RADARSEMARANG.ID—Pemerintah Kota Semarang diharapkan memberikan perhatian lebih pada peninggalan-peninggalan bersejarah.
Selama ini perhatian baru terlihat pada peninggalan-peninggalan masa kolonial.
Padahal sejarah peninggalan budaya Kota Semarang telah ada jauh sebelum masa kolonial.
Arkeolog Tri Subekso mengatakan, peninggalan pada masa klasik di era zaman kerajaan Mataram Kuno banyak ditemukan di wilayah Kota Semarang.
Salah satunya situs Candi Duduhan di Kelurahan Mijen Kecamatan Mijen yang pernah diteliti oleh tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) dan Lembaga Penelitian Perancis untuk Kajian Timur Jauh atau Ecole Francaise d'Extreme-Orient (EFEO).
“Selama ini pemerintah masih banyak berkutat pada peninggalan-peninggalan masa kolonial seperti bangunan-bangunan Belanda di Kota Lama, padahal benda-benda cagar budaya di era klasik juga butuh perhatian,” jelas Tri Subekso yang juga ikut dalam ekskavasi situs Candi Duduhan.
Lulusan Magister Arkeologi Universitas Indonesia yang menyusun tesis terkait peninggalan era klasik di sekitar Gunung Ungaran ini menjelaskan, Candi Duduhan bukan satu-satunya peninggalan situs candi di Kota Semarang.
Masih ada lagi reruntuhan candi di Dusun Tempel, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Mijen yang saat ini terbengkalai.
Kemudian keberadaan yoni berukuran besar di Kelurahan Cangkiran Kecamatan Mijen juga diduga merupakan bagian dari candi besar di wilayah tersebut.
“Mijen merupakan salah satu wilayah yang banyak ditemukan peninggalan-peninggalan kuno era klasik,” jelas Tri Subekso.
Tak jauh dari lokasi situs-situs candi ini, juga ditemukan reruntuhan Candi Trisobo di Desa Trisobo Kecamatan Boja Kabupaten Kendal.
Candi Duduhan, menurut Tri Subekso, merupakan salah satu penemuan penting di Kota Semarang.
Apalagi ukuran candi utama diduga lebih besar dari candi-candi di kompleks Candi Gedongsongo, Kabupaten Semarang.
Ketua Tim Ekskavasi Candi Duduhan Agustijanto Indradjaja menjelaskan, pada ekskavasi di 2018, tim telah menemukan struktur candi utama yang berukuran 9,3 x 9,3 meter dan 3 candi perwara berukuran 5,4 x 5,4 meter.
Sebagai perbandingan, candi terbesar di Gedongsongo adalah Candi Gedong I dengan ukuran 6,64 x 6,58 meter.
Selain itu, di situs Candi Duduhan juga ditemukan sumuran serta yoni yang ukurannya tergolong besar.
Sumuran tercatat berukuran 2,5 x 2,5 meter, seperti yang ada di Candi Prambanan Klaten.
Dan di dasar sumuran terdapat yoni yang ukurannya mencapai sekitar 1 meter. (ton)
Editor : Pratono