RADARSEMARANG.ID, Semarang – Meski kalender musim masih menunjukkan puncak kemarau, sebagian wilayah Jawa Tengah justru diguyur hujan pada Agustus ini.
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Ahmad Yani Semarang, Giyarto, menjelaskan fenomena ini sudah diprediksi sejak 2–3 bulan lalu.
“Normalnya kemarau berlangsung dari Mei, Juni, Juli, sampai Agustus. Namun tahun ini kemarau lebih pendek. Agustus tetap kemarau secara umum, tapi akan ada hujan dengan frekuensi lebih sering,” terangnya, Selasa (12/8) pagi.
Secara klimatologis, hujan di bulan kemarau ini bisa muncul dengan pola tiga hari sekali, lima hari sekali, atau bahkan setiap hari namun di lokasi berbeda. Pola ini dipicu oleh kombinasi faktor global dan lokal.
Pertama, efek La Nina meski dalam kategori lemah hingga sedang tetap memberi pengaruh signifikan.
Kedua, suhu muka laut di perairan utara dan selatan Jawa masih hangat sehingga proses penguapan tinggi dan memicu pembentukan awan hujan.
“Kondisi atmosfer ini membuat ciri-ciri Agustus tahun ini tidak seperti kemarau biasanya,” tambahnya.
Meski belum memastikan awal musim hujan, karena merupakan ranah klimatologi. Giyarto memperkirakan kondisi basah ini akan berlanjut mendekati September.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem seperti petir dan angin kencang di tengah suhu panas yang tiba-tiba diselingi hujan.
“Jaga kesehatan karena perubahan cuaca bisa menurunkan daya tahan tubuh. Waspadai pula penyakit pancaroba dan percepatan pertumbuhan nyamuk,” pesannya. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi