Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Komunitas Difabel Semarang Terus Berdayakan Penyandang Disabilitas, Ada Yang Kuliah di Leiden University

Muhammad Iqbal Amar • Minggu, 3 Desember 2023 | 19:18 WIB
Kegiatan sehari-hari pemberdayaan dan keterampilan disabilitas di Roemah Difabel. M IQBAL AMAR/JAWA POS RADAR SEMARANG
Kegiatan sehari-hari pemberdayaan dan keterampilan disabilitas di Roemah Difabel. M IQBAL AMAR/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Tanggal 3 Desember merupakan hari Disabilitas Internasional. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran terhadap berbagai masalah para penyandang disabilitas.  Saat ini penyandang disabilitas mulai mendapatkan tempat dan bisa berprestasi.

Komunitas Sahabat Difabel (KSD) atau Roemah Difabel Semarang menjadi tempat bernaung para penyandang disabilitas. Tempat ini berupaya mengubah disabilitas menjadi sosok terdidik dan berdaya guna.

Mereka diajarkan keterampilan, wirausaha, bekerja, dan bahkan mengantarkan salah satu penyandang disabilitas kuliah ke luar negeri.

Roemah Difabel Semarang berdiri 2014 silam. Diprakarsai empat orang. Salah satunya Noviana Dibyantari Restuwati.

Saat itu mereka berinisiatif mengumpulkan orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus setelah mendapatkan sosialisasi dari Dinas Sosial Kota Semarang.

"Ada Bu Siwi, Bu Lani, dan Budaya Windi. Kami berempat punya komitmen membangun komunitas yang tidak hanya memperjuangkan satu ragam disabilitas saja," ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.

Novi – begitu sapaan akrabnya - menyadari, membangun tempat pemberdayaan difabel tak mudah. Banyak tantangan dan tentu membutuhkan biaya tidak sedikit. 

"Kami berkegiatan, promosi, cari siswa, hingga bikin event. Selain itu juga mendatangi rumah menjemput anak berkebutuhan khusus yang tersebar di Kota Semarang," ujarnya.

Perjuangan itu berlangsung dua tahun agar dapat mengadvokasi disabilitas untuk ikut berbagai kegiatan, pertemuan, dan pelatihan.

Tantangan semakin berat ketika mereka berempat menemui banyak anak berkebutuhan khusus (ABK) yang lulus SMA LB atau SMA YPAC tidak bisa membaca, menulis, dan menghitung (calistung).

"Itu yang membuat kita ingin menyelesaikan masalah itu. Rata-rata mereka disabilitas intelektual, mental, hingga autis," tambahnya.

Seiring waktu berjalan, rekan seperjuangan Novi satu persatu mendirikan komunitas sendiri. Windi mendirikan komunitas anak pintar berkebutuhan khusus gangguan pendengaran. Siwi mendirikan komunitas online autistik, sedangkan Lani mendirikan yayasan autistik sendiri.

"Kita masih berjalan bersama dan bermitra dan tetap mengadvokasi para disabilitas," ujarnya.

Saat ini ada 120 anak disabilitas yang diopeni. Sebanyak 35 di antaranya sudah ditempatkan kerja di perusahaan. Rata-rata mereka difabel fisik dan tunarungu.

Selain itu terdapat anak autis yang sudah diterima bekerja di Bunda Anne Avantie sebagai pencuci piring. 

"Karena orangnya paling suka mainan air. Ketika pekerjaan menumpuk orang normal angkat tangan eh dia masih asik saja menyelesaikan pekerjaannya," ujar Novi.

Selain itu, 25 anak lainnya diajarkan wirausaha dan keterampilan. Mulai penjahit, pelukis, buka toko sembako, dan pulsa. Meski demikian proses pemasarannya masih perlu pendampingan. Sementara 40 anak disabilitas masih belajar di Roemah Difabel. 

"Sementara 20 lainnya difabel berat perlu mengurusi ketika mereka butuh alat bantu atau dirawat ke rumah sakit. Tahun ini ada yang meninggal tiga karena tidak bisa bertahan," akunya.

Novi menambahkan, beberapa anak disabilitas mampu menorehkan prestasi dan pencapaiannya. Yang paling menonjol salah satu disabilitas mampu lolos dan kuliah di Leiden University, Belanda. Ada juga yang juara lomba TIK tingkat nasional. 

Roemah Difabel fokus pada mendidik dan melatih keterampilan anak disabilitas. Novi menjelaskan, awalnya memulai mengasah keterampilan komputer. Namun karena banyak yang tak bisa calistung lalu beralih ke menjahit. 

"Tantangannya kalau difabel intelektual ternyata belajar jahit lurus butuh waktu satu tahun. Hari ini diajari besok lupa begitu terus. Bagi yang sudah mampu jahit lurus bisa ditempatkan di perusahaan Garmen dan Butik Bunda Anne Avantie," akunya.

Anak-anak disabilitas juga diajarkan hidroponik. Kesulitan yang dialami Roemah Difabel ialah beberapa anak disabilitas sulit membedakan akar dan daun.

Bahkan juga merasa jijik terhadap proses penanaman hidroponik. Mereka baru bisa menyesuaikan dalam kurun waktu tiga minggu. "Panen satu minggu sekali sebagian dijual online," tandasnya.

Beberapa bentuk wirausaha lain diantaranya mengembangkan furniture, produksi bandeng presto rempah, angkringan supaya mereka bisa jadi pramusaji, hingga warung sembako.

"Setiap usaha yang dilakukan, anak mendapat uang. Kalau kerja dimana-mana mereka sering ditolak karena IQ memang dibawah rata-rata," jelas Novi.

Saat ini respon masyarakat terhadap kaum disabilitas cukup berbeda. Roemah Difabel dijadikan pusat studi aksesibilitas difabel. Memberikan kesempatan terhadap masyarakat umum untuk belajar dan berinteraksi dengan difabel. 

Anak-anak sekolah yang berkunjung ternyata sebelumnya menganggap anak difabel itu menyeramkan menakutkan.

“Tapi setelah dari sini pandangan mereka berubah bahkan ramah dan suka membantu," terang Novi.

Disisi lain dukungan pemerintah terhadap kaum disabilitas juga terus mengalir. Salah satunya dengan mengutamakan kaum rentan salah satunya disabilitas saat ada Musrenbang. Yakni mengutamakan untuk bicara di depan publik memberikan usulan. 

Meski begitu, Diskriminasi dan bullying terhadap kaum disabilitas masih saja terjadi. Menurut Novi hal itu memang sulit dihilangkan sebab menjadi sebuah kesadaran pribadi dan bagaimana orang tua dalam mendidik anaknya agar menghargai teman-temannya.

"Maka sampai saat ini diupayakan sekolah dan lingkungan ramah anak atau ramah HAM. Memang tidak bisa dihapus sama sekali tapi upaya penyadaran disabilitas itu setara dan berdaya itulah yang ingin kita perjuangkan," pungkasnya.

Salah satu penyandang disabilitas intelektual Nur Fachrozi, 27, telah membuktikan dapat berprestasi di tengah keterbatasannya.

Pemuda asal Pedurungan itu masih ingat betul. Masa kecilnya penuh dengan diskriminasi dan bullying.  "Dulu saya dianggap lamban dalam berpikir dan nilai ujian selalu jelek," ujarnya.

Hingga pada akhirnya ia harus putus sekolah di bangku kelas tiga SD lantaran tidak naik kelas selama tiga kali. Hal itu tentu mengiris hatinya dan keluarga nya. Hingga akhirnya ia harus belajar di SLB. 

"Orang tua saya juga masih percaya kalau saya itu normal seperti anak pada umumnya," kenangnya.

Ia mengetahui Roemah Difabel dan bergabung pada 2020. Sejak saat itu ia konsen menggali potensinya. Ozi, sapaan akrabnya ternyata punya passion di dunia public speaking.

Ia sering tampil menjadi MC kegiatan dan berlatih menjadi pelawak atau komedian. "Idola saya Uus dan Mongol," ungkapnya.

Di Roemah Difabel Ozi terus mengasah kemampuan public speaking. Ia kerap tampil dan memandu acara sebagai master of ceremony (MC).

Hingga pada 2021 silam ia mampu membanggakan dirinya, keluarganya, dan komunitas dengan meraih juara 1 lomba public speaking disabilitas nasional pada kompetisi yang di gelar di Surabaya. (mia/fth)

 

 

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#disabilitas #semarang #DIFABEL