Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Seri Sejarah Semarang ! Diduga Pernah Ada Permukiman Kuno di Mijen, Kota Semarang. Seperti Apa Kata Arkeolog?

Pratono • Minggu, 28 April 2024 | 15:00 WIB
CANDI KUNO : Ekskavasi di reruntuhan Candi Duduhan yang dilakukan pada 2018. (Pratono/Jawa Pos Radar Semarang)
CANDI KUNO : Ekskavasi di reruntuhan Candi Duduhan yang dilakukan pada 2018. (Pratono/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID—Temuan berbagai batuan candi di Kecamatan Mijen, Kota Semarang menarik perhatian sejumlah peneliti.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa wilayah Mijen merupakan daerah yang sudah didiami manusia sejak dulu.  

Arkeolog memperkirakan, wilayah Mijen pada masa lalu sudah menjadi semacam permukiman kuno yang besar.

Berbagai data dan temuan arkeologis memperkuat adanya permukiman di era kerajaan Mataram Kuno pada sekitar abad 8-10 masehi.

Arkeolog asal Semarang Tri Subekso menjelaskan, keberadaan situs Candi Duduhan dan Candi Tempel yang berasal dari masa Jawa Kuno ini menunjukkan adanya permukiman masyarakat kuno di kawasan Mijen.

“Biasanya, karakteristik terdiri dari rumah-rumah penduduk, bangunan suci yang terdiri dari candi dan petirtaan, serta lahan pertanian,” jelas lulusan Magister Arkeologi Universitas Indonesia ini.

Data-data arkeologis ini, lanjutnya, memperkuat bukti tentang sudah adanya wanua-wanua (desa) yang merupakan bagian dari lanskap budaya periode Hindu-Buddha.

“Saya kira, masing-masing keberadaan situs cukup mengindikasikan letak sebaran permukiman kuno tersebut,” tutur lulusan Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) ini.

Ekskavasi terhadap sejumlah reruntuhan candi diharapkan bisa membuka sejarah kawasan Mijen dan sekitarnya pada masa lalu.

Pemerintah Kota Semarang dan Pemerintah Kabupaten Kendal diharapkan bisa ikut membantu penelitian ini dan memelihara kelestarian situs-situs  yang tersebar di wilayah perbatasan kedua daerah ini.

“Situs-situs ini harus dilestarikan dan bisa jadi ajang edukasi untuk masyarakat,” jelas Tri Subekso.

Menurut ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Semarang ini, lokasi Candi Duduhan, Candi Trisobo dan Candi Tempel memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi tempat wisata arkeologi.

Misalnya, dengan membuatkan semacam museum untuk menyimpan temuan-temuan yang ada.

Atau bila memungkinkan, reruntuhan candi tersebut bisa direkonstruksi hingga kembali berdiri.

Pada tahun 2015 dan 2018, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) dan Lembaga Penelitian Perancis untuk Kajian Timur Jauh atau Ecole Francaise d'Extreme-Orient (EFEO) melakukan ekskavasi situs Candi Duduhan.

Struktur kompleks candi yang terdiri dari 1 candi utama dan 3 candi perwara menunjukkan Candi Duduhan dibangun pada masa yang sama dengan Candi Prambanan, pada abad 9 masehi.

Ketua Tim Ekskavasi Candi Duduhan Agustijanto Indradjaja menyatakan, Candi Duduhan menjadi tambahan data penting tentang hipotesa penyebaran agama dan kebudayaan Hindu yang masuk ke Jawa Tengah melalui pantai utara Jawa.

“Bangunan candi utama di Duduhan ini lebih besar dari candi-candi di (kompleks) Gedongsongo,” tutur arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) ini.

Candi utama di Duduhan berukuran 9,3 x 9,3 meter. Sementara candi utama di Gedongsongo berukuran kurang dari 7 meter.

Berdasarkan buku “Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP I” yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1996, candi terbesar di Gedongsongo adalah Candi Gedong I dengan ukuran 6,64 x 6,58 meter.

Sementara 3 candi perwara dekat candi utama di Duduhan memiliki ukuran 5,4 x 5,4 meter.

Adanya altar pemujaan yang sudah dipindahkan warga ke taman tak jauh dari lokasi candi Duduhan, kata Agus, menguatkan perkiraan usia candi.

“Altar pemujaan seperti itu biasanya ada di candi yang dibangun sesudah tahun 850.” (ton)

 

 

 

 

Editor : Pratono
#Sejarah Semarang #tri subekso #Candi Gedongsongo #Candi Prambanan #Agustijanto Indradjaja #Kecamatan Mijen #Boja #candi duduhan #KOTA SEMARANG