RADARSEMARANG.ID, Semarang - Bencana tanah longsor kembali mengintai permukiman padat di Kota Semarang. Sebuah rumah kontrakan di Jalan Cikurai II RT 05 RW 02, Kelurahan Gajahmungkur, Kecamatan Gajahmungkur, rusak berat setelah diterjang longsoran tebing, Sabtu (27/6) sekitar pukul 13.15.
Dua kamar tidur jebol diterjang material tanah. Beruntung, seluruh penghuni berhasil menyelamatkan diri meski sempat terjebak kepanikan.
Pantauan Jawa Pos Radar Semarang di lokasi, Senin (29/6), bekas longsoran masih tampak menganga di belakang rumah kontrakan tersebut.
Sebagian badan jalan kampung di atas titik longsor ikut ambles sehingga dipasangi terpal sebagai penahan sementara. Namun, terpal itu tampak robek dan porak-poranda akibat pergerakan tanah yang masih terjadi.
Di bawah lereng, material tanah masih menumpuk menutupi bagian belakang rumah yang rusak.
Sejumlah pekerja Disperkim bersiap membersihkan longsoran, sementara perangkat kelurahan, Babinsa, PSM, dan warga terus memantau kondisi tebing.
Warga juga bergotong royong membersihkan sisa material sembari mengantisipasi longsor susulan karena rembesan mata air dari lereng hingga kini masih terus mengalir.
Longsor diduga dipicu rembesan air dari sedikitnya lima mata air yang berada di lereng atas rumah.
Kondisi tanah yang terus basah membuat tebing kehilangan daya ikat hingga akhirnya ambrol meski saat kejadian tidak turun hujan.
Rumah milik Zainatun itu selama ini dikontrakkan kepada warga berpenghasilan rendah.
Saat longsor terjadi, rumah ditempati beberapa penyewa, di antaranya Yayuk yang tengah hamil tua, Lami, seorang lansia yang baru pulang menjalani perawatan di rumah sakit, serta seorang balita.
Baca Juga: Masih Ingat Kasus Dugaan Penipuan Biro Umroh Carmilla Salim Mubarok Temanggung? Begini Kelanjutannya
Zainatun menuturkan, dirinya baru saja selesai menunaikan salat zuhur ketika mendengar suara gemuruh dari belakang rumah.
"Saya habis salat zuhur, terus terdengar suara keras, 'greg... greg...'. Suami saya sama cucu langsung lari. Saya masuk lagi menolong tiga orang yang ada di dalam rumah. Alhamdulillah semuanya selamat, hanya syok dan gemetar," ujarnya.
Ia mengatakan, ketiga penghuni berhasil dievakuasi tanpa mengalami luka. Namun, Lami yang masih dalam masa pemulihan setelah dirawat di rumah sakit langsung mengungsi ke rumah saudaranya karena rumah sudah tidak layak ditempati.
Menurut Zainatun, longsor kali ini merupakan yang terparah. Sebelumnya, lereng di belakang rumah sudah beberapa kali mengalami pergerakan tanah hingga menyebabkan retakan pada bangunan.
"Tidak hujan sama sekali waktu kejadian. Memang tanahnya empuk karena banyak sumber air. Ada sekitar lima titik mata air di atas sana. Sudah empat kali kejadian, tapi yang sekarang paling parah sampai menjebol dua kamar," katanya.
Ia juga mengungkapkan, sekitar sepekan sebelum longsor terjadi, lahan di bagian atas lereng sempat dikeruk. Namun, menurutnya, kondisi tanah memang sudah lama labil karena terus dialiri mata air dari dalam lereng.
Akibat kejadian tersebut, para penghuni rumah terpaksa mengungsi sementara ke rumah keluarga yang berada di sebelah lokasi. Kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.
Kepala Seksi Pemerintahan, Ketenteraman, dan Ketertiban Umum Kelurahan Gajahmungkur, Sumartono, menjelaskan, hasil asesmen menunjukkan dimensi longsoran mencapai sekitar 10 meter dengan tinggi empat meter. Longsoran berasal dari lahan milik warga yang berada tepat di atas rumah korban.
"Dari hasil pengecekan ternyata di bawah tanah tersebut terdapat mata air yang selama ini terus merembes. Akibatnya struktur tanah menjadi labil dan akhirnya longsor hingga menjebol bangunan rumah. Kejadian kali ini lebih besar dibanding longsor sebelumnya," jelasnya.
Pihak kelurahan bersama Kecamatan Gajahmungkur, Babinsa, Bhabinkamtibmas, BPBD Kota Semarang, serta Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang langsung melakukan asesmen, memasang terpal darurat, serta menyiapkan pembersihan material longsoran. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi