Hasil ekspedisi tersebut menemukan adanya potensi sesar aktif di wilayah Semarang dan sekitarnya.
BRIN sendiri masih akan melakukan penelitian lanjutan, terkait potensi bencana yang bisa saja terjadi.
Menurut informasi yang dihimpun, BRIN melakukan ekspedisi dilakukan menyusui tiga zona utama, di antaranya Zona Timur (Demak), Zona Kota (Semarang), dan Zona Barat (Kendal).
Diketahui dari penelitian yang ada, sesar paling panjang dari patahan tersebut berada di utara Semarang, bahkan lebih panjang dari Sesar Lembang.
Hal itu pun menandakan potensi gempa yang bisa lebih kuat.
Sesar aktif yang ditemukan di Semarang dan sekitarnya menyimpan informasi penting terkait potensi gempa bumi.
Dengan dokumentasi dan pemetaan akurat, yang dilakukan BRIN, hasil riset ini dapat menjadi dasar ilmiah untuk mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, dan edukasi masyarakat terhadap risiko geologi yang tersembunyi.
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P Martanto saat dihubungi, mengaku belum mengetahui hasil penelitian dari BRIN, terkait adanya sesar aktif di Ibu Kota Jateng.
"Kita belum tahu terkait adanya sesar aktif dari BRIN," katanya saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (6/8).
Endro menuturkan, kemungkinan sesar yang diteliti oleh BRIN adalah patahan yang memang ada di Semarang, yakni di wilayah Bendan, Trangkil dan sekitarnya.
"Mungkin patahan ya, sudah sejak lama di Bendan, Trangkil dan Sadeng memang ada," jelasnya.
Baca Juga: Diduga Gangguan Rem, Mobilio Alami Kecelakaan Tunggal di Salatiga
Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BPBD Kota Semarang, Riyanto menjelaskan kemungkinan sesar yang diteliti oleh BRIN adalah sesar Kendeng yang ada sejak lama.
"Kalau patahan ini sudah lama, BPBD punya peta sesar Kendeng, kemungkinan ini sama. Tapi kita belum mengetahui temuan dari BRIN," bebernya.
Sesar ini, kata dia, jika menurut peta yang ada memang membelah Kota Semarang, mulai dari Timur yakni daerah Mranggen, serta ke sampai Kendal.
Disinggung kemungkinan adanya potensi bencana, Riyanto belum bisa berkomentar banyak.
"Ini dari Mranggen Timur, kemudian masuk Ke Tembalang, Tinjomoyo, Trangkil, Sadeng, Baban Kerep dan Sukorejo," tambah dia.
Sementara itu, Kepala BRIDA Kota Semarang, Bagus Irawan mengaku akan berkoordinasi dengan BRIN terkait adanya penelitian sesar aktif yang ada di Kota Lunpia.
Bagus mengaku, perlu ada kajian lebih dalam dengan BRIN sejauh mana ancaman sesar aktif yang dideteksi oleh BRIN.
"Itu perlu kami kaji dan dalami dulu sejauh mana ancaman sesar yg dideteksi BRIN, kalau memang diperlukan tindakan antisipasi pasti akan ditindaklanjuti oleh OPD teknis," pungkasnya dia. (den)
Editor : Baskoro Septiadi