RADARSEMARANG.ID, Semarang - Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengunjungi warga yang rumahnya terdampak tanah longsor Kampung Kalialang Lama, Kelurahan Sukorejo, Gunungpati, Selasa (5/5).
Agustina melihat kondisi rumah warga yang terdampak longsor, dia juga sempat berbincang dengan Markonah korban longsor, serta memintanya untuk pindah.
Sedikitnya ada tiga rumah yang longsor hingga jatuh ke Sungai Kripik. Pihaknya langsung berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) yang ikut datang ke lokasi untuk memberikan penanganan agar longsor tidak meluas.
"Tadi sudah koordinasi dengan BBWS, semoga segera ada solusinya,"katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Agustina meminta warga di sekitar lokasi untuk mengungsi sementara ditempat pengungsian yang akan disiapkan oleh Pemkot Semarang, hal ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya longsor susulan.
"Kalau potensi yang terdampak (longsor susulan) itu ada sekitar tujuh rumah dengan jumlah 23 jiwa. Kalau yang sudah benar-benar terdampak (longsor) ada tiga rumah yang roboh," kata Agustina.
Agustina juga bertemu dengan Tiara Wati, ibunda Ar Rasya Devinka Putri Azzahra yang Senin (4/5), menjadi korban meninggal dunia, setelan tertabrak truk di Jalan Prof. Hamka untuk memberikan ucapan belasungkawa.
Baca Juga: Pertama di Indonesia, Jateng Inisiasi Kurikulum Perkoperasian Mulai Jenjang SD hingga SMA
Tiara nampak tak kuasa menahan tangis, menjelaskan kronologi kejadian kecelakaan kepada Agustina. Agustina pun berusaha menguatkan Tiara, dengan beberapa kali mengusap pundak dan memeluk Tiara.
Setelah berbincang, Agustina meminta ketua RT setempat untuk tetap waspada dan berkoordinasi dengan pihak kecamatan, untuk mewaspadai longsor susulan.
Setelah melakukan koordinasi, korban terdampak longsor akan diungsikan sementara di Pesantren Delik kan tidak jauh dari lokasi.
Dia juga menginstruksikan kepada BPBD untuk menyiapkan bantuan bencana bagi warga.
Pasalnya, warga yang terdampak belum bisa kembali bekerja sehingga Pemkot berupaya memenuhi kebutuhan harian.
"Saya minta untuk dipastikan dulu untuk diberesi (pesantren delik) karena ada anak-anak. Kebutuhan sehari-hari saya minta BPBD turunkan bantuan bencana," tuturnya.
Selain itu ia juga meminta kepada PDAM Tirta Moedal Semarang untuk memastikan ketersediaan air bersih di tempat pengungsian sementara.
"Saya minta PDAM juga untuk memastikan air bersih. Sementara mengungsi dulu sembari kita pikirkan langkah selanjutnya," pungkasnya
Kepala Dinas Penataan Ruang (Distaru) Kota Semarang, Ferry Kuntoaji menyebut kawasan RT 05 RW 01 termasuk wilayah rawan bencana. Rumah warga yang terdampak disebut tidak melanggar aturan tata ruang karena masih berada di luar batas sempadan sungai.
Baca Juga: Pemkot Semarang Pecahkan Rekor Dunia MURI, 10.052 Lumpia Gratis Dibagikan di Hari Jadi ke-479
"Tidak menyalahi tata ruang, masih di dalam kawasan permukiman sebenarnya dengan tetap menyediakan ruang untuk sempadan. (Longsor) ini karena tanahnya labil," ungkap Ferry.
Dia menjelaskan kawasan yang masuk kategori rawan bencana diperbolehkan di bangun perumahan. Hanya saja syarat konstruksi bangunan harus diperkuat untuk mengantisipasi longsor.
"Seringkali IMB atau PBG tidak dipakai sebagai acuan dalam mendirikan rumah di wilayah rawan. Ini yang menjadi permasalahan," paparnya.
Sementara untuk penanganan jangka pendek pascalongsor, Pemkot Semarang akan fokus pada penguatan struktur tanah dan pembangunan talud guna mencegah longsor susulan.