RADARSEMARANG.ID, Semarang – Warga bersama petugas berseragam bahu membahu membersihkan Kawasan Tambaklorok, Kelurahan Tanjung Mas, Semarang Utara Jumat (4/7).
Mereka tak sedang menggelar kerja bakti biasa. Mereka sedang membersihakan pulau sampah di wilayah tersebut.
Selama bertahun-tahun, kawasan pesisir Tambaklorok menjadi tempat terakhir sampah-sampah dari rumah tangga hingga limbah pasar bermuara.
Tambak yang mestinya jadi berkah, berubah menjadi tempat buangan, bahkan nyaris menyerupai daratan buatan dari tumpukan plastik dan limbah lainnya.
Namun pagi itu, semua berbeda. Ada hampir 100 orang terlibat. Mereka disebar di tiga titik, RW 12, RW 13 dan RW 16.
"RW 13 ini jadi salah satu fokus,” ujar Lurah Tanjung Mas, Sony Yudha Putra Pradana, sambil menunjuk ke arah tumpukan sampah yang diangkut ke truk.
Baca Juga: Ini Jenis Mobil yang Dibawa Diogo Jota saat Kecelakaan, Spek dan Harganya Bikin Melongo
Tak tanggung-tanggung, truk dari DPU Kota Semarang dan DLH Kota Semarang dikerahkan. Perahu dari BPBD pun turun tangan.
Dua kendaraan roda tiga dari kecamatan ikut mondar-mandir mengangkut sampah. Pagi itu, tambak yang biasanya tenang riuh oleh semangat bersih-bersih.
“Ini enggak bisa selesai sehari. Tapi setidaknya kami mulai. Dan harapannya, ini berlanjut,” tambah Sony, optimistis.
Di balik aksi bersih-bersih ini, ada tekad untuk mengubah wajah Tambaklorok. Tak hanya soal mengangkut sampah, tapi membongkar budaya buang sampah sembarangan.
Pemerintah Kelurahan dan Kecamatan Semarang Utara telah menyusun sistem pengelolaan sampah bersama warga.
Mulai dari pengumpulan, pemilahan, hingga wacana pembangunan TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
“Sudah ada kesepakatan warga. Dari rumah ke tong, dari tong ke TPS RW 16. Nanti logistiknya diatur, dan kita tambah CCTV untuk pengawasan,” terang Sekretaris Camat Semarang Utara, Dilinov Kamarullah menambahkan.
Dilinov bahkan menyebut program ini sejalan dengan gerakan “Semut Melampah” atau Semarang Utara Melakukan Pilah Sampah, sebuah jargon camat untuk menumbuhkan kebiasaan bersih lewat langkah-langkah kecil namun konsisten.
Sementara itu, di sela kerumunan warga dan petugas, sesosok perempuan menyapa hangat. Dialah Krisseptiana, anggota DPRD Jateng yang ikut turun ke lokasi. Ia menilai pembersihan ini penting, tapi lebih penting lagi adalah perubahan pola pikir.
Baca Juga: Bersih-bersih Kebun Cabai, Warga Getasan Temukan Granat
“Yang paling susah itu bukan bersih-bersihnya, tapi membenahi mindset warga. Tapi saya optimis. Apalagi ada anggaran Rp 25 juta per RT dari kota, bisa digunakan untuk program kebersihan,” ujarnya.
Langkah kecil ini, menurutnya, akan menular. Dari RT ke RT, dari kampung ke kampung.
Tambaklorok bukan hanya cerita tentang kumuh dan sampah. Ia juga bisa jadi contoh tentang bagaimana warga dan pemerintah berkolaborasi.
Bukan lewat program seremonial, tapi lewat kerja nyata. Bersihkan sampah, tanam kesadaran.
Di satu sudut, anak-anak bermain sambil menonton truk yang pergi membawa gunungan sampah.
Di mata mereka, mungkin tak ada yang istimewa. Tapi bagi orang dewasa yang tahu cerita di baliknya, pagi itu adalah permulaan.
Permulaan untuk mengembalikan marwah Tambaklorok, yakni dari kampung nelayan. Kembali jadi kawasan yang layak ditinggali. Bersih, sehat, dan membanggakan. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi