Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Mengenal Ndas Maling, Jajanan Khas Genuk Semarang yang Kaya Filosofi dan Cita Rasa

Figur Ronggo Wassalim • Kamis, 25 September 2025 | 22:37 WIB
Ndas Maling, cita rasa khas Genuk
Ndas Maling, cita rasa khas Genuk

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Suasana riuh rendah terdengar dari halaman Kecamatan Genuk, Kamis (25/9) pagi.

Puluhan ibu-ibu PKK dari 13 kelurahan tampak sibuk meracik tepung beras, kelapa parut, dan gula jawa.

Mereka bukan sekadar memasak, melainkan mengikuti cooking class istimewa. Yakni, membuat Ndas Maling, jajanan tradisional yang hampir hilang dari ingatan.

 Baca Juga: Tuntut Nafkah Rp 100, Tasya Farasya Hadiri Sidang Perceraian Sambil Bawa Tas Hermes Birkin Himalaya

Aroma kelapa parut yang baru saja disiapkan menyeruak dari meja kayu panjang di Halaman Kecamatan Genuk.

Di sana, ibu-ibu PKK berdiri melingkar, menunggu giliran untuk mencoba membuat jajanan tradisional yang sudah lama hanya terdengar namanya: Ndas Maling.

Prosesnya sederhana, tapi butuh ketelatenan. Tepung beras halus dituang ke dalam wadah besar, lalu bercampur dengan kelapa parut dan sedikit garam.

Air ditambahkan perlahan, sambil tangan-tangan terampil mengaduknya hingga membentuk butiran-butiran kecil.

“Kuncinya di sini, jangan sampai kebanyakan air, kalau terlalu basah nanti adonannya gampang hancur,” ujar salah satu instruktur sembari memperlihatkan cara yang benar.

 Baca Juga: Pesona Davina Karamoy Semakin Bersinar lewat Perannya di Film Kang Solah from Kang Max X Nenek Gayung

Adonan kemudian dibungkus kain bersih dan dikukus sekitar 15 menit. Dari kukusan panas, aroma khas tepung beras kukus bercampur dengan wangi kelapa pun mulai menguar.

Setelah kain dibuka, adonan yang masih mengepul panas diaduk lagi supaya tidak menggumpal.

Tahap berikutnya, irisan tipis gula aren dan sedikit gula pasir dimasukkan. “Di sini letak rasa manisnya.

Kalau dulu, kata orang tua kami, pakainya gula jawa asli biar legit,” kata Sukima, warga Kudu yang sejak kecil sudah akrab dengan jajanan ini.

Dengan cekatan, adonan lalu dibentuk bulat-bulat kecil, sebesar kelereng hingga bola pingpong, sesuai selera. Bulatan itu kembali masuk ke dalam kukusan selama 20–30 menit hingga matang sempurna.

Cooking class itu menjadi ajang nostalgia sekaligus pembelajaran. Aroma harum kelapa parut dan manisnya gula jawa bercampur di udara, menyatukan tawa dan keseriusan para peserta.

 Baca Juga: Tanah Amblas Sedalam 50 Meter, Tiba-tiba Muncul Sinkhole di Bangkok

Di sela-sela memasak, Sukimah, warga Kudu menceritakan sejarah asal-usul Ndas Maling sendiri tak lepas dari cerita warga Kudu. Warga RT 6 RW 5 itu menyebut jajanan ini erat dengan makam keramat Mbah Senari.

Dulu, maling-maling kerap bertapa di sana agar selamat dalam aksinya. Bahkan, para penggembala kerbau pun melakukan semedi agar selalu menang ketika berebut lahan.

“Kalau habis panen, warga bikin bancaan bareng di makam Mbah Senari dengan membawa jajanan dari beras. Dari situlah muncul sebutan Ndas Maling,” tandasnya.

Ia menambahkan, dulu, Ndas Maling hanya hadir setahun sekali saat tradisi bulan Suro. Namun, kini jajanan itu didorong menjadi ikon baru kuliner Semarang.

Suasana kian meriah ketika kukusan terakhir dibuka. Uap panas mengepul, memperlihatkan deretan bola-bola kecil Ndas Maling yang baru matang. 

 

Satu per satu ibu-ibu PKK mencoba mencicipinya. Ada yang langsung tersenyum karena rasanya legit, ada pula yang terkekeh sambil menyebut adonannya terlalu manis.

“Wah, enak. Ini rasanya mirip yang dulu pernah saya makan waktu kecil,” seru seorang peserta sambil mengangguk-angguk puas.

 Baca Juga: Tahan Lama, Inilah Rekomendasi Parfum Lokal Under Rp 100 Ribu dengan Aroma Awet Seharian

Camat Genuk, Pranyoto, menjelaskan sebenarnya makanan atau jajanan Ndas Maling ini memang sudah ada sejak dulu di Kecamatan Genuk. Terutama asalnya dari Kelurahan Kudu.

Bahannya sederhana, ada dari beras, kelapa, dan gula. "Karena sudah ada sejak dulu, kami ingin melestarikan sekaligus mengembangkan varian baru,” ujarnya.

Menurutnya, pelestarian Ndas Maling tak hanya soal rasa, melainkan juga filosofi. Filosofi yang terkandung adalah mengenyahkan hal-hal buruk dalam hidup, sekaligus mengingat kebaikan yang diwariskan leluhur.

 

Ke depan, ia berharap adanya variasi, pengemasan, dan branding yang lebih baik bisa mengangkat Ndas Maling ke tingkat kota. "Harapannya juga berdampak pada kesejahteraan ekonomi masyarakat," harapnya.

Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang, Eko Yuniarto, menegaskan, kegiatan ini bukan hanya pelestarian budaya. Melainkan juga pemanfaatan pangan lokal.

NDAS MALING : Ndas Maling kembali dikenalkan oleh ibu-ibu PKK se-Kecamatan Genuk dalam ajang cooking class di Halaman Kantor Kecamatan Genuk, Kamis (25/9) pagi.
NDAS MALING : Ndas Maling kembali dikenalkan oleh ibu-ibu PKK se-Kecamatan Genuk dalam ajang cooking class di Halaman Kantor Kecamatan Genuk, Kamis (25/9) pagi.

“Hari ini kita populerkan kembali Ndas Maling dengan inovasi dan rasa baru. Semua bahan berasal dari lokal, dan kami berharap bisa menjadi ikon kuliner Kota Semarang selain ganjel rel,” jelasnya.

Eko menambahkan, dari sisi gizi, Ndas Maling juga memenuhi syarat untuk dijadikan makanan tambahan bagi anak-anak. Apalagi nilai gizinya sudah diukur dan memenuhi nutrisi.

 Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis, Ini Struktur Pelaksananya MBG yang Wajib Diketahui

"Jadi tidak menutup kemungkinan ke depan bisa dikembangkan sebagai PMT (Pemberian Makanan Tambahan) di Kecamatan Genuk," ungkapnya.

Dari dapur sederhana itu, lahirlah harapan besar. Ndas Maling, jajanan tradisi yang dulu hanya untuk syukuran panen, kini bisa naik kelas jadi kebanggaan Kota Semarang. (fgr)

Editor : Baskoro Septiadi
#Genuk #tradisional #cooking class #ingatan #Ndas Maling #jajanan