Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Empat Gunungan Diarak, Apitan Siwalan Kian Semarak

Radar Semarang • Minggu, 10 Mei 2026 | 16:42 WIB
Kirab empat gunungan di Kelurahan Siwalan sebagai ungkapan syukur warga, Sabtu (9/5) sore. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG 
Kirab empat gunungan di Kelurahan Siwalan sebagai ungkapan syukur warga, Sabtu (9/5) sore. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG 

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Empat gunungan hasil bumi diarak menyusuri jalan kampung dalam tradisi apitan Kelurahan Siwalan, Sabtu (9/5) sore.

Kirab dimulai dari kawasan SMA Kesatrian 2 menuju Balai Kelurahan Siwalan, menempuh jarak sekitar 500 meter.

Sepanjang rute, warga berjejer menyaksikan arak-arakan penuh warna yang memadukan tradisi, kreativitas, dan semangat kebersamaan.

Baca Juga: Ketika Cinta Bertahan Ditengah Jeratan Hukum, Akad Nikah di Ruang Satreskrim Salatiga

Dari pantauan di lapangan, masing-masing gunungan ditata dari aneka sayur dan buah hasil urban farming warga. Bentuknya menjulang dengan ragam variasi yang mencuri perhatian.

Tidak hanya itu, barisan peserta kirab juga tampil unik dengan kostum berbahan daur ulang. Mulai dari plastik hingga kertas, yang disulap menjadi busana atraktif.

Lurah Siwalan, Niken Nugrahaeni, mengatakan pelaksanaan apitan tahun ini pada dasarnya masih sama seperti tahun sebelumnya.

Namun, partisipasi warga diperluas hingga tingkat RT, termasuk dalam lomba urban farming yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.

Baca Juga: Pemkot Semarang Tempuh Upaya Banding Atas Putusan PTUN Terkait Sengketa Ketidakpuasan Pemberhentian Direksi Lama PDAM Tirta Moedal

Inovasi lain yang menonjol adalah hadirnya kostum daur ulang dalam kirab. Jika tahun sebelumnya belum ada, kini warga mulai memanfaatkan hasil pilah sampah menjadi busana yang layak tampil.

"Sekarang mereka mulai menggunakan kostum dari hasil pilah sampah. Ini bagian dari inovasi wilayah mendukung program Semarang Bersih," jelas Niken.

Baca Juga: 30 Ribu RTLH di Jateng Dibedah Tahun Ini

Ketua LPMK Kelurahan Siwalan, Nuryanto, menegaskan, apitan merupakan tradisi yang telah lama mengakar di masyarakat. Bahkan, kegiatan ini sudah ada sejak Siwalan masih bergabung dengan Kelurahan Sambirejo.

"Ini rutinitas satu tahunan, bertepatan dengan sedekah bumi. Tujuannya untuk mempertahankan budaya Jawa, termasuk wayang kulit," terangnya.

Ia berharap tradisi tersebut terus dilestarikan dan menjadi perekat kebersamaan warga di tengah perkembangan zaman.

Apresiasi juga datang dari Ketua PKK Kecamatan Gayamsari, Dwi Wahyu Ratna Damayanti.

Menurutnya, ragam lomba yang digelar, mulai dari gunungan, kostum unik, hingga tumpeng, menjadi daya tarik tersendiri sekaligus ruang ekspresi kreativitas warga.

"Harapannya ini bisa dilestarikan, dilanjutkan sampai seterusnya. Bahkan bisa ditingkatkan lagi supaya lebih meriah. Ini bagus, sangat bagus," ujarnya.

Setibanya di balai kelurahan, kirab dilanjutkan dengan penyerahan tumpeng dan hiburan rakyat. Puncak acara digelar pada malam hari dengan pagelaran wayang kulit mulai pukul 19.30.

Bagi warga Siwalan, apitan bukan sekadar agenda tahunan. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur atas limpahan hasil bumi sekaligus momentum mempererat kebersamaan.

Empat gunungan yang diarak sore itu bukan hanya simbol kemakmuran, tetapi juga cermin semangat gotong royong yang terus dijaga dari generasi ke generasi. (fgr)

Editor : Baskoro Septiadi
#kelurahan siwalan #pemkot semarang