Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Musim Kemarau Kenapa Masih Sering Hujan? BMKG Beri Penjelasan Begini

Figur Ronggo Wassalim • Rabu, 20 Agustus 2025 | 19:14 WIB

 

Prakirawan BMKG Ahmad Yani, Gempita Icky Dzikrillah saat ditemui, Rabu (20/8).
Prakirawan BMKG Ahmad Yani, Gempita Icky Dzikrillah saat ditemui, Rabu (20/8).

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Kemarau bukan berarti langit selalu biru tanpa hujan. Beberapa hari terakhir, masyarakat Jawa Tengah justru dibuat heran dengan guyuran hujan deras yang turun nyaris setiap sore hingga malam.

Angin kencang pun kerap menyertainya, membuat suasana lebih mirip musim penghujan.

 Baca Juga: Awan Kumulonimbus Picu Hujan Angin dan Gelombang Tinggi di Laut Jawa, BMKG Ingatkan Nelayan Waspada

Prakirawan BMKG Ahmad Yani, Gempita Icky Dzikrillah, menjelaskan, fenomena ini bukan hal aneh.

“Saat musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Ada faktor-faktor atmosfer yang bisa memicu hujan,” terangnya saat ditemui, Rabu (20/8).

Menurutnya, ada tiga faktor utama yang membuat hujan deras belakangan ini. Pertama, suhu muka laut di sekitar Jawa masih hangat sehingga energi penguapan tinggi dan awan hujan lebih mudah terbentuk. 

 Baca Juga: Viral! Geger Pecahan Uang Baru Rp 250 Ribu Untuk Tahun Edar 2025, Begini Penjelasan BI

Kedua, adanya pertemuan massa udara di wilayah utara Jawa Tengah yang memperbesar peluang pembentukan awan.

Dan yang ketiga adalah fenomena skala regional bernama Madden Julian Oscillation (MJO).

“MJO ini ketika aktif di sekitar Indonesia, dia menambah pasokan hujan. Kemarin posisinya ada di sekitar Jawa, jadi dampaknya hujannya hampir merata dari Jawa Barat sampai Jawa Timur. Intensitasnya pun cukup tinggi dan durasinya lama,” jelasnya.

BMKG mencatat, curah hujan kemarin sempat mencapai kategori lebat di sejumlah titik, terutama di dataran tinggi.

Meski begitu, fenomena ini diprediksi mulai mereda secara bertahap. 

“Sampai tanggal 21–23 Agustus masih ada potensi hujan. Namun kecenderungannya menurun,” kata pria yang akrab disapa Icky.

 Baca Juga: Kronologi 4 Pemancing Tewas setelah Dihantam Gelombang Tinggi di DAM Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, 1 Orang Masih Hilang

Ia menambahkan, hujan paling sering turun pada siang hingga sore hari, kadang berlanjut sampai malam.

Karena itu, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan diminta tetap waspada.

Selain hujan, angin kencang juga menjadi catatan. Icky mengimbau warga agar tidak berteduh di bawah pohon rindang, terutama yang sudah tua.

“Risikonya bisa tumbang ketika ada angin kencang. Cari tempat yang lebih aman,” pesannya. 

 Baca Juga: Kejari Kota Semarang Eksekusi Buron Kasus Narkotika, 14 Tahun Baru Ditemukan

Ia juga mengingatkan pengendara motor menyiapkan jas hujan dan berhati-hati saat jalan licin. Sementara pejalan kaki lebih baik membawa payung. 

“Yang penting tetap tenang, jangan panik. Update informasi cuaca dari BMKG atau instansi terkait agar tidak terjebak kondisi ekstrem,” imbuhnya.

Secara klimatologi, Agustus seharusnya puncak musim kemarau.

Namun, anomali suhu muka laut yang masih hangat hingga akhir tahun membuat potensi hujan tetap ada. 

“Karena laut hangat, energi penguapan terus tersedia. Ditambah ada gangguan atmosfer seperti MJO, jadinya hujan deras bisa terjadi meski kita masih di musim kemarau,” paparnya. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa musim kemarau di Indonesia tidak berarti kering total.

“Yang jelas, tetap siaga dan jangan lengah. Cuaca bisa berubah cepat,” pesannya. (fgr)

Editor : Baskoro Septiadi
#MUSIM KEMARAU #JAWA TENGAH #BMKG #KEMARAU #guyuran hujan