Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Seri Sejarah Semarang ! Peradaban Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa Diduga Dimulai dari Semarang. Seperti Apa Kata Arkeolog?

Pratono • Senin, 29 April 2024 | 14:00 WIB
CANDI KUNO : Ekskavasi di reruntuhan Candi Duduhan yang dilakukan pada 2018. (Pratono/Jawa Pos Radar Semarang)
CANDI KUNO : Ekskavasi di reruntuhan Candi Duduhan yang dilakukan pada 2018. (Pratono/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID--Semarang di masa lalu diduga mejadi salah satu pintu masuk peradaban Hindu-Buddha di Jawa Tengah.

Arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Agustijanto Indradjaja sejak 2013 meneliti sejumlah temuan arkeologis di sepanjang wilayah yang membentang dari Batang hingga Demak, salah satunya Semarang.

Di sekitar Semarang, tim Puslit Arkenas dan Lembaga Penelitian Perancis untuk Kajian Timur Jauh atau Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO) melakukan ekskavasi situs Candi Duduhan di Kelurahan Mijen Kecamatan Mijen dan Candi Trisobo di Kelurahan Trisobo Kecamatan Boja Kabupaten Kendal pada 2015 dan 2018 lalu.

Dijelaskan Agus, Mataram Kuno tak lepas dari masuknya peradaban Hindu- Buddha di Jawa.

Meski pusat peradaban kerajaan Mataram Kuno era Jawa Tengah berada di sekitar Magelang, Jogjakarta dan Dieng, tapi diduga penyebaran agama Hindu dan Buddha pertama kali masuk lewat daerah pesisir pantai utara Jawa. “Salah satunya di Semarang,” jelasnya.

Keberadaan Candi Duduhan menjadi tambahan data penting tentang hipotesa penyebaran agama dan kebudayaan Hindu yang masuk ke Jawa Tengah melalui pantai utara Jawa.

“Bangunan candi utama di Duduhan ini lebih besar dari candi-candi di (kompleks) Gedongsongo,” jelasnya.

Agus menjelaskan, pada ekskavasi di Candi Duduhan, tim berhasil menemukan struktur candi utama yang berukuran sekitar 9,3 x 9,3 meter.

Selanjutnya ditemukan tangga masuk candi utama dan struktur 3 candi perwara di bagian depan candi utama. Ukuran candi perwara sekitar 5,4 x 5,4 meter.

“(Struktur Candi Duduhan) mirip model Candi Prambanan. Terdiri atas 1 candi induk dan 3 candi perwara. Juga ada lingga, yoni, dan arca nandi. Pintu masuk candi sudah ketemu, menghadap ke timur,” jelas Agus.

Diperkirakan, candi yang tersusun dari bata merah ini berasal pada masa kerajaan Mataram Kuno periode akhir Jawa Tengah.

Candi Duduhan disusun dari bata. Ukuran bata lebih besar dari ukuran bata yang lazim digunakan masyarakat saat ini.

Bata yang terpendam dalam tanah tersebut berukuran sekitar 36 x 22 x 11 sentimeter atau 3 kali lipat ukuran bata saat ini.

Candi ini diperkirakan dibangun pada sekitar tahun 830 – 850 masehi.

Sebagai perbandingan, candi utama di Gedongsongo, kata Agus, ukuran panjang salah satu sisinya hanya sekitar 7 meter.

Berdasarkan buku “Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP I” yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1996, candi terbesar di Gedongsongo adalah Candi Gedong I dengan ukuran 6,64 x 6,58 meter.

Di sumuran candi juga ditemukan sebuah yoni. Yang menarik, ukuran yoni ini tergolong besar.

Agus mengatakan, ukuran yoni di Candi Duduhan ini mirip dengan yoni di Cangkiran Mijen.

Yoni Cangkiran memiliki ukuran 105 x 105 cm dan tinggi 110 cm. "Ukuran yoni yang besar biasanya juga berada di candi yang berukuran besar. Apalagi ukuran sumurannya juga besar mencapai 2,5 meter," jelasnya.

Biasanya, posisi yoni berada di atas sumuran. Agus menduga, bagian sumuran ini pernah dibongkar orang.

Hal tersebut terlihat dari dinding sumuran bagian utara yang sudah rusak. Bisa jadi pembongkar sebelum ini "memburu" peripih yang biasa diletakkan di dalam sumuran.

"Mungkin setelah dapat yang diinginkan, terus ditimbun lagi. Termasuk yoni dimasukkan ke dalam sumuran," jelas Agustijanto.

Arkeolog dari EFEO, Veronique Degroot, bersama Agus, sejak 2013 meneliti situs-situs era klasik yang tersebar di sepanjang pantai utara Jawa, mulai dari Brebes hingga Rembang.

Survei lapangan awal berbekal foto zaman Belanda, arsip kepustakaan, dan arsip lokal. Ternyata, mereka menemukan situs-situs baru yang belum tercatat.

Dengan melihat lokasinya, Vero memperkirakan, Candi Duduhan dulu berada di kawasan permukiman.

Berdasarkan lokasi penemuan candi perwara, candi induk kemungkinan besar menghadap timur.

Tapi hingga ekskavasi berakhir, tim belum menemukan bagian pagar candi sehingga belum bisa ditentukan seberapa luas area Candi Duduhan tersebut.

Di area Candi Duduhan dulu juga ditemukan arca Ganesha yang sekarang tersimpan di Museum Ranggawarsita. (ton)

 

 

 

Editor : Pratono
#Sejarah Semarang #Museum Ranggawarsita #kerajaan mataram kuno #Candi Gedongsongo #Candi Prambanan #Agustijanto Indradjaja #Veronique Degroot #Kecamatan Mijen #candi duduhan #KOTA SEMARANG