RADARSEMARANG.ID, Semarang - Siswa SD Negeri Siwalan menyambut Hari Pendidikan Nasional dan HUT ke-477 Kota Semarang dengan ziarah kepada para perintis Kota Semarang.
Kegiatan itu supaya mereka tertanam kuat rasa cinta tanah air terkhusus kepada kota kelahiran yakni Semarang.
Baca Juga: Perayaan HUT ke-477 Kota Semarang, Ini Jadwal Semarang Night Carnival dan Nobar Timnas U-23
Kepala SD Negeri Siwalan Moechjidien mengungkapkan, kedua momentum hari penting tersebut sengaja dimanfaatkan untuk berziarah ke makam para pahlawan dan Auliya di Kota Semarang.
Tujuannya untuk menenangkan jiwa dan menumbuhkan kebanggaan terhadap Kota Semarang.
"Untuk mencapai itu maka siswa harus mengenal tokoh-tokoh perintis kota Semarang. Mengetahui sejarahnya sehingga mereka ada rasa bangga terhadap para pendiri dan tokoh-tokoh besar yang ada di Semarang," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (1/5).
Beberapa makam auliya yang dikunjungi diantaranya almarhum KH Sholeh Darat di makam Bergota, lalu Ki Ageng Pandanaran di Mugas, dan Bupati Semarang ketiga Surohadi Menggolo di Kaligawe.
Baca Juga: PDIP Undang Pimpinan Parpol Se-Jateng, Saling Bermaafan Usai Bertarung di Pemilu 2024
Saat kegiatan ziarah, siswa tidak hanya diajarkan keagamaan. Namun juga disisipi nilai sejarah seperti KH Sholeh Darat yang merupakan guru RA Kartini. Salah satunya kisah yang menarik adalah terbitnya buku 'Habis Gelap Terbitlah Terang'.
Karya RA Kartini itu merupakan hasil elaborasi dengan rekannya di Belanda yang bersumber dari terjemahan Alquran berbahasa Jawa pertama di Indonesia.
"Setelah bisa membaca sebagai santrinya KH Soleh Darat, RA Kartini tak berpuas diri dan meminta kepada gurunya untuk menerjemahkan Alquran. Karya RA Kartini itu kan terinspirasi dari kata minadzulumati ilannur di dalam Alquran," papar Moechjidien.
Sedangkan, lanjut dia, Ki Ageng Pandanaran menjadi salah satu tokoh cikal bakal Semarang yang menjadi Bupati pertama Semarang. Selain itu juga meneladani sejarah bupati ketiga Surohadi Menggolo di Kaligawe.
"Dengan ziarah ke tokoh-tokoh besar itu maka anak-anak tahu pendiri Semarang beserta jasa-jasanya. Tumbuh nasionalisme dan rasa bangga terhadap kota kelahirannya," pungkasnya. (mia/bas)
Editor : Baskoro Septiadi