RADARSEMARANG.ID, Semarang – Sebanyak 1447 obor menyala bersamaan, diiringi lantunan azan yang menggema dari Masjid Roudlotul Muttaqin Bandarharjo Semarang Kamis (26/6) malam.
Ribuan warga tumpah ruah memadati Jalan Lodan Raya, menyambut 1 Muharram 1447 Hijriah dengan penuh khidmat.
Suasana hangat dan guyub terpancar dari wajah-wajah mereka yang antusias mengikuti kirab obor.
Baca Juga: Mengungkap Tradisi dan Makna Doa Minum Susu 1 Muharram, Lengkap dengan Bacaan Arab Latin dan Artinya
Tradisi ini bukan sekadar pawai, tapi cerminan kekuatan gotong royong dan rasa cinta pada nilai-nilai Islam yang tumbuh dari akar rumput.
Sejak empat tahun lalu, warga RW 2 Bandarharjo menggagas kegiatan ini sebagai bentuk perayaan pergantian tahun baru Islam yang tak hanya simbolik, tapi juga spiritual.
“Ini momentum untuk memperkuat nilai-nilai religius dan kebersamaan,” ujar Camat Semarang Utara, Siwi Wahyuningsih, usai menyalakan obor pertama yang jadi tanda kirab dimulai.
Ia bersama Lurah Bandarharjo, Sayoko, dan tokoh masyarakat lain berjalan di barisan terdepan.
Rute kirab pun menyusuri kampung-kampung padat penduduk, menyentuh jalan utama seperti Arteri Yos Sudarso, dan berakhir di Makam Raden Purwadi Kusumo Maulani, sosok yang diyakini punya pengaruh besar dalam sejarah keislaman kawasan itu.
Obor-obor yang menyala bukan hanya simbol cahaya, tapi juga simbol harapan. Tahun ini, jumlah obor disesuaikan dengan angka tahun hijriah: 1447 batang.
“Bukan cuma menyambut tahun baru, ini juga bagian dari rangkaian menuju haul Mbah Purwadi Kusumo Maulani besok pagi,” ujar Sayoko.
Tak hanya RW 2, semua warga dari RW 1 hingga RW 12 diundang turut serta. Jalan kampung mendadak jadi arena budaya.
Anak-anak membawa obor kecil, remaja dengan pakaian adat, dan para orang tua berjalan pelan penuh doa.
“Siapa saja boleh ikut. Ini sudah jadi milik bersama warga Bandarharjo,” tambah Sayoko.
Baca Juga: Menikah di Bulan Muharam Suro 2025 Dilarang? Ini Sebabnya
Ketua panitia yang juga Takmir Masjid Roudlotul Muttaqin, Mualim, menyebut kirab obor sebagai media perekat ukhuwah islamiyah.
"Empat tahun terakhir kami gelar kirab ini. Sementara haul Mbah Purwadi sudah berjalan lebih dari 15 tahun," katanya.
Menurutnya, lewat kegiatan ini warga tak hanya menyambut tahun baru, tetapi juga diajak untuk merenung dan berdoa bersama.
Dari doa akhir tahun ke awal tahun, semua diisi harapan: semoga tahun ini membawa berkah, kesehatan, dan kedamaian.
“Kirab ini bukan hanya urusan seremonial. Ini cara kita menyatukan masyarakat yang sempat berbeda pandangan soal makam wali di sini,” jelas Mualim.
Kini, setelah ada silsilah yang bisa ditelusuri, keberadaan makam Raden Purwadi pun makin diakui.
“Siapa pun bisa membaca sejarahnya sekarang. Itu penting agar kita tidak terpecah oleh kabar simpang siur,” imbuhnya.
Baca Juga: Deretan Peristiwa Penting di Bulan Muharam Suro 2025 yang Jarang Orang Tahu
Yang menarik, seluruh pembiayaan kegiatan ini murni dari swadaya warga. Tidak ada sponsor besar, tidak ada panggung megah.
Hanya semangat warga yang menyala seperti obor yang mereka bawa sederhana, tapi menghangatkan.
Tradisi kirab obor di Bandarharjo ini pelan tapi pasti menjelma jadi ikon budaya tahunan.
Di tengah hiruk pikuk kota, masih ada ruang bagi masyarakat untuk menjaga jati diri, merawat tradisi, dan menyalakan cahaya kebersamaan.
Karena di balik obor yang menyala malam itu, ada doa-doa yang terbang ke langit dan harapan yang menyatu dalam langkah kaki ribuan warga. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi