Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Cerita Pemancing Asal Semarang yang Selamat setelah Dihantam Ombak di DAM Pelabuan Tanjung Emas, Sempat Terombang-ambing di Lautan

Muhammad Hariyanto • Rabu, 20 Agustus 2025 | 22:39 WIB
Petugas mengevakuasi pemancing yang tenggelam di perairan Semarang. (Nurchamim/Jawa Pos radar Semarang)
Petugas mengevakuasi pemancing yang tenggelam di perairan Semarang. (Nurchamim/Jawa Pos radar Semarang)

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Andi Kurniawan, 45, warga Tegalsari Perbalan Semarang ini merupakan salah satu korban selamat dalam peristiwa pemancing tenggelam dihantam ombak di DAM merah kawasan pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Selasa (19/8/2025).

Namun, pria yang akrab disapa Andi ini sempat terjebur ke dalam laut setelah tangan terlepas dari genggaman besi lantaran tidak kuat menahan hempasan gelombang besar akibat cuaca badai disertai anging kencang, sekitar pukul 10.30.

"Alhamdulillah saya masih bisa terselamatkan. Saya sempat terjebur ke laut, karena ombaknya besar, tingginya sekitaran dua meteran," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (20/8/2025).

Andi membeberkan, berangkat dari rumah menuju Tambaklorok mengendarai sepeda motor sembari membawa alat pancing dan tas selempang kecil. Sampai lokasi Tambaklorok sekitar pukul 07.00.

Namum sampai lokasi, Tambaklorok sudah ketinggalan dengan rekannya yang berangkat duluan menuju DAM diantar Singgik menggunakan perahu.

"Terus saya diantar, bayar Rp 20 ribu, sudah langganan. Sampai di DAM, saya mancing ditempat yang paling ujung," jelasnya.

Awalnya, cuaca masih seperti biasa. Kondisi ketinggian air di DAM masih rendah. Sedangkan rekan-rekannya pemancing yang lain, juga berada di deretan DAM.

Namun menurut Andi, cuaca berubah sekitar pukul 09.30. Awalnya, para pemancing belum terlalu khawatir.

Namun lama-kelamaan Andi merawat gelisah lantaran langit diselimuti mendung hitam pekat.

"Waktu itu sudah pada cemas, cuman belum ada penjemputan. Kurang lebih hampir pukul 11.00 badai datang," jelasnya.

Sedangkan beberapa rekannya yang mancing di dekat tower, langsung memanjat naik menyelamatkan diri. Andi yang telah menggunakan pelampung belum berhasil menuju ke tempat aman.

Andi telah berupaya pegangan erat dengan benda seadanya yang berada di dekatnya. Sedangkan lima rekannya sudah terjebur ke laut karena tak berhasil menyelamatkan diri.

"Saya masih bisa pegangan, diatas DAM. Tapi ombaknya besar, saya juga sudah pakai pelampung, sudah persiapan bawa dari rumah," jelasnya.

Singgik, pengantar perahu sempat datang untuk melakukan penjemputan. Namun tak bisa mendekat ke lokasi DAM lantaran gelombang besar dan terkena pantulan hempasan gelombang yang menghantam tembok DAM.

"Perahu mau merapat ke DAM kesusahan, malah menjauh, menjauh ketengah, karena ombaknya besar. Saya juga gak bisa, hanya lempar-lempar pancing. Perahu kembali ke daratan," jelasnya.

Perahu tersebut kembali ke daratan Tambaklorok lantaran mengalami kerusakan. Namun, Singgik kembali lagi menuju DAM menggunakan perahu lain, agak kecil.

Sedangkan Andi, lama-kelamaan tangannya tidak mampu menahan hempasan gelombang hingga akhirnya jatuh terjebur ke tengah laut. Hampir kurang lebih 30 menit, Andi terombang-ambing gelombang di tengah laut.

"Saya teriak-teriak minta tolong. Pas perahu datang juga teriak tapi dia (Singgik) tidak tau. Dia taunya dikasih tau sama yang manjat di tower. Karena kalau dari atas kan kelihatan," bebernya.

"Satu orang diatas yang manjat teriak-teriak, ngasih tau sambil nunjuk-nunjuk. Kemudian saya ditolong pemilik perahu, dilempar pakai ban," jelasnya.

Menurutnya, selama terombang ambing di tengah laut hanya mampu berdoa mendapat pertolongan dan terselamatkan.

Andi juga sempat mengambil sebotol teh hangat yang dipersiapkan sebelumnya dimasukan ke dalam kantong jaket.

"Saya sempat lemas terus minum teh hangat. Kalau tas selempang saya buang semua, karena melilit leher saya. Cuman, saya ambil kunci motor tak masukin ke kantong celana, malah ikut hilang," ujarnya.

Sedangkan lima orang lainnya yang juga terjebur tak nampak kelihatan. Setelah berhasil diselamatkan, Andi langsung dibawa ke daratan terlebih dahulu untuk dilakukan penanganan. Meskipun kondisinya sadar, namun badan terasa kedinginan.

"Sampai daratan saya dikasih sarung sama jaket, untuk kemulan. Enggak apa-apa, cuma telinga kemasukan air laut," katanya.

Kemudian, Singgik kembali ke DAM mengajak nelayan lainnya untuk menyelamatkan para pemancing yang masih bertahan di atas tower. Setelah itu, Andi tak mengetahui kejadian yang selanjutnya.

Namun, perahu tersebut kembali membawa dua jenazah. Termasuk rekannya-rekannya yang lain dan kondisinya terselamatkan diatas tower berhasil dievakuasi ke daratan.

Selanjutnya, mereka yang terselamatkan dimintai keterangan pihak kepolisian Polsek Semarang Utara. 

 

Kesaksian sama juga diungkapkan korban selamat Panijan, mengaku awalnya cuaca dalam keadaan baik saat mancing bersama rekannya di deretan DAM merah. Namun, kondisi cuaca berubah hingga akhirnya terjadi peristiwa tragis ini.

"Awalnya ombak tenang dan cuaca cerah. Tiba-tiba langit gelap, angin kencang, ditambah gelombang tinggi, sama hujan deras," jelasnya.

Panijan mengaku, selamat dalam kejadian ini lantaran berdiri di DAM dekat tiang lampu. Posisi ini lebih tinggi dibandingkan DAM merah yang berada di bawahnya.

"Saya menyelamatkan diri ke tiang lampu. Yang bawah saya di DAM merah kesapu gelombang, tukang perahu lalu menjemput mereka, tujuh selamat lima tenggelam," katanya.

Sebelumnya diberitakan, 12 pemancing di DAM merah kawasan sekitaran Pelabuhan Tanjung Mas Semarang tersapu gelombang, Selasa (19/8/2025) siang. Kejadian tersebut dua orang meninggal ditemukan di perairan sekitaran lokasi DAM. (mha)

Editor : Baskoro Septiadi
#tanjung emas semarang #Pemancing #diterjang ombak