RADARSEMARANG.ID - Kampung Pelangi Semarang atau yang dulu dikenal dengan Kampung Gunung Brintik di Kelurahan Randusari, sempat menjadi magnet wisatawan. Viral pada 2018.
Karena rumah penduduknya berwarna-warni. Tampak ngejreng layaknya warna pelangi. Namun bagaimana kabarnya sekarang?
Kampung Gunung Brintik dulunya kampung kumuh yang tak tertata dengan rimbunan tanaman liar dan tembok-tembok merah tak berplester.
Letaknya persis di pinggir Kali Semarang, dengan kurang lebih 325 rumah. Pada 2018 kampung ini berubah rupa dan berganti nama menjadi Kampung Pelangi yang penuh warna-warni.
Kampung Pelangi ini dibuat untuk mendukung pembangunan ulang pasar bunga kalisari yang berada tak jauh dari lokasi.
Pasar yang sudah bagus, tak menarik jika kampung di belakangnya masih terlihat kumuh. Dari pasar bunga Kalisari ini hanya dibatasi oleh sungai untuk dapat mencapai Kampung Pelangi.
Rumah-rumah di kampung ini dihiasi dengan warna-warni yang cerah dan lukisan mural yang menawan. Selain dinding rumah yang dicat warna-warni, terdapat juga jalan setapak yang dipenuhi dengan lukisan-lukisan artistik.
Pintu-pintu rumah dan bahkan tangga-tangga kecil dicat warna-warni yang menciptakan suasana ceria.
Kampung Pelangi tidak hanya dikenal oleh wisatawan lokal maupun nasional, adanya Kampung Pelangi membuat sejumlah Dubes Negara Uni Eropa merasa penasaran.
Bahkan pada 24 Januari 2018 Dubes Negara Uni Eropa yang dipimpin oleh Vincent Guerend menyempatkan diri untuk mengunjungi Kampung Pelangi.
Baca Juga: Cerita Aksi Heroik Kakek di Semarang Terabas Api untuk Selamatkan Cucu dari Kebakaran Rumah
Tren yang terus berputar membuat Kampung Pelangi perlahan tidak lagi diminati. Munculnya banyak destinasi wisata baru yang dinilai lebih intagramable membuat Kampung Pelangi menjadi sepi pengunjung.
Sepinya wisatawan yang datang akhirnya menjadikan Kampung Pelangi tampak tidak terawat lagi. Cat warna-warni di dinding rumah warga yang mulai pudar mengubah Kampung Pelangi kembali menjadi permukiman biasa.
”Cat dari rumah-rumah di sini sudah dirawat oleh pemilik rumah pribadi, karena tidak menggunakan sponsor lagi,” ucap Refila, salah satu warga Kampung Pelangi.
Cat yang memudar dari Kampung Pelangi merupakan dampak utama yang menyebabkan menurunnya ekonomi kreatif dan wisatawan di Kampung Pelangi. Visualnya tak lagi menarik.
Inisiatif dari masyarakat di Kampung Pelangi untuk melakukan pemeliharaan juga dapat dibilang kurang dikarenakan pemasukan dari Kampung Pelangi itu sendiri juga tidak ada.
Sehingga lama-kelamaan daya tarik utama dari Kampung Pelangi yaitu cat yang warna warni mulai memudar.
”Semenjak pandemi Covid kampung pelangi mengalami kesulitan untuk bangkit. Sehingga masih menunggu bantuan pemerintah untuk dapat membantu pemeliharaan maupun sponsor untuk Kampung Pelangi,” harap Sukaemi, 68, Ketua RW Kampung Pelangi.
Baca Juga: Bagan Jadwal Babak 16 Besar Piala Dunia U-17 2023, Laga Spanyol vs Jepang Jangan Sampai Lewat
Warga berharap Pemkot Semarang kembali memperhatikan Kampung Pelangi agar bisa berwarna seperti lima tahun silam.
”Pemerintah sangat diharapkan untuk membantu membangkitkan dan memperhatikan kembali Kampung Pelangi agar dapat ramai pengunjung,” harap Raharjo, 41, warga lain di Kampung Pelangi.
Kampung Pelangi akan Bangkit
Kampung Pelangi, Kelurahan Randusari, sempat menjadi kampung tematik andalan Kota Semarang.
Namun sayang, kini kondisinya tak lagi indah bak pelangi. Cat rumah mulai memudar, seakan tak terurus.
Upaya Pemkot Semarang membentuk kampung tematik setiap kelurahan muaranya untuk mendongkrak perekonomian warga.
Pemkot Semarang pun berupaya untuk membangkitkan kembali Kampung Pelangi. Mbak Ita mengaku bakal mencari CSR untuk kembali memperindah kembali Kampung Pelangi.
"Mungkin nanti catnya bisa dari CSR, tapi yang menggerakkan tentu harus masyarakat itu sendiri," tandasnya.
Sementara itu, Ketua Forum LPMK Ahmad Fuad, menjelaskan sesuai arahan wali kota, pihaknya akan melakukan program cinta sungai di Kampung Pelangi.
"Nanti kita akan lakukan di Kampung Pelangi, sebagai pemberdayaan masyarakat," tambahnya.
Upaya lain yakni mengganti ketua dan kepengurusan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Kampung Pelangi. Langkah itu dilakukan karena pengurus yang lama cukup lama vakum.
“Ketuanya saat ini Yosep Tri Purowoko, tadinya kan dipegang Pak Slamet atau Ndan Slawi. Saya ganti karena dirasa (yang lama) terlalu vakum. Saya minta tolong untuk diviralkan kembali melalui media sosial,” ujar Lurah Randusari, Fanni Kurniawan.
Mengenai cat yang sudah mengelupas dan kusam, pihaknya telah berkonsultasi dengan Sekda Kota Semarang terkait penganggaran.
Sebelum adanya Pandemi Covid-19, banyak wisatawan yang berkunjung di Kampung Pelangi. Bahkan, ada kunjungan dari gabungan dari berbagai negara. Menjadi kampung wisata, perekonomian warga Gunung Brintik pun menjadi hidup.
Banyak warga yang menjual souvenir. Setiap rumah berdikari sendiri. Seperti pengembangan bunga kertas, dan pengolahan limbah plastik yang bermanfaat.
Seiring waktu berjalan, tingkat kunjungan wisatawan turun. Cat-cat rumah warga juga mulai pudar. Ia berharap Kampung Pelangi tidak mati suri.
"Saya berharap UMKM nya tidak mati suri, yang berpotensinya apa, supaya didorong," jelasnya.
Camat Semarang Selatan, Ronny Tjahjo Nugroho, mengungkapkan Kampung Pelangi masih terpelihara, karena sampai saat ini menjadi destinasi wisata, terutama manca negara.
Seperti 16 November 2023, ada 800 turis dari Eropa dan Amerika yang berkunjung ke Kampung Pelangi."Artinya Kampung Pelangi siap menjadi jujugan," jelasnya.
Potensi seni budaya juga dipersiapkan seperti Tari Gedruk yang khas dari Kampung Pelangi. Selain menyiapkan UMKM. "Termasuk seni merangkai bunga, sehingga ini menjadi ciri khas," jelasnya.
Terkait cat, pihaknya berkoordinasi dengan Disperkim dan Distaru untuk melakukan pembaruan.
"Pintu masuk, dan bantaran sungai sudah sempat dipugar, kami juga berkoordinasi dengan perusahaan terkait CSR untuk pengadaan cat," jelasnya. (mg20/mg21/fgr/zal)
Editor : Baskoro Septiadi