RADARSEMARANG.ID, Semarang - Perbuatan mahasiswa Fakultas Hukum, Chiko Radityatama Agung Putra yang mengedit ribuan foto video pornografi tak ditolerir pihak kampus.
Rektor Universitas Diponegoro (Undip), Suharnomo, menegaskan akan bergerak cepat menangani kasus dugaan kekerasan seksual berbasis digital tersebut. Ia menyatakan dalam waktu dekat Chiko bakal diperiksa.
"Sudah ada gelar perkara internal. Sebenarnya hampir semua kegiatan yang dia lakukan saat di SMA. Tapi kami akan pasti panggil di minggu ini," kata Suharnomo di Muladi Dome, Jumat (17/10/2025).
Baca Juga: Dekan FH Undip Buka Suara, Mahasiswa Pengedit Foto dan Video SMAN 11 Semarang Pakai AI Terancam DO
Dalam menangani kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus yang melibatkan mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan, lanjut Suharnomo, Undip sendiri sudah memiliki sistem khusus.
Sehingga berkaitan dengan sanksi, ia mengatakan hal itu akan menunggu hasil pemeriksaan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) Undip.
Ia menyebut pihaknya sudah merespon cepat terkait masalah-masalah mahasiswa termasuk yang ada di masyarakat.
"Saya rasa kita juga fast response untuk semua masalah yang ada di masyarakat dan juga di mahasiswa kita. No worries, dalam arti kalau mahasiswa terlibat di dalamnya, bisa lebih cepat lagi (penanganan, Red). Karena mahasiswa juga bagian dari tim," kata dia.
Menurutnya, adanya pelanggaran moral yang dilakukan mahasiswanya meski terjadi sebelum menjadi mahasiswa, akan menjadi pertimbangan.
Baca Juga: Disdikbud Jateng Data Korban Kasus Pornografi SMAN 11 Semarang Berbasis AI Buatan Mahasiswa Undip
"Yang dilakukan pada fokus saat dia di SMA. Namun demikian kita tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi. Mudah-mudahan sistem mekanisme yang kita punya bisa memberikan keadilan yang terbaik bagi semuanya," tegasnya.
Dirinya menegaskan Undip bersikap terbuka dalam proses penanganan kasus ini. Ia menyebut kampus melibatkan banyak pihak, termasuk dosen yang menguasai digital hingga psikologi.
"Kita juga sudah undang LSM yang terkait dengan itu. Kemudian juga mendengar dari kanan-kiri, yang ngerti digital, dosen-dosen dan kita yang ngerti digital, saya juga dari psikologi dan juga dikomandoi oleh Pak WR 1, sudah jalan," bebernya.
Diberitakan sebelumnya, dunia pendidikan digegerkan dengan terkuaknya kasus pelecehan seksual berbasis digital menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Salah seorang alumni SMAN 11 Semarang melakukan perbuatan tak senonoh dengan mengedit serta mengunggah foto dan video teman-temannya tanpa izin di media sosial. (ifa)
Editor : Baskoro Septiadi