RADARSEMARANG.ID, Semarang - Kasus dugaan piagam marching band palsu di PPDB SMPN 1 Semarang terus bergulir.
Orang tua siswa SMPN 1 Semarang bahkan akan membawa masalah tersebut ke PTUN.
Indah, salah satu orang tua siswa mengatakan, baru mengetahui piagam yang digunakan untuk mendaftar PPDB ini bermasalah pada hari terakhir pelaksanaan PPDB.
Dari informasi yang ada status dari piagam ini ada yang mempermasalahkan.
"Saat verifikasi tidak bisa diganti, nama anak-anak juga masih ada dalam PPDB. Tapi ada beberapa orang tua yang akan mendaftar ulang, tidak bisa," tambah dia.
Penganuliran 69 anak ini sendiri dilakukan secara offline oleh Disdikbud. Akhirnya siswa banyak yang terlempar.
Pihak orang tua sendiri tidak menyangka jika piagam yang digunakan ternyata bermasalah.
"Harusnya kalau online tidak bisa bisa dilakukan secara offline, kondisi anak tentu shock. Bahkan mereka mendapatkan bullyan dan hinaan, mental mereka jatuh. Padahal mereka berjuang latihan pagi sampai malam," keluhnya.
Orang tua siswa sendiri menerima piagam dari sekolah pada 11 Juni, dalam bentuk legalisir dari pihak sekolah.
Sementara piagam Marching Band di event internasional yang diikuti secara offline yang diselenggarakan Malaysia, dimiliki sekolah. Anehnya lagi, prestasi para siswa ini juga diposting di sosial media sekolah.
"Kita tidak ragu menggunakan karena ada legalisir dari sekolah, juga ada Dinas Pendidikan Kota yang mengetahui," tambah dia
Orang tua siswa, kata dia, sempat berkomunikasi dengan Suroso, pelatih Marching Band terakhir bisa diajak komunikasi pada 27 Juni lalu.
Orang tua siswa pun sempat komplain, atas kasus dugaan piagam palsu. Sampai sekarang Suroso tidak diketahui dimana keberadaannya.
"Disporapar Jateng, bilang kalau pelatih mengakui sebenarnya tim dari SMP N 1 itu juara 3, tapi di piagam ditulis juara 1. Katanya Suroso, sengaja melakukan itu," katanya.
Adapun masalah ini, menurut Indah bukan kesalahan dari anak-anak ataupun orang tua siswa. Melainkan kesalahan Suroso.
Pihaknya meminta agar pemerintah bisa memulihkan nama baik anak-anak yang saat ini terkena sanksi sosial dari masyarakat.
Suroso si pelatih Marching Band sendiri, selain mengajar di SMP N 1 Semarang, juga mengajar di SDN Ngaliyan 1. Bahkan ada informasi dia juga mengajar di Akpol.
"Proses berjalan nanti akan ketahuan kok pelatih yang salah.. Kami ada rencana menggugat karena ini cacat hukum," ujarnya.
Disinggung terkait rencana Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu yang akan memfasilitasi siswa di sekolah swasta, Indah memberikan apresiasi atas langkah Pemkot Semarang. Menurutnya, tidak semua orang tua siswa berasal dari keluarga yang mampu.
"Tapi tujuan kami adalah ingin memperoleh keadilan, misal kita mau dibantu tentu kami berterima kasih," pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Disdik Kota Semarang, Bambang Pramusinto, menejelaskan jika pihaknya akan memberikan akses pendidikan untuk siswa SMPN 1 Semarang ini sesuai arahan Wali Kota. Apalagi para siswa ini merupakan siswa berprestasi.
“Kita akan kumpulkan orang tua siswa dalam waktu dekat, nanti yang kurang mampu akan kita fasilitasi di sekolah swasta,” ujarnya.
Untuk pelatih yang dinilai bermasalah dan merugikan, menurutnya sudah ranah dari pihak yang berwajib. Pihaknya mengaku akan fokus melayani siswa yang sampai saat ini belum mendapatkan sekolah.
“Bu Wali berkomitmen mengurangi angka anak putus sekolah, insy Allah akan kita bantu apalagi mereka adalah warga Semarang,” katanya.
Terkait kekecewaan siswa yang dianulir, menurut Bambang adalah hal yang wajar karena sebelumnya anak-anak tentu mengidolakan sekolah tertentu yang sudah diimpikan, namun harus terimbas persoalan yang akhirnya membuat mereka kecewa.
“Pemkot punya program gerbang harapan, nanti yang tidak mampu akan kita bantu sebagai anak asuh. Intinya kami tidak akan diam, dan siap membantu siswa SMPN 1,” pungkasnya. (den/bas)
Editor : Baskoro Septiadi