Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Duka Markonah Belum Rampung, Setelah Kehilangan Cucu, Terancam Kehilangan Rumah Akibat Longsor di Kalialang Semarang

Adennyar Wicaksono • Selasa, 5 Mei 2026 | 19:50 WIB
RUSAK PARAH : Rumah warga di Kalialang Lama, terancam rata dengan tanah.
RUSAK PARAH : Rumah warga di Kalialang Lama, terancam rata dengan tanah.

RADARSEMARANG.ID, Semarang — Bendera kuning serta tenda masih terpasang di rumah milik Suyono, warga Kalialang Lama, RT 05 RW 01 Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Selasa (5/5).

Disana terdapat Markonah, wanita yang berusia 60 tahun. Dia masih menyimpan duka yang mendalam usai kehilangan cucu kesayangannya yang masih berusia lima tahun bernama Ar Rasya Devinka Putri Azzah, karena menjadi korban kecelakaan di Jalan Prof. Hamka Ngaliyan, bersama kedua orang tuanya.

Mata Markonah masih nampak berkaca-kaca meratapi nasibnya. Paska kehilangan cucu, dia harus meratapi rumah tempat dirinya berteduh terkena longsor.

"Betul itu cucu beliau (korban kecelakaan di Ngaliyan, red)," kata salah satu kerabat korban.

Baca Juga: Daftar 9 Motor Bekas Murah di Bawah Rp10 Juta Paling Bandel 2026, Irit dan Awet!

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, ada tiga rumah yang mengalami kerusakan parah, dua rumah tidak bisa ditinggali dan satu rumah terlihat tembok yang mulai retak.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, tanah longsor di permukiman tersebut terjadi dua kali.

Pertama pada Senin (23/3) yang mengakibatkan satu rumah milik Markonah terdampak.

Tanah longsor kembali terjadi pada Sabtu (2/5) dan mengakibatkan dua rumah warga milik Indah dan Suyono terdampak.

Kerusakan pada kedua rumah tersebut tergolong parah sehingga tidak lagi layak untuk dihuni.

 

Tak sampai disitu, longsor juga menghantui rumah Sri Wahyuni yang sudah sampai di halaman depan.

Dia mengaku sempat merasakan getaran saat longsor pertama terjadi di sekitar rumahnya.

Pergerakan tanah bermula dari lahan kosong sebelum merusak rumah warga.

Baca Juga: Lari Sambil Pantau Sampah, Pelari Run for Rivers Tiba di Gringsing Batang

"Pas kejadian longsor itu saya kebetulan lagi di teras rumah dan terasa ada getaran. Lahan kosong dulu (longsor), terus lama-lama merembet ke rumah warga," kata Sri Wahyuni.

Dia mengaku setiap kali hujan turun diselimuti rasa khawatir akan longsor susulan.

Sri Wahyuni juga belum bisa memastikan apakah akan tetap bertahan atau pindah ke tempat yang lebih aman.

"Rumah Bu Markonah sama Bu Indah itu paling parah. Sudah tidak ditempati, setiap hari saat hujan masih terdengar suara longsoran,"jelasnya.

Terpisah Ketua RT 05 Sabar Wahyudi menjelaskan kronologis beberapa rumah warganya yang menjadi korban longsor.

Jumat (1/5) beberapa rumah mulai mengalami keretakan setelah hujan lebat mengguyur. Salah satunya rumah Ibu Markonah yang berisi tiga jiwa akhirnya longsor.

Kemudian pada 2 Mei menyusul rumah Bapak Agung yang berisi tiga jiwa juga harus longsor.

Pada tanggal 3 Mei, rumah Pak Suyono yang dihuni lima jiwa kemudian menyusul longsor.

"Tadi malam abis isya yang tadinya rumahnya membelah ini jadi roboh semua. Tapi tidak ada korban jiwa, total ada 4 keluarga atau 11 jiwa yang terdampak," jelasnya.

Dia menjelaskan,  ada tiga rusak yang sudah rusak akibat longsor dan tujuh rumah lainnya berpotensi mengalami hal yang sama karena sudah ada retakan di dalam rumah.

Baca Juga: Batasi Durasi Tinggal di Rusun, Pemkot Emarang Ajukan Revisi Perda Rusun

Warga yang terdampak sejauh ini masih mengungsi di rumah warga lain yang rumahnya tidak terdampak. Namun dia meminta warga yang rumahnya sudah mulai retak untuk segera mengungsi.

"Karena potensi longsor masih bisa terjadi jika hujan lebat masih mengguyur Kota Semarang," bebernya.

Dia berharap, ada relokasi yang dilakukan Pemkot, meskipun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berupa logistik dan terpal, namun tidak bisa meminimalisir longsor, cara ini ternyata tidak bisa membendung longsor lanjutan yang dialami warga hingga saat ini.

Sabar mengatakan selama puluhan tahun tinggal di kawasan tersebut, memang belum pernah mengalami musibah tanah longsor. Hingga saat ini sudah lebih dari 2.000 meter persegi lahan pemukiman yang longsor ke arah Sungai Kripik.

"Kalau relokasi pengennya yang tidak jauh dari sini karena warga pekerjaan dekat-dekat sini," pungkasnya. (den)

Editor : Baskoro Septiadi
#kecelakaan ngaliyan semarang #Wali Kota Semarang #Longsor kalialang #Agustina Wilujeng Pamestuti