RADARSEMARANG.ID, Semarang - Tingginya temuan kasus HIV di Kota Lunpia, mendapatkan sorotan DPRD Kota Semarang.
Bahkan ada laporan dari warga jika salah satu tempat indekos di Peleburan, menjadi basecamp komunitas gay tinggal.
Data yang dihimpun dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semayang, kelompok risiko dengan proporsi temuan tertinggi berasal dari Laki-laki Seks dengan Laki-laki (LSL) sebesar 44%, diikuti pasien Tuberkulosis (TBC) 12%.
Baca Juga: SPMB 2026 Jateng: Daftar Lengkap Wilayah Zonasi 16 SMA Negeri di Semarang
Lalu pasangan risiko tinggi 11%, populasi umum 11%, pasien Infeksi Menular Seksual (IMS) 9%, pelanggan pekerja seks 5%, dan wanita pekerja seks 2%. Sementara sampai Mei kemarin, sudah ada 240 kasus baru yang ditemukan Dinkes.
"Kemarin saya konfirmasi ke Dinkes, tingginya kasus tersebut berasal 40 persen dari pendatang, dan 60 persennya warga Semarang," kata Anggota DPRD Kota Semarang, Siti Roika kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (17/6).
Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang ini menerangkan, banyak pendatang yang merupakan mahasiswa dan pekerja terjangkit HIV karena efek dari pergaulan bebas.
Untuk itu, pihaknya meminta Pemkot getol melakukan pembinaan kepada remaja sebagai langkah preventif.
Baca Juga: Daftar 16 Wilayah Zonasi SMA Negeri di Semarang untuk SPMB 2026
"Sampai saat ini langkah preventif dari beberapa dinas belum terlihat, pergaulan bebas harus menjadi konsen. Basic pointnya ada di keluarga yakni DP3A, Disdalduk KB, Dinkes, dimana bina remaja harus dikuatkan," bebernya.
Dia meminta agar Dinkes bisa melakukan mitigasi, apalagi kasus HIV di Semarang yang tinggi, karena pergaulan bebas sebagian mahasiswa pendatang, mulai dari LSL yang sudah mewabah, bahkan tinggal bersama di sebuah rumah indekos.
Ika sapaannya menjelaskan, dirinya sempat mendapatkan laporan dari salah satu warga, dimana salah satu rumah indekos di Peleburan, menjadi tempat tinggal atau base camp kaum LSL.
"Saya sempat mendapatkan laporan, ada rumah kos yang dijadikan base camp. Untuk itu Pemkot harus bergerak untuk melakukan mitigasi. Kita juga akan konfirmasi langsung dengan pihak-pihak terkait," tegasnya.
Selain itu, pihaknya meminta aturan tegas terkait fenomena peningkatan angka HIV di Semarang harus menjadi perhatian.
Apalagi LGBT, terbukti menjadi penyumbang angka HIV di Semarang."Kalau agama memang dilarang, untuk itu harus ada aturan tegas dari pemerintah agar fenomena ini bisa ditekan," pungkasnya.
Sebelumnya, Kepala Dinkes Kota Semarang, M. Abdul Hakam menerangkan temuan kasus yang mengalami peningkatan ini, terjadi karena Dinkes gencar melakukan skrining sebagai langkah pencegahan.
"Kenaikan kasus ini terjadi karena Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, gencar melakukan layanan skrining dan deteksi dini, berupa layanan tes HIV di faskes dan kelompok masyarakat yang memiliki resiko," kata Hakam. (den)
Editor : Baskoro Septiadi