RADARSEMARANG.ID, Semarang -Fenomena kekurangan murid melanda ratusan Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kota Semarang pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB/SPMB) tahun ini.
Meski Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang sudah membuka pendaftaran gelombang kedua, ribuan bangku kosong di sekolah pelat merah tersebut masih gagal terisi.
Pendaftaran gelombang kedua yang dibuka dari tanggal 22 Juni hingga 26 Juni lalu rupanya belum mampu mendongkrak angka partisipasi secara signifikan. Dari ribuan kuota yang tersisa, bangku yang terisi masih sangat minim.
Baca Juga: Diduga Mabuk, Polisi Buru Sopir Hyundai Santa Fe Pelaku Tabrak Lari Beruntun di Semarang
"Setelah dibuka gelombang kedua, jumlah yang mendaftar ada 449 siswa, jadi sisanya 1.646 kuota yang belum terisi," ungkap Kabid SD Disdik Kota Semarang, Aji Nur Setiawan, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (29/6).
Aji membeberkan bahwa ribuan kuota yang lowong tersebut tersebar di 163 SD Negeri di seluruh penjuru ibu kota Jawa Tengah.
Dari total 16 kecamatan yang ada di Kota Semarang, ironisnya hanya ada dua wilayah yang berhasil memenuhi seluruh kuota daya tampung siswanya.
"Yang kuota siswanya terpenuhi hanya dua kecamatan yakni Genuk dan Pedurungan, sisanya di 14 kecamatan ada sekolah yang tidak memenuhi kuota," bebernya.
Terkait kondisi ruang kelas yang sepi peminat ini, Disdik Kota Semarang menegaskan bahwa jalannya roda pembelajaran tidak akan terganggu.
Kendati demikian, sekolah harus bersiap menerima konsekuensi logis terkait anggaran operasional yang bersumber dari pemerintah.
"Tidak ada efek signifikan, misal kuota 28 siswa hanya terisi 8 atau berapa, kegiatan belajar tetap berjalan. Tapi bantuan BOS yang diterima menyesuaikan jumlah siswa," jelas Aji.
Selain anggaran BOS yang menyusut, Disdik memastikan tidak akan ada kebijakan mutasi atau pergeseran guru kelas akibat minimnya murid baru ini.
Sebagai contoh, Aji menyebutkan kasus di SD Krapyak yang awalnya membuka 3 rombongan belajar (kelas) dan sempat kekurangan siswa.
Setelah keran pendaftaran gelombang kedua dibuka, sekolah tersebut masih menyisakan 18 kuota kosong. Namun, para pendidik di sana dipastikan akan tetap bertugas seperti biasa.
"Dia tetap ngajar walaupun jumlah siswanya tidak terpenuhi," tambah dia.
Baca Juga: Tebing 4 Meter Ambrol, Longsor Gajahmungkur Semarang Hantam Pemukiman Padat
Ketika disinggung mengenai rencana penggabungan (merger) bagi sekolah-sekolah yang menjadi langganan krisis siswa, Disdik mengaku belum akan mengambil langkah ekstrem tersebut dalam waktu dekat.
Pertimbangan utamanya adalah faktor geografis dan aksesibilitas anak-anak di tingkat kelurahan.
"Misalnya jika di satu kelurahan hanya ada satu SD, walaupun jumlah siswanya sedikit belum ada rencana merger," tegasnya.
Jika dipaksakan bergabung, Disdik khawatir jarak rumah ke sekolah yang terlalu jauh justru akan menyulitkan anak-anak.
Mengenai akar masalah sepinya peminat di sekolah negeri, Aji menganalisis adanya pergeseran demografi di wilayah perkotaan serta ketatnya persaingan dengan sektor swasta.
"Karena keluarga baru memilih tinggal dipinggiran. Harga tanah disana lebih murah, nah yang di tengah kota ini kekurangan karena usia sekolah sedikit, lalu mereka juga memilih swasta," pungkasnya.(den)
Editor : Baskoro Septiadi