsolidasi dan kajian, isu-isu atau tuntutan ini masih relevan,” kata Hasan.

Salah satu tuntutan yang kembali disuarakan yakni penurunan harga bahan pokok dan bahan bakar minyak (BBM). Hasan menilai harga Pertamax yang saat ini berada di kisaran Rp15 ribu per liter masih tergolong tinggi.

Kondisi tersebut dinilai berdampak terhadap masyarakat, termasuk pengemudi ojek online yang kemudian beralih menggunakan Pertalite.

Baca Juga: PT Motu di BSB Semarang Didemo, Massa Tuntut Transparansi Legalitas dan Dokumen Lingkungan

"Pertamax masih menginjak Rp15 ribu per liter. Memang sudah ada penurunan dari sebelumnya Rp16 ribu, tetapi penurunan tersebut belum signifikan dan belum menjawab permasalahan masyarakat," ujarnya.

Menurutnya, peralihan pengguna Pertamax ke Pertalite turut membuat antrean Pertalite semakin panjang dan akses masyarakat terhadap BBM bersubsidi menjadi lebih sulit.

"Banyak pengguna Pertamax, misalnya teman-teman ojol. Karena Pertamax mahal, akhirnya mereka beralih ke Pertalite. Antriannya kemudian membludak dan akses terhadap Pertalite menjadi susah,"jelasnya.

Aksi mereka berlangsung sampai setelah diperbolehkan menuju kawasan Tugu Muda, meskipun dikawal ketat.

Mereka sempat menabur bunga diatas aspal sebagai bentuk matinya demokrasi. Lima tuntutan pun dibacakan para mahasiswa sembari menghadapi ke Museum Mandala Bhakti.

Setelah selesai, mereka langsung membubarkan diri secara tertib, dan menuju titik 0 kilometer dengan kawalan petugas.

"Yang tertib ya, jalan dipinggir biar ngga bikin macet," ujar salah satu petugas. (den)

Editor : Baskoro Septiadi
Tugu Muda Mahasiswa Semarang Demo