Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Mengulik Sosok Mahesa Jenar, Karakter Ksatria Jawa yang Dijadikan Julukan Bagi Tim PSIS Semarang

Aby Genta Putra Prasetya • Minggu, 26 Mei 2024 | 23:19 WIB
Sosok Mahesa Jenar, Karakter Ksatria Jawa yang Dijadikan Julukan Bagi Tim PSIS Semarang
Sosok Mahesa Jenar, Karakter Ksatria Jawa yang Dijadikan Julukan Bagi Tim PSIS Semarang

RADARSEMARANG.ID - Klub sepakbola kebanggaan warga Semarang, PSIS merupakan klub profesional yang sekarang bertanding dalam kompetisi terbesar di Indonesia yakni Liga Satu Indonesia.

Menjadi salah satu wakil yang membawa nama Jawa Tengah dalam liga terbesar di Indonesia, klub ini bersama dengan Persis Solo mengarungi Liga Satu dan secara kompetitif memperebutkan titel juara dari berbagai klub kota lainnya.

Klub ini terkenal dengan julukan Mahesa Jenar yang disematkan serta menjadi ciri khas dan sudah melekat sejak lama dari klub yang lahir pada tahun 1932 tersebut.

Meski familiar dengan julukan Mahesa Jenar, namun banyak pihak yang masih belum mengetahui secara jelas siapakah sosok Mahesa Jenar yang menjadi maskot dari klub PSIS Semarang.

Sosok Mahesa Jenar

Terkenal dengan penampilannya yang memakai blangkon khas Jawa, karakter ini merupakan karakter fiksi dalam sebuah kisah karya S. H Mintardja bernama Nagasasra dan Sabukinten.

Dikisahkan bahwa Mahesa Jenar merupakan sosok mantan prajurit dari Kesultanan Demak yang bertugas untuk mencari dan menemukan pusaka kerajaan bernama Nagasasra dan Sabukinten.

Memiliki nama asli Rangga Tohjaya, ia mendapatkan gelar Mahesa Jenar saat ia menjadi salah satu prajurit pilihan di Kesultanan Demak.

Mahesa Jenar merupakan karakter yang diceritakan lahir dan besar di Kadipaten Pandan Arang, yang kemudian sekarang lebih dikenal dengan nama Semarang.

Ia merupakan murid dari Ki Ageng Pengging Sepuh, putra dari Prabu Brawijaya kelima. Bersama dengan Ki Kebo Kenanga, Mahesa Jenar berlatih memperdalam ilmunya dalam perguruan milik Ki Ageng Pengging Sepuh.

Dalam kisah ini, Mahesa Jenar juga bersinggungan dengan beberapa tokoh asli yang ada dalam sejarah Jawa seperti: Sultan Trenggana, Joko Tingkir, dan Panjawi.

Dalam perjalanannya, Mahesa Jenar juga dikenal dengan nama 'Manahan', saat ia melarikan diri dari kejaran Laskar Banyubiru dalam upaya menyelamatkan Arya Saloka, anak dari Ki Ageng Gajah Sora.

Baca Juga: Kisah Gunung Ungaran Sebagai Kerangkeng Sekaligus Petilasan Prabu Dasamuka yang Dijaga Hanoman

Mahesa Jenar merupakan salah satu prajurit yang paling dihormati di Kesultanan Demak, ia termasuk salah satu yang memiliki pengaruh bahkan hingga diakui oleh Sultan Trenggana.

Naas, kematian Ki Kebo Kenanga dan kasus hilangnya dua pusaka kerajaan yakni Nagasasra dan Sabukinten menjadikan ia dicurigai oleh Kesultanan Demak.

Untuk membuktikan dan membersihkan namanya, ia kemudian mengundurkan diri dari jabatan yang ia miliki dan memulai perantauan dalam rangka mencari kedua pusaka tersebut.

Kesaktian Mahesa Jenar

Mahesa Jenar dikenal sebagai tokoh yang ahli dalam dunia persilatan, berkat bimbingan Ki Kebo Kanigara yang memberikannya Ilmu Sasra Birawa milik perguruan Pengging.

Namun bukan hanya itu, ia terus menggembleng kemampuan hingga diatas rata-rata para pendekar, sehingga ia pun disebut sebagai titisan dari Almarhum Pangeran Handayaningrat.

Gerakan bertarungnya juga disempurnakan oleh sifatnya yang sering mengamati lawannya saat bertarung, sehingga ia bisa menerka apa yang akan dilakukan lawannya selanjutnya.

Walaupun Mahesa Jenar merupakan pribadi yang tangguh, namun dikisahkan bahwa ia juga orang yang canggung dan kurang bisa menyelami perasaan wanita-wanita yang pernah hadir dalam hidupnya.

Hal ini diperlihatkan dalam sebuah momen di hidupnya saat Mahesa Jenar bertemu dengan Nyai Wirasaba, kecanggungan dan rasa kaku ini bahkan secara lebih detail diceritakan saat ia harus menolong seorang gadis cantik bernama Rara Wilis dari penjahat bernama Jaka Soka dan Lawa Ijo di Hutan Tambak Baya.

Melalui pertarungan sengit dan berdarah-darah dan hampir tewas oleh serangan pusaka Lawa Ijo, Mahesa Jenar baru menyadari bahwa ia menaruh rasa cinta pada Rara Wilis.

Kendati demikian, walaupun cintanya berbalas namun Mahesa Jenar tetap meninggalkan Rara Wilis karena tahu ia tidak bisa memberikan apa-apa pada gadis yang dicintainya tersebut.

Entah dilandaskan rasa cemburu atau memang merupakan keinginan hatinya, Mahesa Jenar melakukan hal tersebut karena tahu Demang Sarayuda yang kaya raya juga mencintai dan bisa memberikan lebih kepada Rara Wilis.


Source: Universitas Stekom, Nagasasra Sabukinten

Editor : Baskoro Septiadi
#Mahesa Jenar PSIS Semarang #Sosok Mahesa Jenar #Julukan PSIS Semarang #Karakter Mahesa Jenar #Kisah Mahesa Jenar